Terbongkarnya Jaringan Prostitusi Online Libatkan Puluhan Siswi SMP di Samarinda

Rabu, 10 Februari 2021 14:17 Reporter : Saud Rosadi
Terbongkarnya Jaringan Prostitusi Online Libatkan Puluhan Siswi SMP di Samarinda ilustrasi Polisi Bongkar Prostitusi Online. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Tidak kurang 20 siswi SMP di Samarinda, Kalimantan Timur, diduga jadi korban prostitusi online. Mereka ditawarkan oleh muncikari lewat grup aplikasi pesan WhatsApp.

Desakan ekonomi, seperti keperluan kuota internet di masa belajar di rumah, jadi salah satu alasan mereka terpaksa melakoni bisnis itu.

Dugaan prostitusi lewat WhatsApp itu, terendus dalam pekan ini. Belakangan diketahui, grup WhatsApp itu, tidak hanya berisi anak siswi SMP, namun juga wanita dewasa.

"Jadi, ini awalnya anak saya sendiri diajak temannya, dan sempat masuk grup WhatsApp. Ternyata isinya, pornografi semua. Anak saya kemudian kasih tahukan ke saya," kata Fasilitator Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian PPA RI, Adji Suwignyo, dikonfirmasi merdeka.com, Rabu (10/2).

Adji menerangkan, dalam grup itu, juga diduga dilakukan transaksi open booking out (BO), salah satu member siswi SMP. "Ini sudah masuk prostitusi online, perdagangan orang," ujar Adji.

Menurut Adji, saat ini, dia tengah melakukan konseling siswi SMP, yang diduga terjebak dalam prostitusi online via WhatsApp itu. Jumlahnya, tidak kurang 20 siswi.

"Jadi, di dalam grup itu bertukar biografi. Sebagian anak, menawarkan temannya sendiri. Mereka mengambil fee," jelas Adji.

"Alasan siswi itu melakukannya, selain ekonomi, juga karena tidak ada pengawasan orangtua. Akhirnya, mereka ini kumpul-kumpul dengan teman. Buat beli pulsa, beli paket internet, ya cara seperti itu (open BO)," ungkapnya.

Adji berharap, orangtua mesti ketat mengawasi ponsel anaknya di rumah. "Orangtua mesti cek ponsel anak masing-masing. Khawatirnya, nanti lebih liar, dan terjerumus," sebutnya.

Selain itu, lanjut Aji, yang mengejutkan lagi saat dia mendatangi salah satu guest house di Samarinda.

"Jadi, saya sempat cek ke guest house. Yang melakukan check in itu orang dewasa. Tapi, yang main di guest house itu anak usia sekolah," demikian Adji. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini