Trauma Warga Desa Sagara Minta Lokasi Pemusnahan Amunisi Dipindah Usai Tewaskan 13 Orang Tewas
Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan tim gabungan.
Sudah sejak lama lahan milik BKSDA Kabupaten Garut dipakai untuk lokasi pemusnahan amunisi milik TNI AD. Namun kemarin, Senin (12/5), kejadian tak diduga membuat warga syok. Belasan jiwa melayang akibat ledakan saat proses pemusnahan detonator.
Peristiwa itu membuat warga trauma. Utamanya, mereka yang tinggal di sekitar di Pantai Cijeruk-Cimerak. Mereka tak mau kejadian itu kembali terulang. Sehingga sangat berharap lokasi pemusnahan dipindah.
"Trauma, sekarang banyak warga yang meminta agar area pemusnahan amunisi jangan di wilayah kami lagi," ungkap Kepala Desa Sagara, Alit Saripudin, saat diwawancarai.
Alit mengakui sudah sejak lama lahan di sekitar Pantai Cijeruk-Cimerak digunakan pihak TNI untuk kegiatan pemusnahan amunisi kedaluwarsa.
"Kalau enggak salah sejak tahun 2000 an sudah dipakai, tapi karena ada musibah itu, akhirnya menjadi warga trauma," tambahnya.
Selama ini, katanya, proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa berjalan lancar. Bahkan ketika ada kegiatan pemusnahan berlangsung, aktivitas warga dihentikan sementara demi menjaga keselamatan.
"Kalau bisa setelah musibah ini, mohon area pemusnahan amunisi untuk direlokasi ke daerah lain," kata Alit.
Musibah ledakan amunisi menyebabkan jatuhnya korban baik dari kalangan sipil maupun militer, menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan relokasi tersebut.
"Kami berharap pemerintah pusat mengkaji ulang lokasi pemusnahan amunisi ke daerah yang lebih aman," tutupnya.
Terdapat 13 orang yang meninggal dunia
Seperti diketahui, insiden pemusnahan amunisi yang sudah kadaluwarsa pagi ini mengakibatkan tewasnya belasan orang, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Berikut adalah daftar identitas 13 korban yang kehilangan nyawa akibat ledakan amunisi di Garut. Dari pihak militer, terdapat empat anggota TNI AD yang menjadi korban, yaitu: 1. Kolonel Cpl Antonius Hermawan, ST., MM dari Tim Gupusmu III Jakarta, 2. Mayor Cpl Anda Rohanda, juga dari Tim Gupusmu III Jakarta, 3. Kopda Eri Dwi Priambodo, yang juga merupakan bagian dari Tim Gupusmu III Jakarta, dan 4. Ratu April Setiawan, yang turut serta dalam Tim Gupusmu III Jakarta.
Sementara itu, dari kalangan warga sipil, terdapat sembilan korban yang juga teridentifikasi. Mereka adalah: 5. Agus Bin Kasmin, yang berasal dari Kp. Cimerak, Kec. Cibalong, 6. Ipan Bin Obar, juga warga Kp. Cimerak, Kec. Cibalong, 7. Anwar Bin Inon dari Kp. Cidahon, Kec. Pameungpeuk, 8. Endang, yang tinggal di Kec. Singajaya, 9. Iyus Ibing Bin Inon dari Kp. Cidahon, Kec. Pameungpeuk, 10. Iyus Rijal, warga Kp. Cimerak, Kec. Cibalong, 11. Toto, juga warga Kp. Cimerak, Kec. Cibalong, 12. Dadang dari Kp. Sakambangan, Kec. Cibalong, dan 13. Rustiawan, yang juga berasal dari Kp. Cimerak, Kec. Cibalong. Kejadian ini sangat disayangkan dan menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang.