Terdakwa penerima suap klaim tak tahu soal uang titipan dari Kemendes

Jumat, 2 Februari 2018 12:06 Reporter : Yunita Amalia
Terdakwa penerima suap klaim tak tahu soal uang titipan dari Kemendes Tersangka kasus suap WTP di Kemendes. ©2017 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Mantan auditor badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Sadli jalani pemeriksaan sebagai terdakwa dalam sidang kasus suap terkait opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Dalam kesaksiannya, Ali mengklaim tak tahu menahu tujuan titipan yang diberikan mantan Irjen Kemendes PDTT, Sugito.

Ali tak menampik jika titipan tersebut berupa uang, namun disinggung uang tersebut berkaitan dengan hasil opini yang akan diberikan BPK kepada Kemendes PDTT, Ali membantah. Ia mengklaim ada tidaknya titipan Sugito kepada Rochmadi, auditor BPK, tidak mempengaruhi opini.

"Sebenarnya itu uang untuk apa?" tanya Ketua Majelis Hakim, Ibnu Basuki kepada Ali Sadli, Jumat (2/1).

"Saya juga enggak tahu," jawab Ali.

"Status Kemendes apa?" tanya Hakim Ibnu.

"Opininya tetap WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) pak," ujar Ali.

Kendati mengaku tak tahu menahu kaitan uang titipan Sugito kepada Rochmadi, Ali mengaku pernah mendengar adanya permintaan opini dari pihak Kemendes PDTT agar mendapat opini WTP, yang mana sebelumnya kementerian tersebut mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Permintaan tersebut diketahui Ali melalui tim pemeriksa BPK untuk Kemendes PDTT.

Jaksa kemudian kembali mengonfirmasi beberapa pertemuan yang dihadiri oleh Rochmadi sebagai ketua tim penanggung jawab pemeriksaan laporan keuangan Kemendes PDTT. Diduga pertemuan tersebut kerap membahas opini yang akan diberikan BPK terhadap Kemendes PDTT.

Lebih lanjut, jaksa juga menelisik adanya permintaan opini WTP melalui auditor lainnya di BPK, Choirul Anam.

"Tadi anda katakan setiap bertemu selalu menanyakan WTP oleh Pak Sugito. Kalau Choirul Anam apa ada disampaikan ada keinginan dari Pak Sugito pak irjen atau pak Sekjen untuk dapat WTP?" tanya Jaksa Ali Fikri.

"Kalau dari tim pernah cuma enggak sampai pribadi mas Choirul Anam. Saat itu saya jumpa sama tim karena saya dengar tim ke daerah tapi enggak bawa bahan untuk mengecek," ujarnya.

Selang beberapa saat itulah korban kesakitan dan tidak sadarkan diri. Oleh keluarga kemudian langsung dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Namun, saat mendapatkan penanganan medis dari dokter, karena kondisinya kritis, tidak lama kemudian korban meninggal. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini