TKN Tantang BPN Adu Data di Pleno Rekapitulasi Suara KPU

Kamis, 16 Mei 2019 13:07 Reporter : Ahda Bayhaqi
TKN Tantang BPN Adu Data di Pleno Rekapitulasi Suara KPU Rekapitulasi Pemilu 2019 Provinsi DKI Jakarta. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga menantang Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno untuk adu data dalam pleno rekapitulasi suara di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal itu menanggapi tuduhan kecurangan Pemilu dan klaim kemenangan pasangan calon presiden nomor urut 02 sebanyak 54 persen.

"Saya tantang 02 di pleno KPU, kalau enggak berani mereka pengecut," ujar Arya di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Kamis (16/5).

KPU tengah melakukan rekapitulasi sejak tanggal 10 sampai 22 Mei 2019. Menurut Arya masa pleno ini tepat untuk menyampaikan data yang dimiliki kubu Prabowo.

Politisi Partai Perindo itu mengatakan, TKN bakal menyiapkan data untuk disandingkan dengan milik BPN. "Kalau kamu berani adu data, kamu bawa itu ke KPU," kata Arya.

Dia menantang untuk membuka form C1 yang dimiliki BPN Prabowo dalam rapat pleno tingkat nasional. Arya bercerita, saat pleno tingkat kecamatan, kubu 02 gagal menunjukkan kecurangan. Bahkan saksi kubu 02 terus hadir sampai di pleno tingkat provinsi.

Di pleno tingkat nasional ini, Arya menantang apakah kubu Prabowo bisa menunjukkan data C1 asli yang menjadi dasar klaim.

"Sekarang kami tantang kalau benar 02 punya C1 asli dan mengatakan ada kecurangan, kami tantang di KPU. Ikut pleno di KPU, tantang di pleno. Berani gak. Kalau tidak berani, berarti data mereka bodong," lanjutnya.

Sementara terkait klaim BPN suara unggul 54,24 persen, Arya mencurigai data kubu Prabowo karena suara yang masuk baru 54 persen. Dia menuding mengapa Prabowo menang karena hanya mengambil data dari provinsi lumbung suara. Belum lagi, Arya menilai suara masuk itu tidak konsisten karena sebelumnya klaim menang di angka 62 persen saat suara masuk di internal BPN 40 persen.

"Ini kejanggalan mereka bahwa tidak konsisten dengan data yang mereka miliki. Ini membuat kita yakin apa yang mereka sampaikan selama ini itu adalah banyak bolongnya," ujar Arya.

Arya menyoroti tuduhan kecurangan Prabowo terkait penggelembungan suara di Jawa Timur. Kubu Prabowo, kata Arya, mencontohkan perbandingan suara sah di Pilkada Jatim 2018 dengan Pilpres 2019 yang meningkat, kendati jumlah DPT sama di kisaran 30 juta orang. Arya menilai kenaikan suara sah di Pilpres naik karena tingkat partisipasi berbeda. Pilkada Jatim sebesar 69,54 persen, sedangkan Pilpres 80 persen.

Sementara, lanjut Arya, di wilayah lain tidak disoroti oleh kubu Prabowo. Padahal tingkat partisipasi sama-sama naik. Wilayah itu hanya di tempat Prabowo menang seperti di Jawa Barat dan Sumatera Barat.

"Tapi karena mereka menang, tidak mereka apa-apakan. Itu kenapa enggak dibilang sebagai data siluman?" imbuhnya.

Selain itu, Arya juga menyoroti jumlah DPT yang dituding aneh oleh kubu Prabowo. Yaitu ada orang yang banyak tanggal lahirnya serupa. Menurut Arya hal tersebut keliru karena harusnya yang dicek adalah Nomor Induk Kependudukan.

"Ini katanya TPS siluman, Desa Ngadegan Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jabar. Kami cek TPS-nya TPS 13 di Situng KPU. Ternyata yang menang 02. Kalau ini mengada-ada, kok menguntungkan 02?" jelas Arya.

"Ini makin dibongkar datanya makin lucu. Lama lama kita bilang dagelan juga ini," tandasnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini