Warga Cisarua tanam pohon khat karena menjanjikan

Selasa, 5 Februari 2013 12:05 Reporter : Laurel Benny Saron Silalahi
Warga Cisarua tanam pohon khat karena menjanjikan Kebun Khat di Cisarua Bogor. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) siang ini mendatangi Desa Cibeureum, Kampung Pasir Tugu RT 1 RW 6, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, untuk memantau tanaman khat (Catha Edulis). Di kampung ini banyak warga menanam pohon khat sebagai mata pencaharian mereka.

Nanang Suranta Wijaya (47), salah satu pemilik tanaman khat seluas 300 meter mengaku awalnya dirinya tidak mengetahui bahwa tanaman yang digemari oleh pendatang dari Arab ini mengandung zat chatinone yang termasuk zat narkotika golongan satu.

"Awalnya mah gak ngerti kalau ini dilarang, kalau tahu dilarang mending saya nanam yang lain aja," ujar pria yang biasa dipanggil Jak, di perkebunan khat milikinya, Selasa (5/2).

Jak mengaku dari hasil tanamannya ini dirinya dapat meraup keuntungan sebesar Rp 3,3 juta setiap minggunya. Ditambahkan Jak kebanyakan pembelinya adalah orang-orang Arab yang datang ke Indonesia.

"Kebetulan saya sopir orang Arab, biasanya tiap datang ke sini di nyarinya yah Gat ini, di sini dikenalnya Gat. Itu harganya kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 1,2 juta per kantong plastik, seminggu bisa dapet untuk Rp 3 jutaan lah," jelas Jak yang mengaku sejak tahun 2005 lalu menanam tanaman ini.

Jak menceritakan awalnya dirinya hanya menanam sebanyak 5 pohon yang dimintanya dari orang Yaman. Dikatakan dirinya hingga mempunyai kebun seluas 300 meter dia hanya melakukan penanaman dengan di stek.

"Gak ada perawatan khusus, cuma ditanam dengan cara stek, gak perlu diberi pupuk saja sudah numbuh sendiri. Lagian juga orang Arab tidak mau kalau dipakaikan pupuk karena mengandung kimia katanya," terangnya.

Sementara itu Kepala Humas BNN Sumirat Dwiyanto mengatakan, saat ini belum menentukan sanksi kepada para petani yang kedapatan menanam tanaman khat di lahannya. Sejauh ini, BNN bersama Polda Jawa Barat masih menyelidiki dan melakukan uji laboratorium terhadap tumbuhan yang banyak ditemukan di daerah Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut.

"Kami belum membicarakan proses hukum bagi mereka yang menanam Khat. Saat ini masih fokus pada lidik dengan melibatkan Polda, Polres Bogor, dan Polsek Cisarua," tandasnya.

Untuk diketahui Daun khat (Catha Edulis) menjadi populer lantaran artis muda Raffi Ahmad diketahui menggunakan dan memiliki narkoba jenis baru dari tanaman ini.

Daun Khat termasuk tanaman perdu, famili dari tanaman Celastracea, berasal dari Afrika Timur dan dataran Arab. Pohonnya setinggi 3 meter, bentuk daunnya menyerupai daun sirih dan berbau harum.

Mengonsumsi daun ini akan mempunyai efek energik dan menjadi senang bicara. Hampir seperti kokain dan amfetamin, pengguna akan terbawa kegembiraan berlebihan, membangkitkan stamina, tidak merasa lapar, dan jadi sulit tidur.

Dalam dosis yang besar, Khat dapat menyebabkan gangguan jaringan otak yakni perubahan sistem biokimia otak. Pengguna bisa mengalami halusinasi pendengaran dan mengamuk. Dalam tingkat yang parah, bisa seperti orang gila.

Hasil penelitian baru-baru ini yang dilakukan WebMD, pengguna daun Khat dapat mengalami komplikasi, seperti stroke, gagal jantung, atau mati dalam waktu satu tahun. Pengguna Khat yang mengalami serangan jantung memiliki tingkat kematian 7,5 persen di rumah sakit dibandingkan dengan 3,8 persen pada bukan pemakai khat. Tingkat kematian dalam satu tahun terhitung 19 persen di antara pengguna daun Khat. Pengguna Khat juga cenderung memiliki tingkat diabetes yang lebih rendah dan tekanan darah tinggi.

Khat dikonsumsi dengan cara dikunyah. Namun cathinone sintetis, sebagaimana disebut dalam situs European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA), zat ini berbentuk serbuk kristal putih atau kecoklatan. Dikemas dalam bentuk kapsul.

Zat itu juga ditemui dalam bentuk tablet sebagai pengganti pil ekstasi. Cara penggunaan biasanya dihirup, ditelan, atau disuntikkan setelah dicampur air. Di negara Afrika timur dan dataran Arabia, daun Khat dikonsumsi dengan cara dikunyah, dibuat jus, atau diseduh dengan air hangat.

Meski termasuk zat-zat Psikotropika, penggunaan katotine di beberapa negara Eropa tidak dilarang. Diketahui cathinone dimasukkan sebagai golongan I Konvensi PPB untuk Zat-zat Psikotropika Tahun 1971. Cathine yang juga terdapat dalam khat masuk golongan III, sedangkan cathinone sintetis, yakni amfepramone dan pyrovalerone masuk golongan IV konvensi itu.

Di Indonesia sendiri, katinona tercantum dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pada daftar narkotika golongan I. Dalam Undang-Undang Pengawasan Psikotropika di Indonesia karena mengandung Monoamina Alkaloid. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Raffi Ahmad Narkoba
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini