Stok Surplus, Jateng Tak Butuh Beras Impor

Kamis, 25 Maret 2021 09:18 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Stok Surplus, Jateng Tak Butuh Beras Impor Stok Beras Nasional. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jawa Tengah memastikan mayoritas petani di wilayahnya akan panen pada April 2021. Ketersediaan beras di daerah ini dinyatakan sangat cukup sehingga tidak membutuhkan pasokan impor beras dari negara lain.

"Saat ini wilayah kita mulai panen, jadi tidak perlu impor beras. Intinya ketersediaan cadangan pangan di Jateng sangat cukup," kata Kepala Dishanpan Jawa Tengah Agus Wariyanto di Semarang, Kamis (25/3).

Sepanjang Januari-Maret 2021 stok beras yang tersedia di Jateng telah mencapai 2.542.542 ton, padahal jumlah kebutuhan yang ada saat ini sebanyak 1.022.538 ton.

"Realisasi yang terjadi artinya Jateng mengalami surplus cadangan beras sebanyak 1.519.986 ton," ungkapnya.

Pada Januari 2021 sempat terjadi kekurangan stok beras sekitar 120.693 ton. Meski begitu, saat memasuki Februari stoknya mengalami surplus 823.417 ton, di bulan Maret juga surplus 875.093 ton dan pada April nanti diperkirakan juga surplus sebanyak 712.340 ton.

"Kebutuhan masyarakat cadangan beras kita malah surplus sebesar 60 persen. Kita masih bisa mengandalkan panen dari para petani di 28 kabupaten kota penopang kebutuhan beras, seperti di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Purworejo, Wonosobo, Rembang, Pati, Kudus, dan Brebes," tuturnya.

Dalam kondisi saat ini, Dishanpan Jateng berusaha memaksimalkan panen raya dan menstabilkan harga gabah untuk menaikkan kesejahteraan petani. Langkah itu diperlukan karena serapan gabah petani oleh Bulog masih minim, dari target 204.000 ton baru terserap sekitar 22.364 ton, atau 10,96 persen.

"Kita optimalkan menolong petani agar harga gabah tidak jatuh, sehingga nilai tukar petani (NTP) bisa naik, tingkat kesejahteraan petani semakin tinggi, jadi makin sejahtera," ungkap dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP di Jateng pada bulan Februari lalu mengalami penurunan sekitar 0,6 persen.

Penurunan NTP itu disebabkan indeks harga yang diterima petani turun sekitar 0,20 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayarkan petani naik sekitar 0,41 persen.

Subsektor yang mengalami penurunan NTP antara lain tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan. Kenaikan terjadi pada sektor hortikultura. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini