KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Turuti pungli, rumah kanker di Lenteng Agung tetap dibongkar

Jumat, 17 Oktober 2014 05:38 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Rumah singgah kanker di Lenteng Agung. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Tindakan pembongkaran dan penyegelan yang dilakukan Suku Dinas Pengawasan dan Perizinan Bangunan (P2B) Jakarta Selatan, terhadap bangunan di Jl AMD, RT 09 RW 01, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang akan dijadikan rumah singgah bagi para penderita kanker sejak bulan Juni lalu, dikecam pemilik bangunan, Yayasan Peduli Kasih (YPK). Pihak Yayasan menduga ada permainan uang yang dilakukan oknum P2B.

"Karena mendapat izin, awal bulan April saya melakukan pembangunan. Bangunan pun sesuai permintaan yakni bangunan tersebut berupa knock down atau bongkar pasang," kata Kepala Yayasan peduli Kasih James B Lumintha saat ditemui di lokasi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (16/10).

James mengatakan, meski mengetahui jika area tanah tersebut merupakan Penyempurna Hijau Taman (PHT) sehingga tak boleh mendirikan bangunan secara permanen. Namun, pihak yayasan telah melakukan komunikasi dan meminta izin ke Kasie P2B Kecamatan Jagakarsa.

Saat itu, ujar James, Kasie P2B Kecamatan Jagakarsa, Lucky telah memberikan izin. Namun dengan syarat bangunan tidak boleh permanen dan selesai dalam empat bulan.

Menurut James, selama dua bulan berjalannya pembangunan, tidak ada masalah. Namun masalah datang di awal Juni saat beberapa oknum dari P2B kecamatan Jagakarsa mendatangi lokasi pembangunan.

James menerangkan, ada dua oknum P2B kecamatan Jagakarsa yang datang dan meminta dana kepadanya sebesar Rp 200 Juta untuk biaya koordinasi dengan atasan. Kepadanya, dua oknum itu mengatakan jika uang tersebut digunakan untuk mendapatkan izin membangun sementara.

"Setelah mereka pulang, tiba-tiba datang petugas Kecamatan Jagakarsa mengantarkan SP (Surat Peringatan) Nomor 445 dari P2B Sudin Jakarta Selatan," kata James.

Menurut James, kedua oknum itu bukan sekali mendatangi pihak yayasan. Mereka kembali mendatangi yayasan pada tanggal 12 Juni dan 16 Juni.

"Kedatangannya kedua oknum tersebut pun kembali menanyakan soal uang koordinasi yang diminta pada awal Juni lalu. Karena khawatir dengan pembangunan yang berjalan kontraktor menyerahkan dana sebesar Rp 45 Juta," ujarnya.

"Saat itu (uang) diserahkan kepada Kasie P2B Jagakarsa. Kami juga tidak mendapatkan bukti apa-apa usai penyerahan dana koordinasi tersebut. Tapi saya ada rekamannya," katanya.

Merasa sudah menyerahkan dana koordinasi tersebut pihak YPK pun kembali melaksanakan proyek tersebut. Hanya saja pada tanggal 24 Juni James mendapatkan kabar kalau bangunan akan dibongkar pada hari itu juga oleh P2B.

"Siang harinya sekitar pukul 11.00, bangunan benar-benar dibongkar oleh petugas P2B," jelas James.

Sementara itu, Kasudin P2B Jakarta Selatan Dedy Wiryaman tidak bisa dimintai keterangan soal permintaan uang koordinasi ini. Begitu juga dengan Kasie P2B Kecamatan Jagakarsa, Lucky. [ren]

Topik berita Terkait:
  1. Pungutan Liar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.