Update Gunung Anak Krakatau, Dinding Terbelah dan Menyusut

Jumat, 4 Januari 2019 06:20 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Update Gunung Anak Krakatau, Dinding Terbelah dan Menyusut Gunung Anak Krakatau meletus. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sudah beberapa kali Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Namun erupsi yang paling berimbas adalah pada 22 Desember 2018 lalu. Saat itu, dinding Gunung Anak Krakatau berupa bebatuan besar longsor dan menabrak air laut. Imbasnya, menimbulkan tsunami setinggi 5 meter yang menyapu seluruh bangunan di bibir pantai di sekitar Banten dan Lampung.

Kini aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai sedikit menurun. Meskipun masih sering terjadi erupsi, namun tak separah kejadian waktu itu. Berikut kabar Gunung Anak Krakatau saat ini:

1 dari 3 halaman

Dinding Gunung Anak Krakatau Terbelah

Gunung Anak Krakatau. ©2018 Merdeka.com

Nelayan setempat sempat melihat dinding Gunung Anak Krakatau terbelah dan longsor saat erupsi. Menurut salah satu warga, kejadian ini terjadi pada pukul 20.00 wib.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan retakan ini berpotensi untuk menjadi longsor jika ada tremor atau getaran saat erupsi. Meskipun luas arenanya relatif kecil.

"Berpotensi untuk berkembang menjadi longsor atau runtuhan bawah laut bila terjadi tremor saat erupsi nantinya. Karena luas area dan volums yang akan longsor relatif kecil, maka diperkirakan potensi tsunami yang ditimbulkan juga lebih kecil," jelas Dwikorita.

2 dari 3 halaman

Volume Gunung Anak Krakatau Mulai Menyusut

Tinggi Gunung Anak Krakatau Menyusut. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Usai erupsi, volume Gunung Anak Krakatau menyusut sekitar 60 persen atau dua pertiganya. Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah PVMBG Agus Solihin mengatakan volume Gunung Anak Krakatau kini menyusut antara 150 sampai 180 juta meter kubik setelah erupsi 22 Desember lalu. Kini tubuh gunung Anak Krakatau hanya tersisa sekitar 40 persen dari semula, sebelum erupsi terjadi.

Menurut Agus, menyusutnya volume tubuh Gunung Anak Krakatau karena proses rayapan tubuh gunung yang disertai kuatnya erupsi pada 24 sampai 27 Desember. Tinggi Anak Krakatau juga terkikis, semula 338 meter kini 110 meter.

3 dari 3 halaman

Ada Pendangkalan Pasca Erupsi

Tinggi Gunung Anak Krakatau Menyusut. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) menemukan adanya perubahan kontur kedalaman 20 sampai 40 meter lebih dangkal pasca erupsi Anak Krakatau kemarin.

Menurut Kapushidrosal Laksda TNI Harjo Susmoro, pendangkalan disebabkan tumpahan magma dan material longsoran Gunung Anak Krakatau yang jatuh ke laut. Penemuan ini juga diperkuat dengan pengamatan visual radar dan analisis dari citra ditemukan perubahan morfologi bentuk Anak Gunung Krakatau pada sisi sebelah barat seluas 401.000 meter persegi atau lebih kurang sepertiga bagian lereng sudah hilang dan menjadi cekungan kawah menyerupai teluk.

"Pada cekungan kawah ini masih dijumpai semburan magma gunung anak Krakatau yang berasal dari bawah air laut," ujar Harjo. [has]

Baca juga:
Retakan Baru Gunung Anak Krakatau, BMKG Minta Masyarakat Tetap Waspada
Gunung Anak Krakatau Alami 60 Kali Gempa Letusan
BMKG Benarkan Ada Retakan Baru Di Anak Krakatau, Aktivitas Erupsi Menurun
BMKG Pasang Sensor Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau di Pulau Sebesi
Hoaks, BMKG Tak Pernah Sebarkan Rekaman Gunung Anak Krakatau akan Meletus

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini