Usai Diperiksa Polisi, Ridwan Kamil Jelaskan Kronologi Kerumunan Massa di Megamendung

Jumat, 20 November 2020 18:54 Reporter : Nur Habibie
Usai Diperiksa Polisi, Ridwan Kamil Jelaskan Kronologi Kerumunan Massa di Megamendung Ridwan Kamil Penuhi Panggilan Bareskrim. ©2020 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Usai Diperiksa Polisi, Ridwan Kamil Jelaskan Kronologi Kerumunan Massa di Megamendung

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil telah selesai memenuhi panggilan Bareskrim Polri. Pemanggilan itu dilakukan terkait acara yang menimbulkan kerumunan massa di Megamendung, Bogor, Jawa Barat beberapa hari lalu.

Kang Emil mengatakan, panitia dalam acara tersebut sudah melaporkan kepada pihak Kecamatan setempat terkait kegiatan peletakan batu pertama masjid di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariat Megamendung yang dihadiri pimpinan FPI Rizieq Shihab pada pekan lalu.

"Kronologi yang terjadi di Bogor. Pertama, itu adalah salat Jumat dan peletakan batu pertama, itu laporan panitianya ke Camat, ke satgas Kabupaten itu hanya itu. Jadi bukan acara besar yang mengundang, hanya acara rutin," kata Kang Emil di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (20/11).

Ia menjelaskan, sebelum acara itu berlangsung, aparat keamanan setempat sempat mengingatkan terkait akan adanya potensi kerumunan massa.

"Nah, sudah di lobi juga oleh Kodim untuk mengingatkan potensi kerumunan, jadi tindakan pencegahan itu sudah dilakukan. Kemudian, dalam hari H nya, ternyata ada euforia dari masyarakat yang bukan mengikuti, tapi hanya ingin melihat juga, itu yang membuat situasi jadi sangat masif kira-kiranya," jelasnya.

Ia mengungkapkan, dalam situasi menghadapi massa yang begitu banyak hanya ada dua pilihan saja yakni melakukan tindak secara humanis atau secara represif.

"Dalam kondisi lapangan yang massa sudah masif, pelaksana di lapangan punya dua pilihan, melakukan persuasif humanis atau represif. Pilihan di lapangan saat itu karena massa kalau sudah besar cenderung ada potensi gesekan, maka pilihan dari pak Kapolda Jabar saat itu memutuskan pendekatan humanis non-represif," ungkapnya.

"Walaupun akhirnya, pilihan-pilihan itu memberi konsekuensi pada institusi kepolisian yang saya sangat hormati terkati hal itu," sambungnya.

Ia menegaskan, pihaknya sudah melakukan pemberitahuan terlebih dahulu serta melakukan penegakkan. Namun, saat itu massa diketahui cukup banyak yang hadir di lokasi.

"Jadi kalau ditanya, tolong tegakkan, sudah sangat ditegakkan ya dengan jumlah sebanyak itu kira-kira. Hanya kalau sudah ada massa besar, karena sebuah proses. Kadang-kadang kan treatmentnya tidak selalu ditegas represifkan, contohnya seperti demo Omnibuslaw," tegasnya.

"Kalau pakai kategori pelanggaran prokes, demo-demo itu sangat melanggar protokol kesehatan. Tapi kan pendekatannya tidak bisa dalam kondisi psikologis ya, walaupun kita tahu itu pelanggaran. Kemudian dilakukan represif karena akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, diskresi dari aparat itu ada di sana, nah itulah kira-kira kronologis," katanya. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini