Siswa Dianiaya Senior, ATKP Makassar Serahkan Penyelesaian ke Jalur Hukum

Kamis, 7 Februari 2019 10:44 Reporter : Lia Harahap
Siswa Dianiaya Senior, ATKP Makassar Serahkan Penyelesaian ke Jalur Hukum Ilustrasi Penganiayaan. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Kasus kekerasan dialami siswa Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Aldama Putra (19). Dia dianiaya seniornya Muhammad Rusdi (21) hingga meninggal dunia.

Direktur ATKP Makassar, Agus Susanto, mengatakan telah menyerahkan penanganan kasus ini pada kepolisian untuk ditindaklanjuti.

"Kita serahkan sesuai prosedur hukum berlaku. Di internal kami juga punya prosedur, jadi kami pegangnya aturan berlaku," kata Agus saat dihubungi merdeka.com, Kamis (7/2).

Agus memastikan pihak sekolah sudah sangat tegas membuat aturan dan mengimbau para siswa untuk tidak melakukan kekerasan. Sehingga, dia tidak sepakat jika dikatakan kasus yang dialami Aldama karena pembiaran.

"Tidak benar. Kami tidak pernah anjurkan itu, memfasilitasi itu dan sebagainya," jelasnya.

Saat kejadian, kata Agus, pelaku berjumlah satu dan tidak ada yang membantu. Terkait sanksi, dia menegaskan sejak awal pihak sekolah sudah tegas soal aturan jika siswa melakukan pelanggaran.

"Dari awal dia masuk sudah kita beri tahu aturan da dia sudah buat pernyataan tidak melakukan pelanggaran dan di situ ada sanksinya. Dan kita juga sudah edarkan dilarang lakukan tindak kekerasan," katanya.

Aldama dianiaya karena persoalan sepele. Saat kembali ke asrama, Aldama kedapatan masuk kampus menggunakan sepeda motor tapi tidak menggunakan helm.

Dia langsung dipanggil seniornya. Sesampainya di dalam ruangan, Aldama langsung diperintahkan melakukan sikap sujud taubat.

Setelah Aldama melakukan sikap taubat itu, dadanya langsung dipukul berkali-kali hingga akhirnya tumbang dan pingsan. Rusdi dan teman-temannya panik, kemudian berusaha memberikan pertolongan pertama dengan memberikan napas buatan dan minyak kayu putih.

Kemudian Aldama dibawa ke Rumah Sakit Sayang Rakyat. "Namun nyawa korban tidak terselamatkan pada Minggu (3/2) malam," kata Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo.

Pihak keluarga menuntut kasus penganiayaan itu dibuka. Apalagi, laporan pertama pihak sekolah pada keluarga, Aldama jatuh terpeleset di kamar mandi. Padahal sekujur tubuhnya banyak luka lebam.

"Saya periksa semua badannya, ada luka-luka kepalanya, jidatnya, memar di perut dan tangannya. Saya berpikir tidak wajar kematian anak saya. Namun pihak ATKP mengatakan anak saya jatuh di kamar mandi. Hasil visum terbukti ada tindakan penganiayaan," kata ayah Aldama, Daniel Pongkala.

Kepolisian terus mengembangkan kasus meski telah menetapkan satu orang pelajar senior menjadi tersangka. Kementerian Perhubungan sebagai pemilik sekolah juga sedang membentuk tim untuk melakukan investigasi kematian Aldama. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini