Tinjau Pendaftaran Siswa Baru, Sekda Depok Sebut Banyak Orang Tua Terkena Hoaks

Rabu, 19 Juni 2019 03:36 Reporter : Nur Fauziah
Tinjau Pendaftaran Siswa Baru, Sekda Depok Sebut Banyak Orang Tua Terkena Hoaks Antrean pendaftaran siswa baru di SMA 1 Depok. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Hari kedua Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dan SMK Negeri di Depok masih saja diwarnai dengan suasana antrean panjang. Bahkan masih ada orang tua yang sengaja datang dini hari ke sekolah untuk mendapatkan nomor urut kecil. Mereka beranggapan jika mendapat nomor urut kecil maka akan bisa diterima di sekolah tujuan. Banyak orang tua yang mendapatkan informasi keliru perihal teknis pendaftaran.

"Ya ini karena ada kesalahpahaman. Ada anggapan dan informasi yang menyebutkan pendaftar pertama yang datang duluan akan mendapat prioritas diterima. Padahal, enggak ada yang bikin pengumuman begitu. Itu hanya berita hoaks saja. Sedangkan pendaftaran dibuka sampai 29 Juni ini masih lama, kenapa harus berbondong-bondong," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok Hardiono, Selasa (18/6).

Sekda menuturkan bahwa panitia PPDB di tiap sekolah sudah melakukan sosialisasi. Panitia juga menyampaikan mekanisme pendaftaran. Dia menyarankan agar dibuatkan spanduk mengenai mekanisme pendaftaran agar dipahami orangtua calon siswa. "Nanti PPDB SMP dan SMA Negeri sekarang ini kami harap pasang spanduk informasi soal mekanisme pendaftaran besar-besar, supaya paham dan jelas," ucapnya.

Pihaknya pun akan mengevaluasi untuk peningkatan pelayanan ke depannya. Karena kewenangan untuk SMA dan SMK saat ini ada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kita akan sinkronisasi yang antara Disdik Depok dan Jabar untuk terus ditingkatkan. Dan masukan masyarakat diterima dan menjadi bahan evaluasi demi peningkatan pelayanan publik. Karena pendidikan ini wajib dan merupakan pelayanan dasar. Oleh karena itu kewajiban pemerintah provinsi, kabupaten dan kota harus ada perbaikan," tukasnya.

Terkait wacana pengembalian tanggung jawab SMA dan SMK negeri ke Pemkot Depok, Hardiono mengatakan perlu tenaga dan pikiran menyikapi wacana tersebut. Meski begitu, Pemkot Depok berjanji akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Barat.

"Seharusnya terus dievaluasi (PPDB). Tapi ini kan baru saja dipindah ke Pemprov untuk tanggung jawabnya, itu perlu tenaga dan pikiran. Oleh karenanya biarkan perjalanan. Nanti baru evaluasi," kata dia.

Sementara itu, Aska salah satu wali murid mengatakan dia sudah mendaftar mengaku sudah dua kali ke SMA Negeri 1 Depok sejak kemarin dan hari ini. Hari pertama kemarin kata dia proses PPDB di SMAN 1 Depok sangat tidak teratur. "Kemarin sudah ke sini tapi ramai banget jadi pulang. Hari ini ke sini lagi, kalau hari ini nggak terlalu ribet antreannya," katanya.

Dia mengaku sengaja mendaftarkan anaknya ke SMAN 1 Depok karena jaraknya yang dekat dengan rumah. Selain itu, ia dan sebagian warga Depok masih menganggap SMAN 1 Depok adalah sekolah favorit. "Ya harapannya supaya sekolah memprioritaskan siswa barunya yang dekat dengan rumahnya. Kan ini sistem zonasi, tidak ada yang nitip menitip," ucap warga Mampang, Pancoran Mas itu.

Kasi Kurikulum dan Penilaian SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok M Yusuf menyebutkan, ada 27.320 anak siswa SMP yang lulus tahun ini untuk melanjutkan sekolah di tingkat SMA atau SMK. Jumlah puluhan siswa itu terdiri dari lulusan SMP negeri, swasta sebanyak 221 sekolah dan 73 sekolah MTS negeri dan swasta.

"Iya yang lulus puluhan ribu anak siswa SMP dan MTS negeri dan swasta yang ada di Kota Depok tahun ini," katanya. [bal]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini