Tersangka Kasus Rasisme Mahasiswa Papua di Surabaya Ajukan Praperadilan

Selasa, 1 Oktober 2019 13:49 Reporter : Erwin Yohanes
Tersangka Kasus Rasisme Mahasiswa Papua di Surabaya Ajukan Praperadilan Nur Azizahtus Shoifah, istri tersangka kasus rasisme Syamsul Arif. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Tidak terima ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi dalam kasus diskriminasi ras atau rasial saat insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Syamsul Arif (SA) mengajukan praperadilan. Dia memastikan bakal menguji pasal-pasal yang disangkakan kepadanya di pengadilan.

Upaya praperadilan ini disampaikan oleh kuasa hukum SA, Hishom Prasetyo Akbar. Ia menyatakan, dalam upaya praperadilan ini kliennya menuntut keadilan lantaran dituduh telah melakukan tindakan rasis.

"Pada prinsipnya kami ajukan praperadilan, karena kami merasa pasal-pasal yang ditujukan pada klien kami oleh penyidik sebagai tersangka patut untuk diuji, ini adalah momentum yang tepat untuk kami membuktikan Indonesia sebagai negara hukum yang menganut trias politica, akan menjunjung tinggi penegakan hukum," ujarnya usai sidang praperadilan, Selasa (1/10).

Ia menambahkan, dalam upaya ini pihak keluarga berharap agar pengadilan dan hakim dapat bertindak adil dan menunjukkan bahwa apa yang disangka pada kliennya adalah tidak tepat dan lemah.

Apalagi, dalam kasus ini kliennya adalah orang yang ada dalam video, bukan sebagai pihak yang membuat maupun yang menyebarkan video.

"Kami berharap pengadilan dan hakim dapat bertindak adil dan menunjukkan ini tidak tepat, ini lemah dan kami berharap masalah ini dapat segera diselesaikan. Pada prinsipnya kami ingin menguji pasal yang disematkan pada klien kami, karena cukup banyak pasalnya. Dia bukan orang yang membuat dan menyebar video," tegasnya.

Lantas, siapa yang digugat dalam kasus ini, Hishom mengatakan bahwa pihaknya mempraperadilankan Kapolda CQ Direktur Reserse Kriminal Khusus selaku penyidik.

"Termohon kapolda CQ Direskrimsus selaku penyidik. Kerusuhan di belahan Indonesia mana pun, sangat tidak arif bila itu dibebankan pada klien kami dan beberapa orang lainnya. Munculnya kerusuhan tidak serta merta dari apa yang terjadi di Surabaya. Jangan hanya karena satu dan lain hal yang masih belum dibuktikan secara hukum kemudian disimpulkan Surabaya Rasis," tambahnya.

Sementara itu Nur Azizahtus Shoifah, istri tersangka SA mengatakan menuntut keadilan karena sang suami telah dituduh rasis. Ia pun meragukan bukti-bukti yang dimiliki polisi dapat menjerat sang suami.

"Saya menuntut keadilan saja, karena suami saya dituduh rasis. Padahal suami saya tidak rasis, suami saya sedang bertugas. Saya menuntut keadilan apa benar bukti-bukti yang dimiliki benar-benar bisa menjerat suami saya. Dia memang yang memasang bendera di depan asrama sampai dua kali," tegasnya.

Sebelumnya, dalam kasus insiden di Asrama Mahasiswa Papua, Polda Jatim telah menetapkan tiga tersangka di antaranya koordinator aksi pengepungan asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Tri Susanti alias Mak Susi, sebagai tersangka ujaran kebencian dan provokasi insiden tersebut.

Kemudian Syamsul Arif tersangka tindak diskriminasi ras serta satu tersangka atas nama Veronica Koman juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jatim karena dianggap telah menyebarkan hoaks dan provokasi dalam kaitannya dengan Papua. Ia pun dijerat dengan undang-undang berlapis, yakni, UU ITE, KUHP pasal 160, UU no 1 tahun 1946 dan UU no 40 tahun 2008.

Hingga kini total sudah ada tiga tersangka dalam insiden Asrama Mahasiswa Papua, sejak 16 Agustus lalu. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Rasisme
  2. Papua
  3. Surabaya
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini