Status Tanggap Darurat Karhutla di Sumsel Diperpanjang Hingga Akhir Bulan

Jumat, 8 November 2019 15:14 Reporter : Irwanto
Status Tanggap Darurat Karhutla di Sumsel Diperpanjang Hingga Akhir Bulan Kebakaran hutan merusak kawasan Kersik Luway di Kaltim. ©2019 Istimewa

Merdeka.com - Masih banyaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, membuat status tanggap darurat karhutla diperpanjang hingga 30 November 2019. Perpanjangan ini dilakukan untuk kali kedua dari semula berakhir 31 Oktober dan ditambah hingga 10 November 2019.

Kebijakan diambil dalam rapat Satgas Penanggulangan Karhutla Sumsel di kantor BPBD setempat, Jumat (8/11). Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, perpanjangan status tersebut untuk mengoptimalkan pemadaman karhutla secara terpadu. Sebab, cuaca di provinsi itu masih panas akibat mundurnya musim kemarau tahun ini.

"Potensi karhutla masih tinggi akibat cuaca panas. Oleh karena itu status tanggap darurat karhutla diperpanjang hingga 30 November nanti," ungkap Deru.

Dikatakannya, tim satgas karhutla baik melalui di darat maupun udara tetap bekerja di lapangan, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Penukal Abab Lematang Ilir. Sejauh ini belum ada penarikan personil dari TNI, polri, BPBD dan sektor lainnya.

"Kita upayakan mereka bisa bekerja optimal memadamkan api sehingga tak terjadi lagi karhutla yang menimbulkan asap," ujarnya.

Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan mengatakan, pihaknya akan menambah personel untuk membantu 1.512 tim satgas yang telah lebih dulu di lokasi karhutla. Hanya saja, penambahan tidak terlalu besar karena bertujuan mempertebal pasukan.

"Kita tambah personil tapi tidak sebanyak seperti sebelumnya," kata dia.

Selain melalui pengeboman air dari udara, tim darat sangat berpengaruh besar dalam pemadaman. Hanya saja, disiapkan sumber air dengan membangun sumur bor dan tempat penampungan.

"Dugaan sementara api muncul karena faktor kesengajaan, ada oknum yang mencari perhatian. Ini evaluasi kita sementara," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Klas 1 Palembang Nuga Putrantijo menjelaskan, terjadi kemunduran akhir musim kemarau karena dipengaruhi adanya tiga siklon tropis di Laut Andaman, Filipina, dan Laut Cina Selatan.

"Ini kenapa kemarau di Sumsel terasa sangat kering, panas dan panjang," terangnya.

Dari prediksi, musim kemarau baru berakhir minggu ketiga bulan ini. Sementara puncak musim hujan diperkirakan pada Februari hingga Maret 2020.

"Ketika cuaca panas dan kering potensi api masih terbuka. Perlu kewaspadaan sejak dini agar tidak lebih mudah," katanya. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini