Soal Disodorkan Amplop di Ruangan Ferdy Sambo, LPSK Belum Berencana Lapor Polisi

Minggu, 14 Agustus 2022 20:23 Reporter : Bachtiarudin Alam
Soal Disodorkan Amplop di Ruangan Ferdy Sambo, LPSK Belum Berencana Lapor Polisi Irjen Ferdy Sambo diperiksa Bareskrim. ©2022 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LSPK) belum berencana melaporkan dugaan upaya suap dilakukan saat menyambangi kantor mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo di Mabes Polri, Jakarta, pada 13 Juli lalu, ke Timsus dan Tim Itsus Polri. Dugaan upaya suap itu dilakukan salah satu orang suruhan Sambo saat berkoordinasi terkait kematian Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat.

"Tidak (belum berencana melaporkan)," kata Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo saat dihubungi, Minggu (14/8).

Kendati demikian ketika ditanyakan alasan LPSK belum berencana melaporkan kejadian upaya suap itu ke polisi, Hasto enggan berkomentar lebih lanjut. Dia mengatakan akan menjelaskan secara utuh soal dugaan upaya suap itu saat jumpa pers pada Senin (15/8) besok.

"Besok saja, iya (bakal dijelaskan)," ujar dia.

Namun menurut Hasto, dugaan upaya suap itu terjadi ketika tim LPSK berkoordinasi terkait kematian Brigadir J menindaklanjuti permohonan perlindungan dilayangkan PC, Istri Sambo. Tim LPSK kala itu langsung menolak ketika disodorkan dua amplop tebal diduga berisi uang.

"Lah sudah ditolak seketika itu oleh Staf LPSK," kata dia.

2 dari 4 halaman

Dugaan Upaya Suap Perlu Pembuktian

Sementara dihubungi secara terpisah, Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santosa menilai jika upaya suap yang terjadi terhadap petugas LPSK kala itu sulit untuk dilaporkan apabila tidak ada bukti nyata terkait adanya suap yang diberikan pihak Ferdy Sambo.

"Ya sulitnya barbuknya tidak ada, jadi ada barbuk yang tidak mereka miliki. Seharusnya saat mereka terima, setelah diterima dilaporkan," sebut Sugeng.

Kendati demikian, Sugeng pun tak menutup mata bila dalam kasus ini adanya upaya suap ke berbagai pihak untuk mengamankan kasus ini. Seperti halnya, yang dialami pegawai LPSK ketika menyantroni Kantor Irjen Ferdy Sambo.

"Itu sebetulnya harus ditarik ke belakang. Jadi saya dapat informasi, ada pengucuran dana besar-besaran. Untuk cipta kondisi, pada skenario FS itu diterima semua pihak," ujarnya.

Lantas, Sugeng pun menyoroti mempertanyakan suara DPR yang terkesan menutup mata atas kasus ini. Menurutnya, para anggota parlemen terkesan diam atas adanya kasus yang tengah menjadi sorotan publik.

"Ke DPR, ini ada informasi DPR juga mendapatkan, menjadi pertanyaan seperti Pak Mahfud apakah DPR itu dapat guyuran dana. Ini pertanyaan ya, bukan tuduhan," ucapnya.

"Kenapa DPR diam, apakah mendapat guyuran dana. Ini juga ada pertanyaan juga apakah Kompolnas juga pernah ditawari uang itu. Karena, sikap Kompolnas itu kan awal-awal itu searah dengan keterangan searah dengan Kombes Budhi (kapolres jaksel)," tambahnya.

Menurutnya, soal dugaan adanya kucuran uang ke berbagai pihak bisa ditarik mulai dari keterlibatan 31 personel yang dinyatakan melanggar etik hingga adanya uang yang diterima Bharada E.

"Kemudian, setelah itu mereka yang terlibat 31 orang ini harus ditanya apakah menerima duit gak. Kan Bharada E sudah ngomong kan Rp1 M, iya kan," ucapnya.

3 dari 4 halaman

LPSK Tolak Amplop

Sebelumnya, Lima hari setelah kasus kematian Brigadir J yang disebut akibat adu tembak di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, 8 Juli 2022, anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendatangi kantor mantan Kadiv Propam di Mabes Polri, Jakarta. Kehadiran LPSK tersebut untuk berkoordinasi terkait tewasnya sang ajudan.

Dalam kunjungan itu, anggota LPSK tersebut disodorkan dua amplop tebal yang diduga berisi uang. Kabar ini telah dibenarkan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo.

"Itu bukan diduga, tapi memang terjadi," ujar Hasto Atmojo Suroyo saat dihubungi, Jumat 12 Agustus 2022.

Dia menuturkan, kejadian itu berlangsung pada 13 Juli 2022 lalu. Kala itu, setelah pertemuan selesai dilakukan, staf LPSK tiba-tiba menerima dua amplop tebal yang diduga dari orang suruhan Ferdy Sambo.

"Saya kurang tahu persis apakah ajudannya apakah stafnya, karena masih di kantor Pak Sambo di Propam," ungkap Hasto.

Dia menduga bahwa isi amplop tebal tersebut adalah uang, namun pihaknya tidak membuka amplop tersebut dan langsung segera mengembalikannya. Sehingga dia mengaku tidak tahu nominal uang dalam amplop pemberian Ferdy Sambo tersebut.

"Langsung dikembalikan," tegas Hasto.

Dia menuturkan, pihaknya memang kerap dirayu dengan amplop yang serupa, kala menunaikan tugas di berbagai daerah. Terlebih bila yang tersangkut kasus berasal dari kalangan borjuis.

"LPSK sering melakukan investigasi di berbagai daerah, apalagi orangnya adalah orang mampu. Biasanya ada amplop-amplop kayak gitu (isinya berupa uang-red) tapi kita tolak untuk itu," tegasnya.

"Biasanya ada amplop-amplop kayak gitu tapi kita tolak untuk itu," imbuhnya.

4 dari 4 halaman

Pengacara Ferdy Sambo Bantah Sodorkan Amplop Cokelat Tebal ke LPSK

Pengacara Irjen Ferdy Sambo dan keluarga, Irwan Irawan menepis tudingan soal pemberian amplop kepada perwakilan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Informasi tersebut pertama kali disampaikan oleh Menko Polhukam Mahfud MD.

"Sama sekali tidak ada peristiwa itu yang sebagaimana diceritakan," katanya saat dihubungi, Jumat (12/8).

Dia menerangkan, penasihat hukum meragukan pernyataan dari pihak LPSK maupun Mahfud MD. Menurutnya, kalaupun ada seharusnya disebutkan juga siapa yang memberikan dan apa isinya.

"Betul diragukan karena dia kan harus menyebutkan tujuannya pemberian apa dan siapa yang memberikan gitu, siapa yang berikan, orangnya siapa dan kita tidak paham amplop itu isinya apa kemudian tujuan diberikan untuk apa," ujarnya.

Irwan mengungkapkan, rekannya Arman Hanis turut mendampingi istri Ferdy Sambo saat proses asesmen oleh tim LPSK berlangsung. Saat itu, dia menjelaskan, tidak ada sama sekali pemberian amplop.

"Kita tidak mengerti isu-isu amplop tersebut aku ditanya ini aku ini tidak paham apa isinya amplop itu dan siapa yg memberikan. Dan saat itu ada pengacara juga mendampingi menyatakan tidak ada gitu," tutupnya. [gil]

Baca juga:
Bharada E: Saya Masih Ingin Berkarir di Brimob
Kuasa Hukum Nilai Isu Ferdy Sambo Janji Rp1 Miliar Bikin Posisi Bharada E Disudutkan
Polri Bergerak ke Magelang, Usut Peristiwa Pemicu Kemarahan dan Emosi Ferdy Sambo
Garangnya Kapolri Sigit Sikat para Jenderal Nakal
Kuasa Hukum: Bharada E Tembak Brigadir J Tekanan Irjen Ferdy Sambo, bukan Terencana
Penyebab Bharada E Putus Kerja Sama Deolipa: Tak Nyaman Sejak Pertama Bertemu
Penampakan Rumah Pribadi Irjen Ferdy Sambo, Sepi Tanpa Penjagaan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini