Sjahrir: Hidup di Antara Orang Buangan Lebih Berat Daripada Penjara Isolasi

Kamis, 15 November 2018 04:34 Reporter : Jayanti
Sjahrir: Hidup di Antara Orang Buangan Lebih Berat Daripada Penjara Isolasi pameran surat pendiri bangsa. ©2018 Merdeka.com/Jayanti

Merdeka.com - "Kehidupanku di antara orang buangan keadaannya jauh lebih berat daripada di dalam sel isolasi di penjara."

Itulah ungkapan hati Sjahrir yang ditulis melalui surat kepada istrinya Maria Johanna Duchateau. Surat itu dipamerkan pada pameran surat pendiri bangsa di Museum Nasional, Jakarta.

Hati Sjahrir bergolak. Baginya, kedamaian dan ketenangannya telah direbut oleh penjara. Segala kekuatan dan keteguhannya sirna saat pintu-pintu penjara ditutup. Kala itu, Belanda membuang Sjahrir ke Boven Digul, Tanah tinggi. Tempat yang dikenal sebagai wilayah endemik malaria hitam yang mematikan, letaknya di kawasan hutan ujung sungai Digul.

Sjahrir tak bisa menyembunyikan kesepiannya. Semua itu diungkapkan pada sang istri melalui selarik surat. Dia berharap ada balasan surat dari Mieske, panggilan sayang untuk sang istri. Surat itu bisa jadi obat pengusir kesepian selama menjalani kehidupan di penjara.

"Di sini aku merasa lebih banyak kesepian dan sendiri, melebihi kesendirian di dalam sel penjara itu sendiri. Di dalam pikiranku, aku selalu membutuhkanmu untuk menguji pikiran dan tindakanku, untuk berunding, berbagi perasaan, aku membutuhkan surat-suratmu untuk bertahan dan mengangkat diri ini saat hampir tenggelam," kata Sjahrir.

"Suratmu begitu sangat berarti buatku, aku harap kamu mampu menulisnya secara teratur kepadaku, supaya aku bisa menerima sesuatu setiap kali kapal datang berlabuh," sambung Sjahrir dalam surat itu.

Keduanya terpisah lantaran Sjahrir menceburkan diri dalam pergerakan nasional. Hubungan keduanya berjalan dengan jarak jauh. Mereka hanya terhubung lewat surat menyurat. Sjahrir di Indonesia timur sementara Maria hidup di Belanda.

Tak sampai setahun di Boven Digul, Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, Maluku pada 1935. Surat-surat kerap dikirimkan Sjahrir ketika berada di Banda Neira. Salah satu surat Sjahrir yang dipamerkan itu ditulis untuk keponakannya, Hedda dan Akkie.

Beberapa surat dari Sjahrir saat ini tengah dipamerkan di Museum Nasional bersama sejumlah surat dari para tokoh bangsa lainnya dalam pameran "Surat Pendiri Bangsa" yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama Historia.id pada 10 hingga 22 November. [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini