Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak Pastikan Tak Ada Patok Kaveling Mina Ilegal
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak meninjau tenda di Mina, Arab Saudi, memastikan tidak ada praktik patok kaveling ilegal dan fasilitas jemaah haji terpenuhi.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak meninjau langsung kesiapan fasilitas dan layanan di tenda-tenda Mina, Arab Saudi, pada Sabtu (23/5). Peninjauan ini bertujuan memastikan kenyamanan serta keamanan jemaah calon haji Indonesia selama menjalani puncak ibadah haji. Fokus utama adalah mencegah praktik patok kaveling Mina ilegal oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Dalam kunjungannya, Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan pentingnya memastikan setiap jemaah memperoleh fasilitas tenda, tempat tidur, dan tempat istirahat yang layak. Hal ini krusial agar tidak ada jemaah yang tidak mendapatkan akomodasi sesuai kebutuhan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia menjaga kualitas layanan haji.
Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi telah mencopot penanda yang dipasang sepihak oleh KBIHU di tenda-tenda Arafah. Praktik ini berpotensi merugikan jemaah lain dan mengganggu tata letak yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, peninjauan di Mina menjadi sangat penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Wamenhaj Pastikan Fasilitas Tenda dan Pencegahan Patok Kaveling
“Yang jelas hari ini saya dan kawan-kawan meninjau pembersihan kavling-kavling yang dilakukan oleh KBIHU atau oknum tertentu,” kata Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak di Makkah. Ia menambahkan, “Kedua, kita memastikan jumlah tenda sesuai dengan kebutuhan, jadi tidak ada jamaah calon haji yang tidak memperoleh tenda, tempat tidur, dan tempat istirahat.” Peninjauan ini secara spesifik berupaya memberantas praktik tidak bertanggung jawab yang dapat merugikan jemaah.
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebelumnya telah bertindak tegas terhadap penanda ilegal yang dipasang KBIHU di tenda Arafah. Beberapa tenda yang dikelola syarikah Rakeen dan Duyuful Bait ditemukan memiliki tempelan nama kloter serta tulisan KBIHU. Bahkan, pihak KBIHU mencantumkan logo syarikah agar penempatan tersebut terkesan resmi.
Praktik patok kaveling Mina semacam ini dapat menimbulkan ketidakadilan dan kekacauan dalam penempatan jemaah. Oleh karena itu, langkah proaktif dari pemerintah Indonesia melalui Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak sangat diapresiasi. Selain tenda, Wamenhaj juga mengecek ketersediaan dan kelaikan fasilitas kamar mandi serta toilet yang akan digunakan oleh jemaah calon haji.
Tantangan Fisik di Mina dan Imbauan Istirahat untuk Jemaah
Setelah meninjau kelengkapan fasilitas tenda, Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak bersama rombongan berjalan kaki dari Markas 12 menuju area pelontaran jumrah atau Jamarat. Markas 12 merupakan lokasi tenda jemaah calon haji Indonesia terjauh, dengan rata-rata jarak tempuh bolak-balik sekitar 7 kilometer. Perjalanan ini menunjukkan betapa krusialnya ketahanan fisik jemaah.
Menurut Wamenhaj, pergerakan di Mina membutuhkan ketahanan fisik yang prima karena tidak ada fasilitas kendaraan yang dapat digunakan oleh jemaah. Bagi jemaah calon haji yang mengambil pilihan Nafar Awal, total jarak tempuh berjalan kaki dapat mencapai sekitar 21 kilometer. Jarak ini akan bertambah bagi mereka yang memilih Nafar Tsani, sehingga memerlukan persiapan fisik yang matang.
Menghadapi rute pejalan kaki yang cukup menguras tenaga tersebut, Wamenhaj mengimbau jemaah calon haji untuk memaksimalkan waktu luang yang ada saat ini untuk beristirahat. “Makanya ada istilah hari Tarwiyah, yang maknanya merenung dan bersiap-siap,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menggunakan waktu pada hari Sabtu dan Ahad untuk beristirahat secara fisik, karena rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina akan sangat menguras tenaga.
Sumber: AntaraNews