Wagub Jabar: Dulu santri tersisihkan, saya selalu diolok-olok kampungan

Senin, 22 Oktober 2018 13:38 Reporter : Aksara Bebey
Wagub Jabar: Dulu santri tersisihkan, saya selalu diolok-olok kampungan Uu Ruzhanul Ulum. ©2018 Merdeka.com/Muhammad Zul Atsari

Merdeka.com - Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengungkap pernah menjadi korban perundungan disebut santri buduk dan kampungan. Hal itu ia alama lantaran sempat menempuh pendidikan di pondok pesantren.

"Dulu santri sering tersisihkan. Saya ingat selalu diolok-olok santri oleh teman. Disebut santri budug lah, kampungan-lah dan lainnya," katanya saat dihubungi, Senin (22/10).

Namun, ia menilai seiring perkembangan zaman, pandangan tersebut sudah berubah. Pesantren tak lagi diidentikkan dengan pilihan terakhir siswa yang tidak diterima di sekolah-sekolah negeri maupun perguruan tinggi.

Ditambah, pemerintah menetapkan Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober menjadi penguat perubahan image terhadap sekolah berbasis keilmuan islam secara keseluruhan.

Pasalnya, banyak lulusn pesantren yang bisa membuktikan diri bisa eksis di berbagai bidang tingkat nasional. Seperti sukses berkarir di dunia politik, pemerintahan, ekonomi maupun sosial kemasyarakatan.

"Kini pesantren mulai kebanjiran santri, bahkan menjadi opsi prioritas. (Saking banyaknya) banyak santri yang tidak tertampung," imbuhnya.

Di lain pihak, ia mengaku ingin terus mendorong payung hukum yang akan menjamin keberlangsungan dan perkembangan pesantren tidak hanya di Jawa Barat, tapi di seluruh Indonesia.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri sedang merumuskan program satu pesantren, satu produk. Tujuannya, agar pesantren di seluruh Jabar bisa maju seperti di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah karena punya kegiatan ekonomi yang kuat.

Ia mencontohkan, banyak pesantren di daerah lain punya bisnis yang dikelola, di antaranya pabrik gula, bisnis hotel, rumah makan atau toserba. Jadi, setelah wafat pendirinya, kegiatan di pesantren bisa terus berlanjut.

Kalau di Jawa Barat, sebuah pesantren kerap tersendat laju perekonomiannya setelah sang pendidiri wafat. Padahal, keberadaan pesantren sangat penting di tengah kehidupan sosial masyarakat.

"Saat pimpinan meninggal yang nyumbang pesantren enggak ada. Makanya, kang Emil (Ridwan Kamil) cucu kyai, saya cucu kyai tentu akan memikirkan pesantren penting," ujarnya. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini