Tekan Angka Kematian, Satgas Tingkatkan Pengetahuan Nakes Tangani Pasien Covid-19

Jumat, 4 Juni 2021 17:10 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Tekan Angka Kematian, Satgas Tingkatkan Pengetahuan Nakes Tangani Pasien Covid-19 Pasien Covid-19 jalani perawatan intensif di RS Bogor. ©REUTERS/Willy Kurniawan

Merdeka.com - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Nasional mengungkapkan, angka kematian Covid-19 di Indonesia menempati urutan tertinggi di Asia Tenggara dalam WHO Covid-19 Dashboard. Seperti yang diketahui, per 3 Juni 2021, sebanyak 51.095 nyawa melayang karena terinfeksi virus Corona.

Untuk itu, Satgas Covid-19 akan mengoptimalisasi pelayanan kesehatan, baik itu dari segi fasilitas maupun sumber daya manusianya. Optimalisasi itu dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan mengenai penanganan terhadap pasien Covid-19, baik itu pasien tidak bergejala, gejala ringan, hingga pasien kritis.

“Kita dari BNPB, bersama Kemenkes, dan profesi lainnya melakukan peningkatan pengetahuan atau ilmu (terkait) tata laksana Covid-19 ini, mulai dari yang sedang sampai yang kritis,” ujar Ketua Subbidang Optimalisasi Fasilitas Kesehatan, Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, dr. Fathiyah Isbaniyah dalam diskusi virtual BNPB, Jumat (4/6).

Rencananya, upaya peningkatan ilmu pengetahuan tersebut akan dilakukan bukan hanya bagi dokter spesialis, namun juga akan dilakukan bagi dokter umum, dan tenaga kesehatan lainnya.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta seluruh unit kesehatan untuk meningkatkan pemantauan para pasien, khususnya pasien yang bergejala. Dia meminta unit kesehatan setingkat puskesmas untuk memastikan bahwa pasien yang tidak bergejala maupun pasien suspek betul-betul melakukan isolasi mandiri sesuai aturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Selain itu, pengawasan itu juga dilakukan agar bisa mengetahui perkembangan pasien. Pasalnya, kata dia, tidak jarang ditemukan pasien yang awalnya tidak bergejala, namun setelah beberapa hari isolasi mandiri, gejala-gejala Covid-19 tersebut muncul. Fathiyah mengatakan, jika pasien itu tidak mendapatkan penanganan dengan tepat dan cepat, maka akan berakibat fatal berujung kematian.

"Kita juga koordinasi dengan puskesmas agar terus memantau pasien-pasien yang isolasi Mandiri. Apabila dia dengan gejala, kalau gejalanya sedang, dia harus segera lapor ke rumah sakit untuk mendapatkan tatalaksana secepatnya,” katanya.

“Kalau pasien dibiarkan dan baru ke rumah sakit dalam keadaan berat, maka akan lebih buruk (kondisinya) dibandingkan jika pasien tersebut cepat mendapatkan tatalaksana,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Subbidang Optimalisasi Fasilitas Kesehatan, Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, dr. Lusi Syamsi membeberkan hasil audit kematian pasien Covid-19 di Jakarta dan Jawa Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata pasien tersebut saturasi oksigennya rendah, di bawah 93 persen. Saturasi oksigen ini merupakan salah satu unsur untuk mengukur tingkat keparahan atau gejala suatu pasien.

"Yang saturasi oksigennya di bawah 93 persen, di RS rujukan Jakarta ada 51 persen, RS non rujukan 42 persen. Di RS rujukan Jatim 49 persen, di RS non rujukan 73 persen, tinggi ya," kata Lusi dalam diskusi tersebut

Meskipun saturasi oksigennya termasuk rendah, namun, kata Lusi, tingkat kesadaran para pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat RS-RS tersebut masih terbilang tinggi.

"Dari segi kesadaran atau composmentisnya, di Rs rujukan Jakarta itu 70 persen, non rujukan 96 persen. Sedangkan di RS rujukan Jatim 83 persen, dan di non rujukan 89 persen. Jadi mereka datang ke IGD dan masih sadar untuk menerangkan gejalanya ke dokter," kata Lusi. [ray]

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini