Tertatih-tatih Jalankan Usaha di Tengah Wabah Corona

Kamis, 9 April 2020 11:48 Reporter : Bachtiarudin Alam
Tertatih-tatih Jalankan Usaha di Tengah Wabah Corona Roemah Coffee Eatery. ©2020 Merdeka.com/Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 memukul banyak bidang ekonomi di Tanah Air. Tak terkecuali bisnis yang bergerak di bidang makan dan minuman.

Yogi Dewantara, pemilik kafe Roemah Coffee Eatery n Hub di kawasan Margonda Depok, menceritakan kondisi usahanya kini. Tepatnya, sejak Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pasien positif corona pada Senin 2 Maret 2020.

Sebagai pengusaha kafe yang tidak hanya menjual kuliner melainkan tempat dan suasana, wabah Corona ini seperti pukulan. Cepatnya penyebaran virus saat antar orang berinteraksi membuat kebijakan physical distancing sampai stay at home diberlakukan. Dampaknya, usahanya menjadi sepi pengunjung.

"Memang mungkin kalau usaha kuliner lain masih bisa, tapi kalau untuk kafe itu sulit sekali. Kalau ada yang bilang bisa memanfaatkan layanan online, itu tidak bisa buat jangka panjang. Oke buat bulan Maret bisa karena sempat pemasukan normal, tapi untuk melanjutkan di April ini yang berat," kata Yogi berbagi kisah kepada merdeka.com, Kamis (9/4).

Kafe milik Yogi menjajakan beragam sajian kopi dan kuliner kekinian dengan 'view modern' terpaksa menutup sementara usahanya sejak 24 Maret 2020 kemarin.

1 dari 1 halaman

Layanan Order Online Belum Jadi Solusi

Sebenarnya, kaya Yogi, dia coba mengalihkan fokus jualannya dengan memanfaatkan order online. Mulai dari membuat menu low cost sampai mengurangi jam kerja karyawan. Tetapi semua itu masih belum membuahkan hasil.

"Layanan order online bukan sebuah solusi jangka panjang bagi kita pemilik cafe. Okelah untuk para pengusaha kuliner lain masih bisa, tapi tidak buat kita parah pengusaha cafe. Walaupun sudah membuat menu yang murah, kita kalau disuruh bersaing dengan yang fokus di kuliner akan kalah," ungkapnya.

Yogi menilai, efektivitas layanan pesan makanan online akan semakin menurun karena masyarakat sudah mulai menghitung pendapatannya selama wabah ini berlangsung.

"Orang sudah mulai berhitung untuk kehidupan sehari-hari pribadinya. Masuk bulan April sudah mulai daya beli masyarakat menurun. Mereka akan lebih baik masak sendiri, ketimbang pesan makanan online," ujarnya.

"Terlebih jalan Margonda yang saat ini sudah sepi, itu sudah menjadi cobaan resiko yang berat. Untuk bulan mungkin telah menyiapkan tabungan pribadi bila terjadi kekurangan," sambungnya.

Pengusaha Butuh Bantuan Pemerintah

Yogi sempat berpikir membuka usahanya kembali di tanggal 13 April mendatang. Tetapi, wilayah Depok sudah mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus corona.

"Kita sudah rencana buka tanggal 13 nanti, eh ada peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) walaupun usaha seperti makanan masih boleh beroperasi,"

Kini, Yogi hanya bisa berpasrah pada keadaan. Dia berharap bantuan juga diberikan pemerintah pada pelaku usaha sepertinya. Seperti keringanan pajak dan listrik.

"Seharusnya bantuan bagi pengusaha UMKM, karena kalau pengusaha bergeliat otomatis para pekerja juga bisa tetap bekerja sesuai sektor-sektor yang memang boleh beroprasi," jelas Yogi.

"Kalau pemerintah berikan bantuan seperti penghapusan pajak PPH 10 persen bagi produk usaha. Itu pasti bisa setidaknya membuat ekonomi bergeliat di tengah pandemi covid," pungkasnya. [lia]

Baca juga:
Kasus Positif Corona Pertama Indramayu Terungkap, Gugus Tugas Beri Penjelasan
Pemkab Tangerang Siapkan Rp50 M Per Bulan Bantu Pekerja Informal Terdampak Covid-19
Data Kasus Covid-19 9 April di DKI: 1.632 Positif, 82 Sembuh, 149 Meninggal
Zoom Rawan Diretas Hacker, Kominfo Ingin Buat Aplikasi yang Lebih Aman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini