Kawasan Tebet (1)

Tebet, dahulu dan kini

Sabtu, 18 April 2015 06:19 Reporter : Anwar Khumaini
Tebet, dahulu dan kini Indekos Deudeuh di Tebet. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin, wanita yang menjajakan dirinya via online bikin geger. Janda beranak satu yang masih muda dan cantik tersebut ditemukan sudah tak bernyawa di kosnya di daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Setelah kasus pembunuhan ini terungkap, warga sekitar pun terbelalak. Ternyata kawasan permukiman tersebut kerap dijadikan sebagai tempat untuk transaksi mesum. Kawasan Tebet pun kian 'dicap' sebagai kawasan yang banyak tempat 'maksiat'.

Selama ini, di Tebet memang banyak tempat-tempat hiburan malam. Selain tempat karaoke, tempat nongkrong anak muda, di kawasan ini juga menjamur tempat pijat, baik pijat beneran, atau pun pijat plus-plus yang berkedok pijat kesehatan.

Tapi ternyata, tak cuma saat ini saja Tebet menjadi kawasan 'begituan'. Dulu kala, Tebet ternyata juga tempat para selingkuhan.

Tebet sebagai nama tempat sudah ada sejak zaman Belanda. Ketika VOC (Kongsi Dagang Belanda) mulai menguasai Hindia Belanda awal abad ke-16, Tebet dijadikan kawasan penampungan hujan sekaligus resapan air. Sebab, daerah ini lebih rendah ketimbang wilayah sekitarnya.

Menurut Rachmat Ruchiyat, penulis buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Tebet berasal dari bahasa sunda kuno 'Tebat' atau 'Tebet', berarti rawa. "Pada 1940-an, memang (Tebet) masih berbentuk rawa, belum menjadi permukiman, ujar Rahmat saat dihubungi merdeka.com, kemarin siang.

Cerita Rachmat senada dengan hasil penelitian J.J. Rizal. Kawasan Tebet setelah penggusuran itu memang sudah disiapkan sebagai lokasi permukiman layak, ujar Rizal. Dia mengungkapkan banyak korban gusuran di Senayan menjadi orang kaya baru.

Namun ia tidak tahu berapa harga per meter yang dibayar oleh pemerintah. Seperti kebiasaan saat itu, masyarakat Betawi menyimpan uang hasil gusuran itu di dalam kotak kayu, bahkan karung. Mereka belum percaya terhadap bank.

Kebiasaan itu memunculkan masalah. Lokasi permukiman yang akan ditempati, yakni Tebet, menjadi incaran para pencuri. Mereka menyasar para korban gusuran itu. Karena itulah, menurut Rizal, banyak warga Betawi berpikir ulang buat bermukim di Tebet. Ada yang pindah ke Depok hingga Bogor. Sedangkan tanah pengganti yang didapatkan rata-rata dijual atau disewakan.

Dari situlah Tebet menjadi kawasan multi etnis, tidak hanya dihuni penduduk Betawi. Lantaran letaknya strategis, pelan-pelan Tebet menjadi kawasan permukiman mahal seperti saat ini.

Menurut Rizal, Tebet juga menjadi lokasi favorit kedua setelah Kebayoran Baru buat menyembunyikan selingkuhan mereka. Wajar saja, saat itu banyak orang kaya baru. "Masak, istri kedua mau taruh di Menteng, mahal kan," kata Rizal.

Kini, Tebet bergeliat menjadi kawasan hiburan layaknya Kemang. Berbagai tempat hiburan ada di sana, mulai hiburan keluarga, anak muda, hingga 'hiburan' khusus untuk orang dewasa.

Merdeka.com dalam tematik kali ini akan mengangkat tentang Tebet, sebuah kawasan di Jakarta Selatan yang kini jadi perhatian publik lantaran kasus pembunuhan Deudeuh. Dulu dan kini, apakah Tebet tetap sama? Silakan membaca. [war]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini