Zohra Andi Basso: Saya ingin hidup 1000 tahun lagi

Senin, 16 Maret 2015 09:45 Reporter : Sri Wiyanti
Zohra Andi Basso: Saya ingin hidup 1000 tahun lagi Zohra Andi Baso. ©Facebook

Merdeka.com - Indonesia kembali kehilangan tokoh aktivis perempuan. Zohra Andi Baso, aktivis perempuan asal Sulawesi Selatan meninggal dunia sekitar pukul 22.22 Wita, Minggu (15/3) pada usia ke-63 tahun setelah sempat kritis di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Akitivis perempuan Sulsel yang lahir di Labbakkang, Kabupaten Pangkep pada 17 April 1952 ini juga adalah mantan wartawan Suara Pembaharuan sejak 1975 hingga 2001. Dalam kesehariannya dikenal sebagai tokoh perempuan yang kritis dan tegas dalam mengoreksi ketimpangan sosial dan pemerintahan di lapangan.

"Beliau itu bukan cuma aktivis, beliau itu sudah menjadi guru buat kami semua, 80% hidupnya untuk mengatasi persoalan perempuan, anak-anak, beliau itu semua diurusin. Beliau yang pertama mendirikan lembaga perlindungan anak. Mulai dari rakyat miskin, perempuan, semua. Sebagai jurnalis, Kak Zohra itu sangat mendidik jurnalis perempuan supaya bisa menduduki posisi penting di perusahaan-perusahaan media," papar aktivis perempuan Makassar, Sunarti Sain, Senin (16/3).

Sunarti mengatakan, semangat juang Zohra tidak luntur meski dirinya dalam keadaan sakit parah. Zohra bahkan menyempatkan hadir dalam kongres perempuan di Yogyakarta beberapa waktu lalu meski dirinya dalam kondisi lemah lantaran menjalani 8 kali kemoterapi.

"Semangatnya luar biasa, sampai saat terakhirnya masih sangat bersemangat, dia sempat bilang 'saya ingin hidup 1000 tahun lagi'," tutur Sunarti.

Menurut Sunartin, Zohra sempat menjadi nominator peraih nobel perdamaian sekitar tahun 1999/2000. "Kami sangat kehilangan sosok beliau, beliau pernah menjadi nominator nobel mewakili Indonesia, tahun 1999-2000. Beliau sangat konsisten dengan gerakan perempuan, hidupnya memang didedikasikan untuk itu," ungkap Sunarti.

Sebelum mendapat perawatan intensif terakhir di RS Pendidikan Unhas, Makassar, Zohra juga pernah dirujuk ke salah satu rumah sakit di Jakarta.

Mantan supervisi Solidaritas Perempuan Indonesia untuk HAM pada 2003 - 2009, setelah disemayamkan di rumah duka di Kompleks Antang Jaya, Makassar, selanjutnya akan dikebumikan di kampung halamannya di Labbakkang, Kabupaten Pangkep, Sulsel Senin ini. [siw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini