Tak ada habisnya driver ojek online jadi sasaran kejahatan

Minggu, 14 Februari 2016 07:35 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Tak ada habisnya driver ojek online jadi sasaran kejahatan Ilustrasi Gojek. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Cerita driver ojek online yang menjadi sasaran tindak kejahatan seperti tidak ada habisnya. Mulai dari tindak pemukulan yang dilakukan oleh driver ojek pangkalan hingga yang terbaru pengendara GO-JEK ditembak orang tak dikenal di Jalan Kemang Utara VII depan Toko Susu Nomor 5, Kelurahan Bangka, Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu (13/2) sore.

Hingga saat ini, belum diketahui motif dari penyerangan berujung penembakan Driver GO-JEK atas nama Rionaldo itu. Polisi juga masih memburu pelaku penembakan driver GO-JEK yang diduga berjumlah dua orang itu.

Menanggapi maraknya tindak kejahatan yang menimpa driver ojek online, Kriminolog dari Universitas Indonesia, Josias Simon mengatakan, adanya persaingan transportasi dengan harga murah menjadi salah satu penyebabnya.

Semisal, katanya, kecemburuan dari ojek pangkalan yang tidak mendapatkan pelanggan menyulut emosi dari ojek pangkalan atau driver dari ojek online lain. Karena, pada umumnya mayoritas masyarakat lebih memilih transportasi massal yang menawarkan harga paling murah.

"Ada juga karena persaingan transportasi yang murah tidak hanya dengan ojek pangkalan tapi juga dengan driver ojek lain. Awalnya bisa masalah persaingan harga, siapa yang lebih murah dia yang menguntungkan," kata Josias saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (13/2) malam.

Selain itu, dia menduga maraknya tindak kejahatan terhadap driver ojek online adalah permasalahan pribadi di satu perusahaan. Persoalannya masih sama, yakni rebutan penumpang. Oleh sebab itu, Josias menuturkan agar pengaturan dan pembagian driver di tiap wilayah diperbaiki lagi dengan baik.

"Kalau eksternal harus melibatkan semua pihak utu sudah sering ya. Internal bagaimana? perusahaan internal mengatur kembali komposisi driver karena mereka sering rebutan. Pengaturan dari kantor pusat, bagaimana pembagian area, dan sebagainya perlu dilakukan," imbuhnya.

Ditambahkannya, permasalahan ini tidak hanya menjadi catatan bagi pengusaha ojek online saja, tapi juga melibatkan Pemerintah Daerah setempat, Kementerian Perhubungan dan pihak kepolisian. Seharusnya, harus mulai dirancang satu regulasi yang dapat memberikan jaminan keselamatan dan kenyamanan baik bagi pengemudi ataupun penumpang.

"Ada aturan juga, ada aturan internal dan eksternal melibatkan pengusaha tapi juga Pemda setempat, Kemenhub. Baik keamanaan driver dan penumpang terjamin, persaingan wajar ya tapi tidak menimbulkan keributan," pungkas Josias. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini