Tahapan Penting Harus Dilakukan Sekolah Saat Temukan Kasus Covid-19

Rabu, 26 Januari 2022 12:58 Reporter : Yunita Amalia, Lia Harahap
Tahapan Penting Harus Dilakukan Sekolah Saat Temukan Kasus Covid-19 Suasana Pembelajaran Tatap Muka di SDN Kenari Jakarta. ©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Temuan kasus Covid-19 masih terjadi di lingkungan sekolah sepanjang diberlakukannya sekolah tatap muka penuh. Khusus di Jakarta, tercatat 90 sekolah harus ditutup sementara.

Banyak pihak menyarankan kebijakan sekolah tatap muka penuh dievaluasi. Tujuannya, melindungi siswa dari paparan Covid-19.

Tetapi sejauh ini, pemerintah memutuskan PTM masih bisa dilakukan. Mengingat dampak learning loss selama belajar online lebih kurang dua tahun terakhir.

Kesigapan sekolah menyikapi temuan Covid-19 warganya sangat diperlukan. Sehingga penyebaran dalam diminimalisir.

2 dari 3 halaman

Langkah yang Harus Dilakukan Pihak Sekolah

Merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri; Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri. Sejumlah langkah penting harus dilakukan sekolah ketika ditemukan kasus Covid-19.

1. Segera menghentikan proses belajar mengajar tatap muka pada tingkat satuan pendidikan dan

2. Mengalihkan Pembelajaran secara daring selama 14 hari.

Kemudian dalam panduan buku saku pembelajaran di masa pandemi yang diunggah Kemendikbud, langkah yang harus diambil ketika menemukan kasus Covid-19 di lingkungan sekolah, sebagai berikut:

1. Menghentikan proses belajar tatap muka paling singkat 3x24 jam.

2. Memberlakukan pelajaran dari atau jarak jauh.

3. Kepala sekolah juga harus bertindak cepat.
a. Segera melaporkan pada Satgas Covid-19, dinas pendidikan, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, dan/atau kantor Kementerian Agama kabupaten/kota setempat;
b. memastikan penanganan warga sekolah yang terkonfirmasi Covid-19, antara lain:
- Memeriksakan warga sekolah terkonfirmasi COVID-19 ke fasilitas layanan kesehatan;
- Apabila bergejala, maka harus mendapatkan perawatan medis sesuai dengan rekomendasi dari satuan tugas penanganan COVID-19 atau fasilitas pelayanan kesehatan;
- Apabila tidak bergejala, maka dilakukan isolasi atau karantina pada tempat yang direkomendasikan oleh satuan tugas penanganan COVID-19 atau fasilitas pelayanan kesehatan; dan
- Memantau kondisi warga sekolah selama isolasi atau karantina;
- Mendukung satuan tugas penanganan COVID-19 atau Puskesmas setempat dalam melakukan penelusuran kontak erat warga sekolah yang terkonfirmasi COVID-19 dan test COVID-19, dalam bentuk:
- Membantu membuat daftar kontak erat warga sekolah yang terkonfirmasi COVID-19;
- Membantu menginformasikan kepada warga sekolah yang terdaftar dalam kontak erat untuk segera melaporkan diri kepada satuan tugas penanganan COVID-19 atau Puskesmas;
- Memastikan penanganan warga sekolah yang terdaftar dalam kontak erat sebagaimana rekomendasi dari satuan tugas penanganan COVID-19 atau fasilitas pelayanan kesehatan;
- Melakukan pemantauan terhadap kondisi warga sekolah yang terkonfirmasi COVID-19 dan yang masuk dalam daftar kontak;
- Melakukan disinfeksi di area sekolah paling lambat 1 x 24 jam terhitung sejak ditemukan kasus konfirmasi COVID-19

3 dari 3 halaman

Menjaga Sirkulasi Udara di Ruang Kelas

Terpisah, Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menyebut kasus Covid-19 di sekolah bisa dicegah salah satunya dengan menjaga sirkulasi udara di setiap kelas.

"Perbaikan kualitas udara sangat penting sekali selain vaksinasi dan masker," kata Dicky, Rabu (26/1).

Menyikapi temuan Covid-19 di sejumlah sekolah di Jakarta, menurutnya menjadi berbahaya jika PTM diteruskan selama periode krisis peningkatan kasus Omicron. Periode krisis yang dimaksud adalah Februari sampai pertengahan Maret 2022.

Selagi belum ada kebijakan untuk menutup sekolah dan menghentikan sementara kegiatan PTM, Dicky menganjurkan agar sekolah melakukan pembatasan secara ketat, tes usap secara berkala, dan menerapkan sistem bubble.

Dia mencontohkan. Dalam dunia olahraga, sistem bubble telah digunakan untuk mencegah penularan virus. Cara kerja sistem bubble yaitu membagi partisipan ke dalam grup.

Selain itu, seluruh aktivitas mengikuti jadwal yang telah dibuat untuk minimalisir kontak fisik dengan mereka di luar bubble. Kemudian, ada sanksi bagi mereka yang melanggar protokol kesehatan

"Sangat penting dilakukan penutupan sementara jika ada kasus positif. Lebih jelasnya mitigasi risikonya seperti yang saya pernah sampaikan ke Diknas dan Komisi X juga KPAI tahun 2020 lalu," pungkasnya. [lia]

Baca juga:
Daftar 90 Sekolah di Jakarta Terkonfirmasi Ada Kasus Covid-19
Satgas Minta Sekolah dan Pemda Responsif Tangani Kasus Covid-19 saat PTM
Bertambah, 90 Sekolah di Jakarta Ditutup Akibat Temuan Kasus Covid-19
Strategi DKI Hadapi Lonjakan Omicron di Tengah PTM 100 Persen
Wagub DKI: Tiga Sekolah di Jakarta Masih PJJ Karena Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini