Sukiyat, Pencetus Mobil Esemka Sumbang 100 Kursi Roda untuk Masjid dan Stasiun

Senin, 11 Maret 2019 04:35 Reporter : Arie Sunaryo
Sukiyat, Pencetus Mobil Esemka Sumbang 100 Kursi Roda untuk Masjid dan Stasiun Pencetus Esemka sumbang kursi roda. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Sukiyat (62), pencetus mobil Esemka yang melambungkan nama Joko Widodo alias Jokowi hingga menjadi presiden, adalah seorang penyandang disabilitas. Pria kelahiran Klaten, 22 April 1957 itu mengalami polio sejak umur enam tahun, sehingga kaki kiri nya difabel.

Meski tak bisa berjalan sempurna dan bukan berasal dari keluarga mampu, tak menghalangi Sukiyat berkarya. Kegigihan hati dan tekat, membuat lelaki yang pernah sekolah di Lembaga Penelitian Pengembangan Penyandang Cacat Prof Dr Soeharso, Solo itu sukses di bidang otomotif.

Kesuksesan tak lantas membuatnya lupa diri. Kepedulian terhadap sesama apalagi sesama penyandang disabilitas terus ia tunjukkan. Minimnya aksesibilitas bagi jamaah difabel di sejumlah masjid serta dan tempat ibadah lain serta fasilitas umum seperti bandara, terminal, stasiun dan lain-lain menjadi keprihatinan pemilik Bengkel Kiat Motor Klaten tersebut.

Keprihatinan Sukiyat ditunjukkan dengan diserahkannya 100 kursi roda disejumlah fasilitas umum seperti terminal, stasiun, sejumlah masjid serta tempat ibadah lainnya, hari ini. Kursi roda tersebut diperuntukkan khusus bagi penyandang disabilitas atau masyarakat yang berkebutuhan khusus.

"Saya sendiri sering mengalami kesulitan untuk mengakses tempat ibadah dan fasilitas umum. Saya sering kesulitan mendapatkan kursi roda untuk memudahkan akses ke tempat tujuan," ujar Sukiyat disela menyerahkan bantuan kursi roda di Masjid Agung Al Aqsha Klaten, Minggu (10/3)

Bantuan kursi roda diterima Ketua Ta'mir Masjid Agung Al Aqsha Mustari, di pelataran masjid setempat. Kepada takmir masjid Sukiyat sempat menyampaikan kesana, mengenang pengalamannya saat bersama beberapa koleganya pernah mengalami kesulitan di masjid dan fasilitas umum lainnya.

"Saat mau masuk ke ruangan utama kan ada tangga kecil untuk naik, kadang kami cukup kesulitan disitu karena tidak adanya ramp dan rail," terangnya.

Sukiyat kemudian menyampaikan kondisi yang dialami oleh teman-teman pengguna kursi roda mungkin akan lebih sulit dengan tidak adanya ramp (bidang miring) sebagai akses mereka untuk naik ke ruang utama.

Selain Masjid Agung Al Aqsha, bantuan juga diberikan ke sejumlah masjid serta tempat ibadah lainnya yang ada di Klaten dan sekitarnya. Masjid Agung Al Aqsha letaknya sangat strategis di tengah kota. Sehingga masjid ini sering juga digunakan oleh difabel dan penyandang disabilitas di sekitar masjid dan para musafir untuk beribadah.

Menurut Sukiyat, sejalan dengan UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengenai hak keagamaan bagi difabel. Dijelaskan bahwa difabel memiliki hak untuk memperoleh kemudahan dan akses dalam memanfaatkan tempat peribadatan dimanapun mereka berada.

"Bahwa difabel berhak mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan pada saat menjalankan ibadat menurut agama dan kepercayaannya," katanya.

Ketua Takmir Masjid Agung Al Aqsha Mustari mengemukakan, meskipun pihak takmir masjid telah mengakomodasi aksesibilitas tempat ibadah bagi difabel, namun belum dilengkapi sarana penunjang seperti kursi roda.

"Bahkan di masjid ini sudah dilengkapi lift untuk memudahkan akses bagi penyandang disabilitas dan lansia. Oleh karena itu kami menghargai dan berterima kasih kepada pak Sukiyat yang telah berkenan membantu sarana untuk penyandang disabilitas dan lansia dengan kursi roda ini," tuturnya. [ded]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini