Wajah miris infrastruktur perbatasan di Kalimantan Utara

Jumat, 25 Agustus 2017 09:28 Reporter : Ya'cob Billiocta, Nur Aditya
Wajah miris infrastruktur perbatasan di Kalimantan Utara perbatasan Malinau-Malaysia. ©istimewa

Merdeka.com - Sudah 17 tahun berlalu jalan utama ke dataran tinggi Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Barat dibangun. Kondisinya kini mengiris miris. Denyut pembangunan infrastruktur begitu lemah di sana. Boro-boro ada lampu penerangan, yang ada hanya jalan berlumpur dan jembatan batang pohon. Sudah belasan tahun Apau Kayan tak tersentuh perbaikan.

Bahkan sejumlah ruas jalan menghubungkan kecamatan Sungai Boh, Kayan Selatan, Kayan Hulu, dan Kayan Hilir di Malinau, menuju Long Bagun di Kabupaten Mahakam Ulu di Kalimantan Timur, terputus akibat jembatan ambruk disertai tanah longsor.

Jalan ke Long Bagun yang menghubungkan ke kecamatan di Malinau, sejauh kurang lebih 426 kilometer dan dibangun sejak 17 tahun silam itu menjadi andalan warga setempat.

"Jalan itu jadi akses satu-satunya sekitar 16 ribu jiwa warga Apau Kayan, menunjang kegiatan perekonomian warga yang tinggal di perbatasan Malinau dengan Malaysia. Tidak sedikit warga yang celaka, saat mengangkut sembako dan bahan bakar minyak," kata warga Desa Long Nawang, Mansur (45) kepada wartawan belum lama ini.

Mansur merinci, setidaknya ada empat titik ruas jalan memerlukan perhatian serius pemerintah. Di antaranya jalan menghubungkan Sungai Boh-Long Bagun sepanjang 270 km, Sungai Boh-Kayan Hulu 23 km, Kayan Hulu-Kayan Hilir 63 km.

Diperparah minimnya infrastruktur jembatan, membuat warga bertaruh nyawa untuk melintas sungai besar.

"Tahun ini saja, sudah tujuh kali kecelakaan, mobil terbalik dan masuk jurang. Ada banyak mobil di Apau Kayan, yang digunakan untuk mengangkut sembako. Kami menagih janji pemerintah, membangun Indonesia dari pinggiran," ungkap Mansur.

Demikian halnya diutarakan Kepala Adat Besar Apau Kayan Ibau Ala. Menurut dia, 8 titik jalan putus, 3 di antaranya menghubungkan Long Bagun ke Mahak Baru di kecamatan Sungai Boh serta di Mahak Baru, menujung Long Nawang.

"Warga bisa terjebak berhari-hari di ruas jalan itu. Saat ini, memang warga lebih memilih beli sembako dan BBM di kem Tapak Mega, di wilayah Malaysia. Dulu, jalan ke batas negara di Tapak Mega ini, pernah diputus warga Malaysia. Harga BBM di Malaysia ini, premium harganya Rp 25 ribu per liter," ungkap Ibau Ala.

"Kita berharap peran dari pemerintah pusat dan keseriusan Pemprov Kaltara ya. Apalagi, jalan perbatasan Malaysia ini baru sebatas membuka akses jalan. Kami berharap, dilakukan peningkatan infrastruktur jalan," demikian Ibau Ala.

Warga di Apau Kayan setiap hari bertaruh nyawa demi mendapat sembako. Bahkan mereka bisa sampai bermalam di tengah belantara hutan tropis dan aliran sungai.

"Kalau sudah jalan rusak, itu mobil bisa ikutan rusak karena jalannya memang rusak parah. Mesin kan panas kalau lewat jalan begitu (berlumpur)," kata warga Malinau, Yogi.

"Kalau sudah mobil yang angkut sembako rusak, mau tidak mau warga ini mesti jalan kaki, tembus sana sini di jalan hutan. Yang menyedihkan ya itu tadi, kalau habis hujan, ataupun kalau sedang diguyur hujan," ungkapnya.

Beratnya medan yang mesti melalui kubangan lumpur dan sungai, lantaran minimnya jembatan membuat warga terkadang merasa bertaruh nyawa.

"Kalau jalan kaki, ya bisa berhari-hari. Pastinya bermalam di hutan. Karena ya itu tadi, mobil rusak. Padahal itu sudah mobil dobel gardan," terangnya.

Kondisi itu membuat tidak sedikit warga yang berpikir dua kali untuk beli sembako di provinsi tetangga, Kalimantan Timur. Solusinya, warga mendapatkan sembako maupun BBM dari Malaysia, di kawasan Tapak Mega.

"Mau tidak mau ya begitu," demikian Yogi. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini