Try Sutrisno Nilai Pemilihan Langsung Tak Ideal Diterapkan di Indonesia

Rabu, 30 Oktober 2019 05:03 Reporter : Purnomo Edi
Try Sutrisno Nilai Pemilihan Langsung Tak Ideal Diterapkan di Indonesia Dialog Kebangsaan di Gambir. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Mantan Wakil Presiden, Try Sutrisno mengkritisi sistem pemilihan yang ada di Indonesia paska reformasi. Menurutnya sistem pemilihan langsung tak ideal diterapkan di Indonesia.

Mantan Panglima ABRI ini mengungkapkan, sistem pemilihan langsung saat ini tak sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945. Bila sesuai dengan UUD 1945, sistem pemilihan adalah sistem perwakilan dan berdasarkan permusyawaratan.

Dia menilai, pergeseran pemilihan Presiden menjadi sistem langsung merupakan buah dari amandemen UUD 1945. Menurutnya amandemen UUD 1945 ini tak sesuai dengan UUD 1945 aslinya yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa.

"Buktinya MPR sekarang sudah bukan MPR yang dulu. Itu sistem kita MPR itu. Rakyat yang di situ. Makanya ada tiga, DPR, utusan daerah dan utusan golongan. Tugasnya menentukan haluan rakyat mau kemana. Selain itu dia (MPR) memilih mandatarisnya. Mandatori MPR adalah Presiden," ujar Try Sutrisno di Yogyakarta, Selasa (29/10).

Dikembalikannya UUD 1945 ke naskah asli, sambung Try Sutrisno membawa sejumlah implikasi. Diantaranya mengembalikan peran dan fungsi MPR.

"Pemilihan Presiden ya kita lihat saja nanti. Kalau sudah konsekuen kembali ke yang asli. MPR kembali sebagai lembaga tertinggi, yang membuat GBHN, sistem kita itu sistem perwakilan dan permusyawaratan. Sila keempat," tegasnya.

"Gak ada langsung-langsung (pemilihan langsung) itu. Yang dipilih cuma DPR. yang namanya Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati dipilih oleh DPR-DPR itu. Semua kok langsung. Gimana ini. Wong yang liberal aja gak gitu. Amerika yang liberal aja gak gitu. Bukan one man one vote. (Di Amerika) Ada 500 orang diwakili satu. Kitakan satu orang semuanya nyoblos," imbuh Try Sutrisno.

Dia menambahkan ada sejumlah dampak negatif dari sistem pemilihan langsung. Dampak negatif ini dari pemborosan anggaran hingga ancaman perpecahan bangsa.

"(Pemilihan langsung) pemborosan uang, pemborosan tenaga, pemborosan energi. Belum lagi side effect akibat pemilihan langsung. Terpecah ini bangsa. Kalau MPR, MPR saja. Wakil (yang duduk di MPR) kita yang pilih. Kita lihat saja nanti. Makanya hati-hati pilihlah MPR yang betul-betul bisa membawa aspirasi rakyat," tutup Try Sutrisno. [fik]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini