Hot Issue

Yang Tersisa dari Gempa Cianjur

Sabtu, 26 November 2022 07:02 Reporter : Merdeka
Yang Tersisa dari Gempa Cianjur Korban Gempa Cianjur Bersama Bayinya Berteduh di Kandang Sapi. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Gempa di Cianjur menyisakan duka. Gempa susulan yang mencapai 236 kali itu telah merenggut nyawa sebanyak 272 jiwa. Bahkan, 56.311 rumah dan fasilitas rusak berat sejak gempa pertama pada Senin (21/11). Berbagai cerita dari warga didapatkan reporter merdeka.com di lapangan.

Perjalanan tim Merdeka ke lokasi tidak mudah. Ia harus melalui jalur alternatif karena jalur Puncak arah Cianjur, tepatnya Kecamatan Cugenang, tertutup longsor akibat gempa. Sesampainya di daerah Cianjur, tim reporter mendapati jerit dan isak tangis warga disertai suara nyaring ambulans yang membelah jalanan. Banyak toko-toko tutup. Gedung-gedung perkantoran sepi. Keramaian berpusat di rumah sakit, khususnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Di sana pemandangan berbagai kondisi korban gempa menyeruak. Pemandangan yang tersaji adalah anak kecil, pria hingga wanita dibalut perban, serta Petugas medis yang kewalahan. Rata-rata korban datang dengan kondisi luka sobek dan patah tulang. Tidak sedikit korban yang ditinggalkan karena kondisinya belum menjadi prioritas penanganan. Pasien yang belum tertangani di dalam rumah sakit, terpaksa dirawat di lapangan parkir karena kondisi ruangan penuh sesak.

1. Korban Tertimbun Reruntuhan Andalkan Lambaian Tangan

Kejadian tak terduga dengan adanya getaran tiba-tiba membuat beberapa orang panik dan kurang sigap dalam mengambil sikap. Sebut saja Memet. Ia adalah salah satu korban gempa yang tertimbun reruntuhan bangunan.

Siang itu dirinya baru saja menyeduh kopi panas. Kompor untuk memasak air baru saja dimatikan. Namun, belum sampai kopi hitam panas itu diseruput, material atap rumah ambrol setelah sepersekian detik getaran dirasakan. Benar-benar tidak ada waktu untuk dirinya berlari keluar menyelamatkan diri. Naas, Memet tertimpa material rumahnya yang rubuh. Saat itu Memet terpaksa harus menahan rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya.

Beruntungnya, ia selamat setelah mengandalkan kekuatan lambaian tangan yang lemah saat pedagang cilok melintas.

"Saya sempat ketimbun atap rumah, puing- puing tembok. Saya sambil lambai-lambai tangan (baca: saat seorang pedagang Cilok datang). Cuma dia yang tolongin," cerita Memet di RSUD Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11).

2 dari 3 halaman

2. Jenazah Anaknya Dibawa Pakai Motor

Jika Memet mengalami sendiri menjadi korban reruntuhan, lain lagi dengan Nunung. Dirinya harus menerima kenyataan bahwa suami dan dua anaknya tertimpa reruntuhan. Sayang, satu dari dua anak itu meninggal dunia saat tidur siang. Nunung yang berniat menyemayamkan anaknya di kampung suaminya, di kawasan Cimangkok, Sukabumi tidak mendapatkan jalan mulus. Situasi dan kondisi di lalu lintas macet parah karena beberapa akses jalan rusak berat, ditambah ramai pula mobil pembawa logistik dan lalu lalang para pengungsi di kampungnya. Melihat kondisi dan ketidakmungkinan tersebut, Nunung terpaksa memutuskan untuk membawa jenazah anaknya menggunakan sepeda motor.

"Saya kuburin ke kampung suami di Sukabumi, itu pun pakai motor saudara bahkan saking macetnya (perjalanan)," tutur sang ibu dengan wajah yang tetap tegar.

3. Terpaksa Ngungsi di Kandang Sapi

Cerita lain datang dari Olid, warga desa Talaga, Kampung Kabanungan, Cugenang, bersama empat anggota keluarganya yang terpaksa mengungsi di kandang sapi. Mereka memutuskan berteduh bersama beberapa sapi milik majikannya yang tiap hari ia rawat lantaran sejumlah posko penuh. Selama dua hari di sana, ia juga terpaksa membawa anaknya yang masih balita untuk berdampingan dengan bau sapi.

Olid tidak berada di rumah saat peristiwa gempa itu. Ia tengah beristirahat sembari menyeruput kopi hangat yang baru saja ia seduh di sebuah saung, setelah mengumpulkan rerumputan untuk makanan sapi. Olid kemudian bergegas pulang setelah merasakan guncangan yang cukup dahsyat. Sayang, setiba di rumah ia harus menyaksikan tempat tinggalnya tidak lagi berbentuk seperti semula.

"Kalau kemarin pas setengah 2 siang (lagi di saung) tau-tau ada gempa pas pulang-pulang liat rumah sudah hancur," ceritanya.

3 dari 3 halaman

4. Ketulusan Hati Harun, Donasi Tidak Hanya Materi

hati harun donasi tidak hanya materi

Duka Cianjur merupakan duka bersama. Masyarakat Indonesia ramai-ramai menggalang donasi untuk membantu keperluan puluhan ribu orang yang mengungsi. Tapi berbeda dengan jalan Harun Al Rasyid, seseorang yang bekerja sebagai bengkel jok motor. Ia kini dengan tanpa paksaan membantu mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan yang cukup parah. Menurutnya seseorang dengan hati tulus bisa membantu banyak hal dalam musibah ini, tidak sebatas pada donasi uang, pakaian dan makanan.

Harun merupakan salah satu orang yang beruntung. Rumahnya di Cipanas masih tetap berdiri setelah dilanda goncangan bertubi-tubi meksipun terdapat sedikit kerusakan.

"Kita tuh coba bekerja dengan keahlian kita masing-masing mungkin ada orang yang bisa berdonasi lewat makanan pakaian atau harta benda lainnya. Saya cuma di lalu lintas ini," tuturnya sambil mengurai senyum.

5. Trauma Korban Gempa Cianjur

Bertahan di tengah ketidakpastian gempa tidaklah mudah. Gempa itu terus menunjukkan pergerakan tanpa ada yang tahu kapan getaran benar-benar usai. Salah seorang warga mengaku mengalami trauma berat dengan segala peristiwa yang terjadi selama empat hari ini. Hindun mengatakan dirinya masih teringat jelas bagaimana getaran hebat itu merobohkan rumah-rumah di kawasannya. Apalagi jika sirine ambulans terdengar di telinga Hindun, ia mengaku segera terlintas memori buruk itu.

"Ngeri," singkat Hindun sambil menggelengkan kepala.

Rasa trauma ini juga dirasakan Jusuf. Tetapi, dirinya memilih untuk bangkit dan mengais barang-barang bekas usaha bengkelnya yang sudah remuk. Niatnya, jika masih layak barang-barang temuannya di dalam reruntuhan itu akan dijual kembali.

"Rasa takut pasti, masih trauma juga. Tapi mumpung lagi senggang dan barang-barang masih keliatan makanya saya amanin. Insya Allah kalau masih ada, berarti masih ada rejekinya," ujar Jusuf saat ditemui merdeka.com di lokasi, Rabu (23/11).

Reporter Magang: Aslamatur Rizqiyah

[rhm]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini