Tak mau disadap KPK, bos Sentul City beri handphone ke anak buah

Rabu, 15 April 2015 18:40 Reporter : Juven Martua Sitompul
Tak mau disadap KPK, bos Sentul City beri handphone ke anak buah Gedung KPK. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - anak buah Haryadi Kumala (Asie) adik dari Bos Sentul City, Kwee Cahyadi Kumala (Swie Teng) yakni Djoenaidy Abdoel Wahab mengaku menerima handphone setelah Yohan Yap ditangkap KPK pada 7 Mei 2014 terkait kasus suap Bupati Bogor, Rachmat Yasin. Djoenaidy mengaku handphone itu diberikan untuk menghindar dari penyadapan KPK.

Dari pengakuannya, handphone itu diberikan melalui anak buah Asie, Rhina Sitanggang. Handphone diterima dua hari setelah Yohan Yap ditangkap.

"(Diserahkan) kalau enggak salah hari Jumat. Rina sempat bicara sama saya bahwa beli handphone karena yang lain, ini operasional. Ini jadi untuk supaya tidak disadap KPK," kata Djoenaidy bersaksi untuk Swie Teng, di Pengadilan Tipikor, Rabu (15/4).

Djoenaidy yang menerima handphone tersebut mengaku tidak pernah memakai karena menganggap jenis handphone apapun tidak mampu menghindari sadapan KPK.

"Menurut saya sih sama saja, ganti berapapun sama. Karena anak ini (Rhina) juga ribet Pak. Jadi saya bilang ya sudah tapi saya enggak ada duit," ujarnya.

Rhina yang hadir dalam sidang, sempat berkelit saat memberi keterangan. Hal itu bermula saat Hakim Ketua Sutio Jumagi Akhirno, bertanya ke Rhina soal pembelian handphone tersebut. Rhina berdalih pembelian handphone itu untuk memperlancar komunikasi dengan office boy.

"Keterangan masalah beli HP takut disadap gitu, karena kan saya beli HP karena kami kesulitan (komunikasi). Masalah takut disadap semua orang takut disadap tapi kami kan bukan itu tujuannya. Masak bicara dengan OB takut disadap Pak," kilah Rhina.

Kendati demikian, Rhina tak bisa mengelak setelah Djoenaidy memberi keterangan kalau handphone itu dibelikan bertujuan menghindari sadapan KPK.

"Apakah yang tadi disampaikan Djoenaidy betul? Saudara bilang seperti itu (hindari sadapan)?" tanya jaksa KPK.

Rhina yang menerima pertanyaan pun langsung mengiyakan pertanyaan jaksa. KPK. "Iya," jawabnya.

Dalam persidangan ini, sering ditemukan keterangan yang kerap mengubah berita acara pemeriksaan (BAP) sehingga menyulitkan penyidikan terkait penyuapan Rachmat Yasin. Terbukti pada sidang yang lalu, Rabu (8/4) anak buah Swie Teng, Lusiana Herdin dan Rossely Tjung alias Sherley Tjung mengubah keterangan dalam BAP beberapa kali.

Isi BAP yang diubah salah satunya terkait uang dari PT Brilliant Perdana Sakti (BPS) ke PT Multihouse Indonesia yang diyakini Jaksa KPK diberikan ke Rachmat sebagai Bupati Bogor.

Dari keterangan yang diubah, Sherly menyatakan bahwa uang sebesar Rp 1 miliar yang dicairkan empat kali itu tidak berkaitan dengan suap Rachmat Yasin melainkan uang muka pernikahan anak Swie Teng. Hakim Ketua Sutio Jumagi yang mendengar keterangan Sherly berbeda dengan isi BAP saat diperiksa penyidik KPK langsung menegur Sherly dengan mengingatkan sanksi pidana bagi saksi yang memberikan keterangan atau sumpah palsu.

"Kalau di sini (BAP), pada saat pertemuan tersebut Cahyadi Kumala berkata nanti kalau ditanya BPS sampaikan punya Pak Asie, Cahyadi berpesan duit atas seizin Pak Asie," tegas Hakim Sutio.

Selain itu, dalam sidang Sherly tidak mengaku pernah mendapat perintah Swie Teng untuk memindahkan sejumlah dokumen setelah tertangkapnya Yohan Yap oleh KPK pada tanggal 7 Mei 2014 lalu.

Ketiga anak buah Swie Teng, Sherly, Suwito dan Lusiana kerap memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan isi BAP. Padahal pada sidang sebelumnya, Swie Teng tidak membantah kesaksian Suryani Zaini. Bahkan, dia menyatakan kalau pengacaranya, Doddy mengarahkannya agar seolah-olah berbohong. [dan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini