Souw Beng Kong, Kapitan Tionghoa pertama di Jakarta yang melegenda

Kamis, 19 Februari 2015 14:35 Reporter : Marselinus Gual
Ilustrasi Imlek. ©Shutterstock/Thong Wing Hoong

Merdeka.com - Mungkin tak ada yang tahu siapa itu Kapitan Tionghoa pertama Souw Beng Kong. Literatur sejarah pun tak pernah menyebutkan namanya. Akan tetapi, namanya mulai dikenal ketika Yayasan Kapitan Souw Beng Kong menkonservasi dan melestarikan peninggalan sejarah yakni makam tua 2004-2008 yang mempunyai andil dalam pembentukan kota tua Batavia.

Souw Beng Kong 1580-1644 adalah seorang kapitan Tionghoa di Batavia pada zaman VOC. Ia lahir pada masa Dinasti Ming di distrik Tong An Propinsi Hok Kian, Tiongkok.

Kapiten merupakan gelar yang diberikan kepada Souw Beng Kong oleh pembesar VOC karena andilnya dalam mempengaruhi masyarakat Tionghoa untuk bekerja sama dalam urusan dagang. Sebab pada saat itu, masyarakat Tionghoa dikenal sebagai pekerja yang tekun, ulet dan terampil.

Gubernur Jenderal Jan P Coen membujuk Souw Beng Kong agar mau pindah ke Batavia dari Banten untuk mempengaruhi masyarakat Tionghoa dan pribumi dalam pembangunan fisik kota tua yang porak-poranda akibat perang, selain untuk urusan dagang. Kapiten Souw Beng Kong wafat pada tanggal 8 April 1644.

Merdeka.com coba menelusuri jejak hidup Kapitan Souw Beng Kong, Kamis (19/2) di tempat ia dimakamkan selama ratusan tahun. Di sini, nama Kapitan Souw Beng Kong sendiri cukup akrab di mulut penduduk Taruna, Kel Mangga 2 Selatan, RW 07/RT 01, Kec Sawah Besar, Jl Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat. Mereka selalu menyebut Souw Beng Kong sebagai 'Kapitan Tionghoa'.

Makam Souw Beng Kong yang berusia sudah 368 tahun berada di antara himpitan rumah penduduk Taruna. Di sebelahnya terdapat sebuah Musala Nurul Haq. Makam ini cukup terawat, akan tetapi oleh musim hujan, air menggenangi hampir seluruh makam. Selain itu, penduduk sekitar pun menjemur pakaian mereka di pagar makam Souw Beng Kong.

"Dulu tempat ini merupakan makam penduduk Tionghoa. Akan tetapi banyak orang yang membongkar makam-makam itu dan mendirikan rumah di atasnya," kata Pak Suwarso (72), mantan Ketua RW yang sudah tinggal di daerah itu selama 40 tahun saat berbincang dengan merdeka.com.

Menurut Suwarso dan beberapa penduduk, Souw Beng Kong bukanlah pahlawan di medan perang. Dia hanya orang Tionghoa yang dikenal sebagai pedagang yang rajin dan ulet.

"Cerita yang saya dengar hanya begitu saja. Ia bukan seorang pahlawan di medan perang," terang Suwarso.

Penduduk di Taruna sendiri menganggap keberadaan Souw Beng Kong sebagai berkah tersendiri. Selain karena orang banyak mengunjungi makam Souw Beng Kong, ada peristiwa-peristiwa yang menurut mereka adalah atas bantuan dia.

"Di daerah ini belum pernah terjadi kebakaran puluhan tahun. Banjir juga tidak seberapa kalau musim hujan,"terang Suwarso.

Suwarso bercerita, pernah terjadi kebakaran sebuah motor dan mobil dan di pom bensin di dekat daerah itu. Namun pom bensin dan rumah-rumah penduduk luput dari kebakaran itu.

Kehidupan masyarakat di tempat Souw Beng Kong dimakamkan diakui oleh Suwarso sangat toleran dan damai. Ia mengatakan di daerah itu belum pernah terjadi perkelahian antar sesama warga. Mereka menganggap hal itu atas bantuan Souw Beng Kong.

Akan tetapi, Suwarso dan penduduk lainnya tidak menjadikan makam Souw Beng Kong sebagai tempat keramat. Mereka melarang adanya praktik pemujaan di tempat itu.

"Ketua Yayasan SBK melarang untuk menjadikan ini tempat keramat. Ini hanya sebuah situs sejarah," lanjut Suwarso. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini