Wawancara ahli kimia farmasi BNN soal fenomena mabuk pakai pembalut

Jumat, 9 November 2018 08:15 Reporter : Lia Harahap
Wawancara ahli kimia farmasi BNN soal fenomena mabuk pakai pembalut Ilustrasi Narkoba. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah pemuda di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta berperilaku menyimpang. Temuan Badan Narkotika Nasional (BNN), mereka menikmati rebusan pembalut wanita demi mendapatkan sensasi narkoba.

BNN sedang menyelidiki zat apa yang menyebabkan remaja-remaja itu nekat mengonsumsi air rebusan pembalut. Dan, apa dampaknya selain membuat peminum mabuk kepayang.

Disebutkan, kejadian seperti ini ternyata bukan hal baru. Kasus ini pernah terjadi sebelumnya.

Hal itu juga dibenarkan ahli kimia farmasi BNN, Kombes Mufti Djusnir, saat berbincang dengan merdeka.com, pada Kamis (8/11) malam.

"Fenomena ini sebenarnya dulu sekali ada, tapi kita belum bisa buktiin. Belum ada yang tertangkap tangan. Nah sekarang benaran ada," kata Kombes Mufti.

Berikut wawancara lengkap dengan mantan Kepala BNN NTB ini:

Bagaimana awal mula BNN menemukan fakta ini?

Tadi memang saya cek ke laboratorium BNN, memang ada laporan dari BNNP Jateng.

Tapi memang fenomena ini sebenarnya dulu sekali ada, tapi kita belum bisa buktikan. Belum ada yang tertangkap tangan. Nah sekarang benar ada.

Apa BNN sudah melakukan uji pada pembalut yang dimaksud?

Saya sudah cek ke lab BNN. Dan BNN pada dasarnya tidak periksa sampel itu karena dari fisiknya itu bukan narkotika, kalau boleh dikategorikan masuknya produk kesehatan. Jadi karena bukan produk kita, belum dilakukan pemeriksaan itu, kecuali ada dugaan memang sengaja dimasukkan. Sehingga soal apa kandungannya, kita belum bisa berkomentar lebih jauh

Lalu kenapa bisa air rebusan pembalut itu bisa membuat mabuk?

Kalau melihat gambarannya biasanya ini pecandu. Karena hasil penelitian balai rehabilitasi BNN, dari hasil yang kita dapat dan kemudian dirumuskan para peneliti, ada dokter psikiater. Menyatakan, mereka para pecandu itu kadang sulit dapatkan barang narkoba, karena mata rantai diputus. Oleh si pemasok, kemudian caranya diubah-ubah. Lalu mereka cari bentuk lain.

Maksudnya cuma karena merasa ingin lebih fly lagi?

Saya rasa lebih pada sugesti. Mereka para pecandu itu kan punya grup, dan ada diskusi misalnya barang nggak ada lagi. Lalu, dia mau pakai apa lagi? Nah mungkin di grup itu ada yang mencetuskan dengan rebusan itu, Nah sugesti seperti itu sangat kental untuk sesama penarkoba. Buktinya, biasanya pakai ganja terus kurang on, pakai sabu yang lebih on, belakangan merasa kurang, lalu pakai pil.

Karena hakikatnya, pecandu itu tingkatkan dosis dan ragamnya meningkat terus, sehingga saya rasa modus itu berkembang dari sana.

Apa mungkin ada pengaruh lain dari zat yang terkandung di dalam pembalut?

Kalau mereka harapkan sesuatu dari pembalut itu, yang saya tahu pembalut itu isinya mengandung bahan yang bisa serap air. Lalu ada antiseptik yang tujuannya melindungi konsumennya dari media mikroba yang menyebabkan infeksi.

Nah antiseptik itu banyak sekali golongannya, seperti aldehida. Antiseptik itu tidak boleh masuk tubuh manusia karena mayoritas sifatnya racun. Kecuali kayak obat kumur-kumur.

Kita juga belum tau efek dari konsumsi antiseptik itu, apakah pusing atau keracunan. Bisa jadi itu gejala yang dirasakan si peminum rebusan pembalut itu, keracunan bukan fly, kalau fly itu langsung ke susunan saraf pusat

Tapi itu baru analisa, perlu ada penelitian apakah kandungan daripada zat yang ada di pembalut itu apa bisa buat fly atau tidak, yang jelas, mereka terlalu sugesti, kemudian merasa oke

Tapi mungkin ada sedikit pengguna zat-zat di narkoba saat proses pembuatan pembalut?

Rasanya terlalu jauh, saya tidak yakin. Mereka nggak akan terima kalau ada bahan-bahan seperti obat penenang saat pembuatan. Tapi kemungkinan yang bisa terjadi, ada modus operandi penyelundupan (narkoba). supaya nggak ketahuan banget direbus aja.

Apakah menikmati sabu dengan cara direbus sebenarnya memang sering?

Dulu kan memang ada temuan sabu cair oleh BNN. Cuma pengemasannya berbeda.

Akankan kerja sama dengan Kemenkes untuk menyelidiki zat atau bahan pembuatan pembalut?

Kita biasanya punya riset ya. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini