Uniknya Arsitektur Masjid RS UMM, Bergaya Oriental sehingga Kerap Disangka Kelenteng

Rabu, 5 Mei 2021 14:48 Reporter : Darmadi Sasongko
Uniknya Arsitektur Masjid RS UMM, Bergaya Oriental sehingga Kerap Disangka Kelenteng Masjid KH Bedjo Dermo Leksono atau Masjid Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM). ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Masjid KH Bedjo Dermo Leksono atau Masjid Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) terlihat unik dengan gaya oriental berarsitektur Cina. Sekilas masjid itu lebih nampak menyerupai bangunan kelenteng.

Warna merah mendominasi masjid, diperkaya ornamen di setiap sisi bangunan. Ujung-ujung atap dibentuk melengkung dan melancip sebagaimana ciri khas arsitektur Cina.

Jendela ventilasi pun berbentuk lingkaran. Beberapa tampak tanpa sudut atau melengkung.

Sementara atapnya dibuat susun tiga. Seperti masjid pada umumnya, di puncaknya ada ornamen bintang dan bulan sabit.

Pintu masjid juga menyerupai gerbang sebuah kelenteng dengan didukung. Huruf yang digunakan papan nama masjid menyerupai huruf Cina.

uniknya arsitektur masjid rs umm bergaya oriental sehingga disangka kelenteng
©2021 Merdeka.com

Masjid semakin unik dengan gagang pintu kokoh berbalut logo Muhammadiyah. Kalimat tauhid melingkari pegangan.

Ukuran masjid di Jalan Raya Tlogomas, Malang, itu tidak terlalu besar, tetapi memang di lokasi strategis, tepatnya berada di sisi kanan pintu masuk area rumah sakit.

Sehingga mata pengunjung akan langsung menangkap keindahan bangunan rumah Allah itu yang serasi dengan desain rumah sakit.

Wakhidi, Badan Pengawas RS UMM, mengungkapkan bahwa pembangunan masjid diinisiasi Muhadjir Effendy saat masih duduk sebagai Rektor UMM. Desain masjid menyesuaikan rumah sakit yang sejak awal didesain bergaya oriental.

"Rumah sakitnya berarsitekur oriental untuk mengikuti pengobatan Asia Timur. Jadi pengobatannya itu tidak semuanya berkiblat ke Eropa, tapi juga Cina," jelas Wakhidi.

Pengobatan Cina, lanjut Wakhidi, dinilai sebagai sistem pengobatan tertua di dunia dengan mengandalkan herbal. UMM lewat rumah sakitnya memiliki orientasi untuk mengembangkan sistem pengobatan itu, di samping pengobatan barat yang masih dominan.

"Oleh karena itu semua bangunan sekitar rumah sakit berorientasi pada bangunan-bangunan Cina. Masjidnya pun dibangun seperti ini, seperti kelenteng," sambungnya.

Wakhidi mengakui pengunjung kerap salah mengira dan tidak menyangka bangunan itu sebagai rumah ibadah kaum muslimin. Bahkan suatu saat seorang utusan pemerintah luar negeri mengira kalau bangunan itu milik WNA China.

"Tapi ini diberi papan nama, diberi nama Masjid KH Bedjo Dermo Leksono," tegasnya.

Bedjo Dermo Leksono merupakan tokoh pendiri Muhammadiyah Malang. Dia juga ketua cabang pertama Muhammadiyah di Malang Raya yang saat itu masih satu kepala daerah.

Pemberian nama Bedjo Dermo Leksono juga sudah menjadi tradisi di lingkungan Muhammadiyah yang mengabadikan tokohnya menjadi nama masjid. Sebelumnya telah ada nama mantan Ketua Umum Muhammadiyah AR Fachrudin yang menjadi nama masjid di Kampus III UMM.

Tetapi di luar itu semua, semangat yang ingin ditumbuhkan adalah persatuan dan akulturasi budaya. Desain RS UMM dan Masjid KH Bedjo Dermo Leksono sebagai salah satu bentuk aplikasinya. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini