Temui Panglima TNI, Jenderal Australia minta maaf hina Pancasila

Kamis, 9 Februari 2017 19:56 Reporter : Ramadhian Fadillah
Jenderal Australia minta maaf. ©puspen tni

Merdeka.com - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kasad Jenderal TNI Mulyono menerima kunjungan resmi Kepala Staf Angkatan Darat Australia Letnan Jenderal Angus Campbell di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Letnan Jenderal Angus Champbell datang ke Indonesia sebagai utusan Panglima Tentara Australia Marsekal Mark Binskin.

Letnan Jenderal Angus Champbell menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan hasil investigasi insiden yang terjadi pada lembaga pendidikan bahasa Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat Australia. Australia menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam dan permohonan maaf dari Panglima Angkatan Bersenjata dan Kepala Staf Angkatan Darat Australia atas insiden tersebut.

Champbell juga menyampaikan kepada Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bahwa militer Australia akan menghentikan kegiatan pelajaran pendidikan bahasa Indonesia dan melakukan pembenahan internal satuan dan staf, tenaga pengajar dan personel yang terlibat serta merevisi materi pelajaran.

"Australian Defence Force juga menerapkan sanksi tegas kepada seluruh personel yang terlibat dan bertangggung jawab atas kejadian tersebut, yang berdampak terhadap karier mereka," katanya.

Pada pertemuan tersebut, Jenderal menyampaikan terimakasih atas respons maupun tanggapan dari militer Australia yang mengambil langkah cepat dan tegas.

"Pancasila merupakan ideologi negara Indonesia maupun bagi seluruh rakyat, sehingga rakyat Indonesia rela mati untuk membela ideologinya, apalagi bagi seorang prajurit TNI dan hal itu sangat sensitif dan menyakitkan," tegas Panglima TNI.

Namun Panglima TNI telah menerima permohonan maaf tersebut dan menyadari bahwa pada era kompetisi global saat ini, persatuan dan persahabatan sangat diperlukan bagi Negara bertetangga dengan tidak mengenyampingkan perbedaan yang ada.

Pada akhir pertemuan tersebut, Panglima TNI belum mengambil keputusan atas kelanjutan hubungan kerja sama militer antar kedua Negara, tetapi akan berdiskusi dengan Menteri Pertahanan RI dan Menteri Luar Negeri RI, selanjutnya bersama-sama akan melaporkan kepada Presiden Jokowi.

Kasus ini sempat ramai beberapa waktu. Seorang perwira Kopassus yang mengajar di pusat pendidikan Pasukan Khusus Australia menyaksikan ada penghinaan terhadap Pancasila dan lambang negara. [ian]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.