Hot Issue

Vaksin Covid-19 Untuk Siapa?

Jumat, 23 Oktober 2020 07:45 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Vaksin Covid-19 Untuk Siapa? Simulasi vaksinasi Covid-19 di Depok. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Pemerintah tengah bersiap melakukan vaksinasi Covid-19. Bahkan, telah berencana memborong 3 juta dosis vaksin Sinovac sebagai tahap awal pemberian antibodi kepada masyarakat. Sejumlah kelompok masyarakat yang berhak menerima vaksin telah disasar.

Ada enam kelompok prioritas dianggap paling berhak lebih dulu menerima vaksin. Secara berurutan terdiri dari tenaga kesehatan, pelayan publik, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, aparatur pemerintah, peserta BPJS, serta yang terakhir akan diberikan kepada masyarakat dengan rentang usia 18-59 tahun.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto memaparkan, alasan mengapa vaksin Covid-19 tidak diperuntukkan untuk kelompok usia 18 hingga 59 tahun dan para penderita penyakit komorbid. Menurutnya, hal itu dikarenakan Indonesia hanya melakukan uji klinis terhadap kelompok usia antara 18 hingga 59 tahun dalam keadaan sehat.

"Saat ini vaksin yang diuji klinis di Indonesia diberikan kepada kelompok usia 18 hingga 59 tahun. Diupayakan dengan minimal komorbid," kata Terawan.

Meskipun begitu, Terawan menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan bila ternyata vaksin Covid-19 aman digunakan untuk lansia, anak-anak, maupun penderita penyakit komorbid.

"Nanti kalau hasil uji klinis menunjukkan ada keamanan untuk anak-anak, lansia atau komorbid, ya kita akan kerjakan," kata dia.

Namun apa yang diungkap Terawan tidak senada dengan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio. Dia justru mengkritik, apabila vaksin tidak diberikan kepada masyarakat penderita komorbid. Dia mengatakan, para penderita komorbid seharusnya menjadi penerima prioritas nomor dua vaksin Covid-19.

"Orang yang punya komorbid alias yang rentan terpapar Covid-19 sebenarnya menjadi prioritas nomor dua setelah garda terdepan. Lazimnya seperti itu. Tapi kalau di indonesia, yang punya komorbid tidak termasuk," kata Amin saat dihubungi merdeka.com, Kamis malam (22/10).

Untuk penerima vaksin Covid-19 paling diutamakan, Amin sudah setuju dengan pemerintah. Pemerintah menetapkan tenaga medis dan dan tenaga kesehatan sebagai prioritas utama. Selain itu, para pelayan publik termasuk TNI/ Polri juga masuk ke dalam daftar.

Senada dengan Prof Amin, Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan menilai bahwa para seseorang yang punya penyakit komorbid perlu masuk ke dalam daftar penerima prioritas vaksin Covid-19. Terlebih lagi jika penderita komorbid tersebut merupakan tenaga kesehatan maupun pelayan publik yang sering berinteraksi dengan banyak orang.

"Yang prioritas itu kan orang yang terpapar ya. Sebaiknya orang yang punya komorbid perlu mendapatkan perlindungan dari vaksin ini," kata Erlina kepada merdeka.com (22/10).

Erlina merasa pemerintah tidak perlu tergesa-gesa dalam menetapkan sasaran penerima prioritas vaksin Covid-19. Pasalnya, menurut dia, masih banyak kriteria yang harus dipertimbangkan. Dia mencontohkan, misalnya ada seorang tenaga medis yang usianya sudah lansia dan memiliki komorbid, lantas dia pun bertanya-tanya, apakah tenaga medis tersebut tidak menjadi prioritas penerima vaksin Covid-19.

"Ini perlu dipertimbangkan lebih seksama. Ayo ditentukan sasaran penerima yang lebih rinci. Tidak perlu terburu-buru," kata dia.

Baca Selanjutnya: Semua Berhak...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini