Tinggalkan Afghanistan, Enam Tahun Hidup Ali Tanpa Kepastian

Rabu, 4 September 2019 15:24 Reporter : Merdeka
Tinggalkan Afghanistan, Enam Tahun Hidup Ali Tanpa Kepastian Pencari Suaka di Kalideres. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Lima minibus terparkir di depan eks Komando Distrik Militer (Kodim) Kalideres, Jakarta Barat. Bersiap mengangkut ratusan pencari suaka yang tersisa. Kamis (4/9), menjadi hari terakhir bagi mereka untuk pindah dari gedung milik pemerintah itu.

"Besok penampungan ini akan ditutup, dan kami tidak punya tempat lain, juga tidak akan mendapat uang lagi," ungkap Ali, seorang pengungsi asal Afghanistan.

Pria 25 tahun yang enggan menyebutkan nama lengkapnya itu, terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya akibat perang melanda. Hingga hari ini, sudah enam tahun dia mencari kepastian di Indonesia.

Warung kopi yang berada di belakang tembok eks Kodim menjadi tempat Ali dan lima rekannya melepas penat. Di pelataran gedung, sejumlah anggota United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), tengah bernegosiasi agar para pengungsi mau dipindahkan.

Sebagai pengungsi perang, nasib Ali dan pencari suaka lainnya berada di tangan UNHCR, komisioner PBB untuk pengungsi. Ali mengaku tidak berniat datang ke Indonesia sebagai negara tujuan. Hidupnya kini tergantung UNHCR.

"UNHCR menentukan kasus kami. Ke mana kami akan pergi, apakah Australia, Amerika Serikat, Kanada atau negara lain, semua tergantung pada UNHCR," jelas Ali.

Dia menceritakan telah berkali-kali dipindahkan oleh UNHCR dari satu penampungan ke penampungan lain. Sekitar Jakarta dan Bogor. Ali mengaku, baru dua bulan terakhir menempati penampungan sementara di eks Kodim Kalideres.

Pemerintah, telah menginstruksikan pemindahan pengungsi dari eks Kodim Kalideres dan seharusnya selesai akhir bulan lalu. Belasan bus telah disiapkan sejak 22 Agustus, namun negosiasi dengan pengungsi tetap berjalan alot.

Menurut saksi yang kami temui di lokasi, sebelumnya ada lebih dari seribu pengungsi yang tinggal di gedung eks Kodim Kalideres. Tenda-tenda kemah mereka bahkan memenuhi trotoar jalan di sekitar gedung.

Menurut Ali, pengungsi enggan pindah karena solusi yang diberikan UNHCR tidak sebanding. Para pengungsi hanya dibekali uang Rp 1 juta untuk mencari tempat tinggal baru.

"Bayangkan, bagaimana kami hidup hanya dengan satu juta rupiah?" ucap Ali berapi-api.

Hari ini, Rabu (4/9) penjagaan terlihat jauh lebih ketat dari hari-hari sebelumnya. Puluhan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan belasan pasukan polisi Polda Metro Jaya di pintu masuk gedung hingga seberang jalan. Sementara, tenda UNHCR yang berdiri tepat seberang jalan terpantau sibuk melayani pengungsi yang bergantian datang. Mereka dibujuk untuk pindah ke tempat lain.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Pencari Suaka
  2. Afghanistan
  3. UNHCR
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini