Tibo CS Ungkap Keterlibatan Majelsis GKST Poso

Minggu, 16 April 2006 11:13 Sumber :
Tibo CS Ungkap Keterlibatan Majelsis GKST Poso
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Terpidana mati kasus Poso, Fabianus Tibo, mengungkapkan selain 16 tokoh yang pernah mereka sebutkan, juga Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena--kota kecil di tepian Danau Poso-- terlibat secara langsung dalam kerusuhan Poso.

"Saya tidak tahu mengapa (mereka yang memegang jabatan di Majelis Sinode) tidak pernah diperiksa polisi," kata Tibo (60) dalam wawancara eksklusif dengan sejumlah wartawan di LP Petobo Palu, tempat mereka ditahan, Sabtu.

Ia menjelaskan, ketelibatan para tokoh di GKST itu antara lain dengan memberikan dukungan moril serta lainnya kepada massa "Pasukan Merah" yang hendak menyerang warga muslim di wilayah Poso.

"Saya katakan bahwa sebelum kami turun ke Poso, kami didoakan di halaman GKST oleh para pendeta," kata dia meyakinkan.

Tibo ketika itu sempat menyebutkan beberapa nama yang memimpin Pasukan Merah saat melakukan penyerangan, antara lain Paulus Tungkanan, Eric Rombot, Lempa Deli, serta Angki Tungkanan sebagai panglima pasukan.

"Mereka semua harus ditangkap polisi untuk menjalani proses hukum agar ada keadilan, termasuk Yahya Patiro (mantan Sekab Poso) yang sudah dikonfrontir dengan saya," tuturnya menambahkan.

Keterangan senada disampaikan oleh Dominggus da Silva (43), rekan Tibo yang juga dijatuhi pidana mati dan tinggal menunggu pelaksanaan eksekusi.

Dengan nada bicara meledak-ledak, Dominggus bahkan mendesak polisi segera menangkap Yahya Patiro untuk menjalani proses hukum.

"Saat itu saya berada di kantor GKST dan mengangkat telepon dari Yahya yang mencari Tungkanan. Karena Tungkanan tidak ada di tempat, Yahya kemudian menitip pesan supaya Tungkanan menghalangi jalan (Trans Sulawesi) yang akan masuk pasukan TNI dari arah Palopo, Sulawesi Selatan," katanya.

Seluruh ruas jalan masuk wilayah Poso pada saat penyerangan Pasukan Merah akhir Mei hingga awal Juni 2000 memang dipenuhi tumbangan pepohonan, sehingga menyulitkan warga muslim mengungsi untuk menyelamatkan diri ke kabupaten tetangga.

Ruas-ruas jalan Trans Sulawesi dan Jalan Provinsi di wilayah Poso baru normal kembali setelah Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro yang ketika itu langsung memimpin operasi pemulihan keamanan membawa puluhan bulduzer dan panser disertai

ribuan pasukan TNI dari berbagai kesatuan.

Masih, menurut Dominggus, posisi Yahya Patiro sebelum rencana penyerangan dilaksanakan yakni sebagai salah seorang yang mengatur strategi selain berperan memerintahkan panglima perang Pasukan Merah.

Salah seorang terpidana kasus kerusuhan Poso dan tengah menjalani hukuman 12 tahun penjara di LP Petobo Palu, Heri Mengkawa, juga mengungkapkan keterlibatan Yahya Patiro dalam kerusuhan Poso.

"Dia itu terlibat, sekalipun dalam beberapa kali pertemuan (dikonfrontir oleh polisi dengan para terpidana) yang bersangkutan membantahnya," kata Mengkawa.

Kepada sejumlah wartawan di Palu sebelumnya, Kapolda Sulteng Brigjen Pol Drs Oegroseno mengklarifikasi jumlah nama yang disebutkan Tibo terlibat dalam kerusuhan Poso.

"Dari mulut Tibo sendiri tidak pernah menyebut 16 nama, tapi hanya 10 nama termasuk di antaranya Yanis Simangunsong, L. Tungkanan, Eric Rombot, dan Mama Wanti," tuturnya.

Masih, menurut Kapolda Oegroseno, terpidana Tibo juga tidak pernah menyebutkan nama Yahya Patiro masuk dalam daftar 16 nama yang selama ini diberitakan oleh media massa sebagai aktor kerusuhan Poso, namun ketambahan itu justru dimasukkan oleh seseorang bernama Anca.

Polisi sendiri hingga kini masih mengendus siapa oknum yang bernama Anca.

Sementara itu, informasi diperoleh ANTARA dari Polda Sulteng menyebutkan pihaknya penyidik polisi terus mengusut belasan nama yang direkomendasikan Tibo dkk sebagai aktor intelektual kasus kerusuhan Poso pertengahan tahun 2000.

"Delapan dari 10 orang yang diduga terlibat sudah menjalani pemeriksaan dan telah dikonfrontir dengan para terpidana di LP Petobo," kata seorang penyidik polisi.

Sementara dua nama lainnya, menurut sumber, sedang diupayakan petugas untuk didatangkan ke Palu dari Tentena.

"Ya, jika beberapa kali dipanggil secara baik-baik tidak juga datang, maka atas nama negara polisi akan melakukan penjemputan secara paksa," kata dia.

Sumber juga mengatakan, pihaknya hingga kini belum menetapkan seorang dari 10 nama yang direkomendasikan Tibo dkk sebagai tersangka.

"Kasusnya masih dalam pendalaman. Tolong anda bersabar dan nanti atasan kami yang akan memberikan keterangan kepada media massa," tuturnya mengelak ketika ditanyakan mengenai perkembangkan hasil penyelidikan.

Lebih seribu terbunuh

Kerusuhan Poso yang mencapai klimaksnya Mei-Juni 2000 mengakibatkan lebih 1.000 orang terbunuh dan hilang. Korban terbanyak adalah warga kompleks Pesantren Walisongo di Kelurahan Sintuwu Lembah, sekitar sembilan kilometer selatan kota Poso.

Peran Tibo, Dominggus, dan Marinus, saat pecah kerusuhan di Poso bersamaan waktunya dengan penyelenggaraan MTQ Nasional ke-19 di Palu disebut-sebut oleh banyak saksi di pengadilan in fact sebagai aktor penggerak di lapangan, selain membunuh dengan tangannya sendiri banyak manusia dengan cara sadis.

Sungai Poso yang membelah kota Poso menjadi saksi sejarah akibat pertikaian massal yang asal-muasalnya hanya dipicu persoalan sepeleh yaitu orang yang lagi mabuk akibat menenggak minuman keras dan membuat keonaran di kompleks Masjid.

Selama beberapa pekan pada puncak kerusuhan, kota Poso dan sekitarnya bersimbah darah dan dihiasi ratusan bangkai manusia yang sudah tidak utuh lagi.

Fenomena mengerikan itu telah berlalu dan kini kondisi kamtibmas di seluruh wilayah kabupaten pengasil eboni (kayu hitam) itu telah normal kembali, bahkan antara kelompok yang sebelumnya bertikai sudah membaur dan bekerjasama membangun kembali daerah mereka yang porak-poranda.

Kini, Tibo dkk yang berada dalam tahanan khusus Lembaga Pemasyarakatan Petobo Palu tinggal menunggu hari pelaksanaan eksekusi mati. (*/rit)

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini