Sukses kuliah sambil kerja

Rabu, 7 September 2016 16:49 Reporter : Wens
Sukses kuliah sambil kerja Vivi pengusaha muda. ©2016 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Bisnis lancar. Pemesan datang dari berbagai kota. Dari Banda Aceh, Palembang, Pontianak, Jakarta, Surabaya, Makassar, hingga dari kota mentari datang, Jayapura. Sehari bisa bikin 500 produk kalung. JNE rutin angkut. Merekrut warga kampung jadi pekerja. Mereka semua digaji. Dan, usia wanita ini baru 21 tahun.

Separuh hari bersama Vivi Leonita, begitu namanya lengkapnya, kita seperti merasakan denyut jarum detik. Terus berdetak. Nyaris selalu bergerak dengan tenaga penuh.

Saban hari dia bangun pukul empat lebih 30 menit. Pada sepagi itu, ketika sebagian dari kita masih terlelap, dia membereskan dagangan, melihat daftar pemesan di seluler, sesudah itu mandi, berdandan, lalu bergegas.

Pukul enam pagi, dari sebuah perumahan di Cengkareng dia memacu kendaraan roda dua, melaju dengan tujuan sebuah universitas di kawasan Ancol. Vivi memang mahasiswi di situ. Semester tujuh. Satu setengah jam bertarung dengan kemacetan. Ngepot di celah sejumlah truk Tronton yang bikin nyali mengkeret, dia tiba pukul tujuh lebih 30 menit.

Di jalanan ibukota yang garang ini, di mana jumlah kendaraan roda dua saja sudah 13 juta, hidup kita memang seperti diadu. Dikontestasi. Punya uang dan pendidikan seringkali jadi penentu. Vivi membuktikan sebaliknya.

vivi pengusaha muda
Vivi pengusaha muda ©2016 merdeka.com/istimewa

Wanita muda ini bukan datang dari keluarga yang semerbak harta. Jika kemudian dia melaju ke bangku kuliah, itu karena kecerdasan, kerja keras yang dipompa oleh kesusahan. Saat duduk di kelas tiga SMA, kampus itu menggelar lomba akuntasi di sekolahnya. Vivi menjadi pemenang. “Ini lomba cepat-cepatan menghitung,” kisahnya, kepada Merdeka.com beberapa waktu lalu.

Meraih juara satu pada lomba itu, dia dapat beasiswa 75 % uang kuliah. Hanya bayar 25 persen. Beasiswa itu bisa sampai lulus. Tapi ada syaratnya, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tidak boleh melorot di bawah target. Begitu nilai lunglai, beasiswa itu automatic reject.

Tapi dia selalu menjaga batas aman itu. Di sela-sela kesibukan berjualan, IPKnya masih di atas 3,75. Nilai yang nyaris sempurna. Mudah-mudahan beasiswa itu, katanya, bisa bertahan hingga kuliah ini pungkas.

Kuliah sambil bekerja. Bagi sejumlah orang mungkin menjadi dua hal yang bisa saling memangsa. Kuliah tak tuntas. Kerja juga tak maju-maju. Hidup malah bergerak mundur. Tapi, di tangan gadis bertubuh tinggi ini, keduanya justru saling membahu. Kawan-kawan di kampus bisa memberi saran.

Di sela-sela istirahat kuliah, dia masih bisa meladeni para pelanggan via telepon seluler. Meladeni pesanan. Meladeni keluhan hingga caci maki. Dia menemukan pelajarannya sendiri, bagaimana berubah, dan bagaimana menghadapi rupa-rupa konsumen dari rupa-rupa asal.

vivi pengusaha muda

Vivi pengusaha muda ©2016 merdeka.com/istimewa

Selesai kuliah pukul tiga sore, dia lalu bergegas ke Kota, kawasan di jantung Jakarta yang denyut bisnisnya 24 jam tanpa jeda. Pada kemacetan sore hari, dari kampus di Ancol itu, dia kembali memacu roda dua 45 menit pada “kemurungan” jalan.

Di kawasan kota itu dia membeli bahan baku. Sudah ada pelanggan tetap. Beres membeli, dia kembali memacu motor ke perumahan di Cengkareng itu. Selalu begitu saban hari kuliah. Dua tahun belakangan. Rute yang sama. Rute yang membuat bisnisnya terus bermekar.

Ligat berdagang itu memang turun dari Ibu. Semenjak kecil dia sudah terbiasa membantu sang Ibu berjualan. Dilakukan disela-sela sekolah. Pelajaran tak pernah terganggu. Saat remaja Vivi kerap menjual gantungan kunci bikinan sang ibu ke kawan sekolah. Sehari bisa laku lima. Bisa lebih. Bisa juga kurang.

Dan, Vivi Leonita bukanlah sebuah kisah perjuangan belaka, juga bukan kisah menyiasati hidup semata, tetapi juga menjadi kisah metamorfosis sebuah sebuah bisnis. Dari jalur konvensional ke jalur digital. Semula dipasarkan dari mulut ke mulut, gonta-ganti produk, lalu membiak secara cepat lewat jejaring sosial.

Dengarlah kisah perjalanan bisnisnya berikut ini. Tanggal 30 Maret 2012, dia memposting “mote-mote” bikinan Ibunya di sebuah media sosial. Sepi peminat. Pemesan dihitung jari. Saat kuliah memasuki semester tiga, dia putar haluan ke produk lain. Manik-manik. Lumayan. Tapi yang beli tak begitu banyak.

Dia lalu berpindah ke gelang handicraft. Dan belakangan merambah ke bisnis kalung. Dua barang yang terakhir itulah yang dimasukan ke Tokopedia, sebuah mesin pencipta peluang, yang meraksasa beberapa tahun belakangan.

Mal digital itu laiknya Talet Auditions, yang memanggungkan para “permata” seperti Janet Delvin ke panggung dunia. Dibesut oleh anak muda William Tanuwijaya tujuh tahun silam, Tokopedia melaju ke bilangan yang sungguh fantastis.

Lihatlah catatan berikut ini. Jumlah pembeli mencapai 16 juta setiap bulan. Transaksi triliunan rupiah. Lebih dari 16,5 juta produk terkirim. Dan lebih dari satu juta orang telah memulai bisnis mereka bersama Tokopedia.

Belakangan ini, jumlah para pebisnis kreatif dan usaha kecil memang kian melambung. Kepala badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, pernah membeberkan bahwa sumbangan usaha kecil ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sangat besar.

Lihatlah data dari Badan Pusat Statistik berikut ini. Jumlah UKM sekitar 57,9 juta. Tahun lalu menyumbang sekitar Rp 881 triliun terhadap PDB. Triawan meyakini usaha kecil akan terus melejit pada masa yang akan datang lantaran iklim usaha kian membaik.

Iklim usaha yang membaik itu juga diamini oleh Vivi. “Saya optimis Pak,” katanya, sebab banyak yang berminat, terutama setelah dia memajang barang dagangan di Tokopedia. “Saya masukin di Tokopeda barang-barang yang bisa dijual cepat,” katanya.

Lantaran banyak peminat itu, dia merapikan dapur. Stok barang-barang yang laku seperti kalung diperbanyak. Bila ada yang pesan, persediaan selalu ada. Dan memang lewat marketplace itu pesanan selalu ada.

Dari kampusnya di kawasan Ancol itu, bersama Vivi, ke kantor Tokopedia itulah kami beberapa waktu lalu. Sebuah kantor yang nyaman. Penuh tenaga. Semua anak muda. Funky, dan di situ Anda akan merasa menjadi sesepuh jika berumur di atas 40 tahun.

Vivi kelihatan sudah familiar dengan kantor itu. Kenal baik dengan beberapa orang kunci di situ. Dan lalu berkisah tentang bagaimana bisnisnya melaju juga berkat peran orang-orang itu. Tokopedia ini, katanya, lebih pasti. Kalung lebih cepat laku.

vivi pengusaha muda

Vivi pengusaha muda ©2016 merdeka.com/istimewa


Para pembeli juga sudah paham. Tak banyak tanya. Beda ketika dia memajang barang-barang itu di media sosial. Banyak pertanyaan. Bahannya apa. Rontok tidak. Dan seterusnya. Bukan hanya konsumen, para reseller juga kian bertambah. Lebih dari 20-an.

Mereka datang dari berbagai kota. Dari Aceh hingga NTT. Semua pesan dalam jumlah banyak. Tokopedia ini, katanya, sangat membantu. “Dari segi pembayaran sangat mudah. Konsumen juga terbantu”

Vivi lega. Bisnis perlahan maju. Dan dia bisa menolong dapur keluarga. Bahkan menjadi tiang utama. Sang ayah memang tengah didera sakit. Kena stroke. Tujuh bulan lalu. Pada hari raya Imlek. Separuh tubuh lumpuh. Belakangan agak pulih. Sesekali masih berobat ke dokter.

Adik semata wayangnya juga didera sakit. Kanker Leukemia. Semenjak dua tahun lalu. Rutin berobat ke rumah sakit. Sesekali sang adik membantu sebagai admin. “Saya ini mikul beban keluarga,” katanya dengan air muka yang berusaha tersenyum. Tapi, segenap beban itu justru memacu semangat. “Bangun pagi cari duit, bisa nganggur kalau tidur,” tuturnya sembari tertawa.

Semangat penuh, itulah yang terlihat malam itu. Dari kantor Tokopedia itu, kami melaju ke rumahnya di Cengkareng. Tiba pukul sembilan malam. Sang Ibu sedang mengemas sejumlah pesanan. Dari berbagai daerah: Yogyakarta, Medan dan sebuah kota di Kalimantan.

Sesudah kami pamit pulang, pada malam itu, Vivi memacu roda dua ke Kantor Pos, perusahaan jasa yang buka hingga larut malam. Ketika begitu banyak dari kita mungkin sudah melepas penat. Vivi antar pesanan. [did]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Inspirasi Wirausaha
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini