Tak Cuma Hidup Mewah, Para Polisi Ini Juga Punya Harta Berlimpah

Rabu, 20 November 2019 06:30 Reporter : Syifa Hanifah
Tak Cuma Hidup Mewah, Para Polisi Ini Juga Punya Harta Berlimpah gedung Mabes POLRI. merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Kapolri Jenderal Pol Idham Azis membuat gebrakan baru dengan mengeluarkan imbauan untuk seluruh anggota Polri tidak memamerkan gaya hidup mewah dalam kehidupan sehari-hari. Imbauan Kapolri tertuang dalam Surat Telegram Nomor: ST/30/XI/HUM.3.4./2019/DIVPROPAM tertanggal 15 November 2019 yang berisi peraturan disiplin anggota Polri, kode etik profesi Polri dan kepemilikan barang mewah oleh pegawai negeri di Polri.

Dalam poin satu dikatakan, anggota Polri tidak menunjukkan, memakai, memamerkan barang-barang mewah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi sosial di kedinasan maupun di area publik.

"Poin dua, senantiasa menjaga diri, menempatkan diri pola hidup sederhana di lingkungan institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat. Poin ketiga, tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial" demikian bunyi poin larangan hidup mewah anggota Polri.

Sebelum perintah Kapolri Idham Azis keluar, beberapa waktu lalu beberapa anggota polisi diketahui memiliki harta berlimpah. Mereka juga sempat tersangkut masalah hukum. Berikut ulasannya:

1 dari 3 halaman

Djoko Susilo

Mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri (Kakorlantas) Irjen Pol Djoko Susilo diketahui memiliki harta berlimpah. Sayangnya harta yang didapatnya berasal dari hasil korupsi yang merugikan negara. Djoko Susilo ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan simulator kemudi uji klinik roda dua dan empat di Korps Lalu Lintas Polri pada 2011 dan pencucian uang empat belas bulan lalu, tepatnya 27 Juli 2012.

Temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal kekayaan Irjen Djoko Susilo sangat mengejutkan. Dia memiliki kekayaan dari Jakarta sampai Bali. Nilainya lebih dari Rp100 miliar.

Di Jakarta, Irjen Djoko Susilo diketahui memiliki rumah di Jalan Prapanca Raya, Jalan Cikajang, Jalan Elang Mas di Tanjung Mas, Jakarta. Di Depok, Irjen Djoko Susilo memiliki sebuah rumah di kawasan Pesona Kayangan Depok, Jawa Barat.

Sementara di Solo, penegak hukum itu memiliki sejumlah rumah yang terletak di Jalan Samratulangi No 16, RT 01 RW 07 Manahan, Banjarsari dan Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Sondakan Solo, Jawa Tengah.

Di Semarang, Irjen Djoko Susilo juga memiliki rumah yang beralamat di Jalan Bukit Golf, kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Sementara, di Yogyakarta Irjen Djoko Susilo juga memiliki rumah yang terletak di Jalan Patehan Lor No 34 dan 36, di Jalan Langenastran Kidul No 7 Yogyakarta. Saat ini seluruh rumah tersebut telah disita KPK.

Kemudian KPK juga menemukan aset kekayaan Irjen Djoko Susilo dalam bentuk SPBU. Tak tanggung-tanggung, perwira tinggi Polri itu memiliki tiga unit SPBU yang tersebar di Ciawi, Bogor, Kapuk, Jakarta; dan Kaliungu, Semarang. Saat ini tiga SPBU itu telah disita KPK. Namun, masih tetap beroperasi seperti biasa.

Tak cukup sampai di situ, KPK juga menyita tiga mobil mewah dan satu Avanza milik Irjen Djoko Susilo. Tiga mobil mewah itu di antaranya Jeep Wrangler, Nissan Serena, dan Toyota Harrier.

Aset kekayaan Irjen Djoko Susilo dalam bentuk bus pariwisata. Enam buah bus pariwisata tersebut sebelumnya disimpan Irjen Djoko Susilo di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Namun, saat ini empat di antaranya telah diparkir di samping Gedung KPK, Jakarta.

Djoko Susilo juga ternyata memiliki aset kekayaan di Bali. Aset kekayaan itu dalam bentuk rumah di Perumahan Harvestland Jl Raya Kuta, dan tanah atau sawah seluas 7.000 meter yang terletak di Tabanan Desa Sudimara.

2 dari 3 halaman

Labora Sitorus

Pada tahun 2013, publik dihebohkan dengan berita rekening gendut yang dimiliki polisi berpangkat Aiptu bernama Labora Sitorus. Dia menjadi bahan pembicaraan setelah diketahui terkuak adanya transaksi misterius di rekeningnya sebanyak Rp1,5 triliun.

Uang sebanyak itu konon merupakan hasil dia meraup keuntungan dari praktik pembalakan liar, penimbunan solar, dan pencucian uang. Tak heran kalau nama Aiptu Labora Sitorus dikenal sebagai polisi kaya oleh warga Sorong, Papua Barat.

Berawal pada 14 Mei 2013, Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian mengumumkan bahwa ada satu polisi di Polres Raja Ampat, Papua Barat, yang memiliki rekening gendut. Nilainya Rp1,5 triliun. Ini berdasarkan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

"Itu akumulasi nilai transaksi selama lima tahun sejak 2007-2012, di mana dalam kurun waktu itu, jika dijumlahkan total uang masuk dan keluar di rekeningnya Rp1,5 triliun," kata Tito pada tahun 2013 silam, dikutip dari Liputan6.com.

Polda Papua langsung memeriksa Aiptu Labora Sitorus, orang yang diduga pemilik rekening gendut itu. Dia disangka memiliki bisnis BBM (bahan bakar minyak) ilegal, penebangan hutan ilegal, dan pencucian uang.

Labora dihukum 15 tahun penjara karena kasus pencucian uang dan penimbunan bahan bakar minyak serta kayu di Papua Barat, pada tahun 2014. Kini seluruh aset Labora yang terdiri dari sebuah kapal LCT EURO, sebuah kapal Batamas Sentosa I, sebuah kapal LCT Rotua, sebuah kapal Aman, sebuah kapal KLM Monang Jaya, sebuah kapal Rosalina Indah, sebuah kapal KM Rotua 2, dua buah kapal dari kayu tanpa nama dan satu unit kapal penampung BBM dengan muatan maksimal 20 ton solar.

Kemudian ada uang cash Rp15 juta, uang hasil lelang Rp6,4 miliar, tiga unit flow meter, dua unit Alkon, sebuah eskavator, enam truk tronton merek Hino, dua truk merek Toyota Dyna, sebuah truk tangki.

Kayu olahan Merbau sebanyak 5 ribu batang, kayu olahan sebanyak 700 ribu batang dari berbagai jenis kayu dan 1 juta liter solar. Semua harta Labora disita untuk negara.

3 dari 3 halaman

Kisah Kapolri Jenderal Hoegeng Sedih Lihat Polisi Punya Rumah Mewah

Berbanding terbalik dengan para anggota polisi yang suka hidup mewah dan memiliki harta berlimpah hasil korupsi, mantan Kapolri Jenderal Hoegeng hidup sederhana sampai akhir hayatnya. Ini yang seharusnya dicontoh seluruh anggota Polri.

Ada kisah menarik dimana Hoegeng merasa heran kenapa anggota polisi memiliki rumah mewah. Hal ini terungkap tulisan memo dari Hoegeng pada Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo sekitar tahun 1977.

Saat itu, walau sudah pensiun, Hoegeng masih peduli pada masalah di kepolisian. Banyak masyarakat maupun polisi yang masih memberikan laporan jika ada korupsi atau perilaku petinggi polisi yang tak beres.

"Wid, sekarang ini kok polisi sudah kaya-kaya. Sampai-sampai sudah ada yang punya rumah di Kemang, dari mana duitnya itu?" tanya Hoegeng dalam suratnya.

Ketika itu Hoegeng dilapori seorang perwira menengah di Provost Polri soal adanya permainan kotor para petinggi di Jawatan Keuangan Polri. Hoegeng menyelidiki kasus itu dan ternyata benar. Ada korupsi besar senilai Rp6 miliar. Jumlah yang luar biasa besar untuk masa itu. Bahkan Deputi Kapolri Letjen Siswadji juga terlibat.

"Sebagai mantan Kapolri, saya benar-benar prihatin dan malu dengan adanya kasus ini," kata Hoegeng dalam buku 'Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa,' Karya Aris Santoso bersama rekan. Terbitan PT Bentang Pustaka. [dan]

Baca juga:
Seluruh Anggota Polri Harus Tunduk Instruksi Kapolri Soal Larangan Pamer Kemewahan
Kapolres di Sumsel Setuju Larangan Kapolri Pamer kekayaan
Kapolres Cilegon Ancam Anak Buah: Enggak Usah Gatal Jarinya di Medsos
Polri Sebut Aturan Tak Pamer Kemewahan Agar Anggota Sederhana, Tak Memandang Pangkat
Dukung Kapolri, PPP Nilai Polisi Tak Patut Pamer Hidup Mewah

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini