KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Sub-kontrak alkes ke perusahaan Rudi Tanoe langgar aturan

Senin, 15 Juli 2013 17:10 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Rudi Tanoe. Antara

Merdeka.com - Pelaksanaan sub-kontrak dalam proyek pengadaan alat kesehatan perbekalan dalam rangka wabah flu burung tahun anggaran 2006 pada Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar di Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan oleh PT Prasasti Mitra milik komisaris Media Nusantara Citra, Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo alias Rudi Tanoe, disebut melanggar aturan. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Kebijakan Pengadaan Umum Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), Setiabudi Arijanta.

Setiabudi yang diajukan jaksa sebagai saksi ahli menyatakan, dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang dan jasa pemerintah, tidak boleh dilakukan sub-kontrak buat pengadaan utama. Jika hal itu dilakukan jelas melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2003.

"Sub-kontrak boleh, tapi enggak seluruhnya. Hanya sebagian. Kalau semuanya ya melanggar. Apalagi pekerjaan utama," kata Setiabudi saat bersaksi dalam sidang terdakwa Ratna Dewi Umar, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (15/7).

Setiabudi melanjutkan, jika kontraktor mau melakukan sub-kontrak, dalam dokumen lelang harus dicantumkan persyaratan soal itu. Sama halnya dengan pengadaan barang, kontraktor utama mestinya memang pemasok barang diminta.

"Jika tidak ada. Maka harus diupayakan mencari penyedia spesialis atau produsen langsung. Tidak boleh diwakilkan kontraktor utama atau pedagang," ujar Setiabudi.

Kemudian, Setiabudi melanjutkan, dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, sebaiknya Pejabat Pembuat Komitmen dan Panitia Lelang dicari produsen langsung. Jadi, dalam pengadaan itu tidak terjadi penggelembungan harga (mark-up) karena proses distribusi barang melewati banyak pihak.

Dalam surat dakwaan, dalam pengadaan sebesar Rp 42.4 miliar pada 2006 itu, Ratna bersama Rudi Tanoe dan Direktur PT Prasasti Mitra, Sutikno, disebut melakukan kesepakatan dalam pelaksanaan proyek alat kesehatan itu. Antara lain alat bantu pernafasan, alat monitor pasien, tempat tidur khusus, dan lainnya. Ratna memenangkan PT Rajawali Nusindo dalam proyek itu.

Namun, dalam pelaksanaannya, ternyata pengadaan alat kesehatan itu dipasok dari beberapa agen tunggal. Yakni PT Prasasti Mitra, PT Fondaco Mitratama, PT Prasasti Mitra, PT Meditec Iasa Tronica, PT Airindo Sentra Medika, dan PT Kartika Sentamas dengan harga lebih murah. Hal itu lantaran PT Rajawali Nusindo hanya bertindak sebagai kontraktor utama. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Korupsi Alat Kesehatan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.