Waspada Klaster Baru Saat Cuaca Ekstrem, Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Rabu, 7 Oktober 2020 12:09 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Waspada Klaster Baru Saat Cuaca Ekstrem, Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat Anak-anak Bermain Air Banjir Rob. ©2020 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Tiga bulan ke depan, Indonesia diprediksi menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Hal ini dikhawatirkan bakal memicu klaster baru Covid-19.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra meminta agar masyarakat tetap menjaga kebersihan dan melaksanakan protokol kesehatan dalam kondisi cuaca apapun.

"Higenitas dan protokol kesehatan tetap jadi fokus utama," kata Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Rabu (7/10).

Tidak hanya kebersihan dan protokol kesehatan. Musim hujan juga akan diprediksi menimbulkan bencana alam banjir. Sebab itu, Hermawan meminta agar diperhatikan penataan kesehatan lingkungan pengungsian, sehingga tidak menimbulkan klaster baru di tempat pengungsi.

"Fokus pada penataan kesehatan lingkungan pengungsian," ungkap Hermawan.

Sementara itu dihubungi terpisah, menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, masyarakat perlu mengubah perilaku lebih sehat dan ramah lingkungan. Serta lebih perduli terhadap risiko kesehatan.

"Masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan 3 M baik untuk Covid-19, pencegahan DBD, serta Kesehatan Lingkungan," kata Dicky.

Dia merinci, untuk 3M untuk mencegah Covid-19 yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Sedangkan untuk mencegah adanya penyakit demam berdarah masyarakat harus menerapkan 3M yaitu menguras bak mandi, menutup, dan mendaur ulang.

"Kalau 3M di kesehatan lingkungan masyarakat menjaga kebersihan diri, lingkungan, mengendalikan limbah, dan mengendalikan vektor," ungkap Dicky.

Pemerintah juga, kata Dicky, perlu memperkuat sistem kesehatan. Sementara itu bukan hanya dari sisi kesehatan masyarakat yang harus diperhatikan. Penyebaran klaster baru di musim hujan bisa berpotensi terjadi di tempat pengungsian.

"Ketika dipengungsian, ketika misalnya juga situasi disaat menolong korban yang bisa pada saat sedang sakit atau tidak bergejala.Harus perhatikan tentut tetap sama yaitu kewaspadaan dalam menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dan mengurangi benda-benda yang dipakai bersamaa," ungkap Dicky.

Selanjutnya untuk pemerintah daerah yang menyediakan lokasi pengungsian agar menyediakan tempat memadai. Yaitu memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak sempit.

"Diperhatikan kapasitas satu orang dihitungannya 4 meter persegi bila dimungkinkan, sehingga kalau ada 100 meter persegi berarti tinggal dibagi empat berarti 50orang kapasitasnya supaya seperti itu," ungkap Dicky.

fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) pun harus diperhatikan. Dia mengatakan jika sirkulasi mck buruk hal tersebut dapat berpotensi terjadinya penyebaran virus.

"Sehingga perlu diperhatikan mcknya agar tidak terjadi antrean supaya juga tidak ada jeda antar pengguna. Harus dibiarkan terlebih dahulu dan sirkulasinya terbuka setelah dipakai," kata Dicky.

Tidak hanya itu petugas di pengungsian pun tegas menerapkan protokol kesehatan. Sehingga seluruh pihak bisa menjaga satu sama lain.

"Untuk pengungsiannya ya masing-masing menjaga dan membatasi tetap pergerakannya dibatasi menerapkan 3Mnya ini sering berkumpul terdekatnya, jadi di lokasi yang telah ditentukan tersebut dibatasi interaksi semua harus saling menjaga dalam kondisi pandemi seperti saat ini," tegas Dicky.

Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta seluruh pihak untuk tetap waspada di tengah pandemi Covid-19. Khususnya tiga bulan ke depan Indonesia akan alami perubahan cuaca ekstrem dan dikhawatirkan akan timbul klaster baru.

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak

Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini