Wali kota Tegal terima suap untuk Pilkada, KPK bilang 'di mana-mana gitu'

Jumat, 15 September 2017 13:57 Reporter : Rizky Andwika
Deputi Bidang Pencegahan KPK Pahala Nainggolan. ©2017 Merdeka.com/Rizky Andwika

Merdeka.com - Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno ditangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan menerima suap Rp 5,1 miliar. Uang suap itu diduga untuk ongkos politik Siti yang berniat mencalonkan diri sebagai wali kota Tegal untuk periode 2019-2024.

Deputi Bidang Pencegahan KPK Pahala Nainggolan mengatakan menerima suap untuk ditabung sebagai modal dalam pilkada tak hanya dilakukan oleh wali kota Tegal. Dia mengungkapkan seorang kepala daerah memang fokus mencari ongkos untuk modal apabila berniat mencalonkan kembali dalam pilkada. Ongkos politik dalam pilkada perlu biaya besar sehingga menyebabkan kepala daerah mencari jalan pintas.

(Terima suap untuk pilkada) itu bukan spesifik Tegal, di mana-mana gitu. Ada keluhan biaya kontestasi mahal jadi semua orang menabung. Kalau incumbent mereka menabung dalam lewat APBD. Kalau yang baru mau maju cari sponsor. Jadi Tegal buat kita itu bukan spesifik, tapi gejala umum," kata Pahala di Kantor DPP PPP, Jl Tebet Barat IX, Jakarta, Jumat (15/9).

Oleh sebab itu, Pahala mengatakan pihaknya tengah fokus menggodok langkah-langkah mencegah kepala daerah mencari uang untuk ongkos pilkada. Salah satu caranya, berupaya menghilangkan tekanan yang diemban oleh kepala daerah sehingga tak terlalu menggebu-gebu mengumpulkan ongkos sebagai modal kembali maju pilkada.

"Sampai sekarang kita lagi cari pencegahan untuk ini, seperti apa nih supaya tekanan terhadap calon atau kandidat bisa berkurang dalam artian tekanan untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya," ujarnya.

Menurut Pahala, kepala daerah atau orang yang berniat maju dalam pilkada tak masalah untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Asalkan, uang yang dikumpulkan halal. Celah untuk menerima suap bagi kepala daerah, lanjut dia, biasanya didapat saat proses penerbitan perizinan dan pengadaan.

"Mau cerita apa-apa saja di daerah, ujungnya cuma itu-itu saja. Entah lewat teman, entah dia sendiri memimpin, berkembang sedikit paling pungutan dari kepala dinas, tapi itu kembangan yang sedikit saja. Paling banyak dari pengadaan dan perizinan," tukasnya. [rzk]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini