Sirikit Syah Menyebarkan Virus Menulis

Rabu, 13 Juni 2012 11:33 Reporter : Fatchur Rochim HP
Sirikit Syah Menyebarkan Virus Menulis Sirikit School of Writing. merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Kesadaran menulis perlu terus dibangun di tengah kondisi masyarakat yang semakin pragmatis. Tidak sedikit kontribusi para penulis terbukti berperan besar membangun negeri ini, nama-nama mereka terus dikenang lewat buku atau tulisan di media. Kebiasaan menulis harus disebarkan layaknya virus yang mewabah.

"Kepiawaian menulis bukanlah bakat, tapi keterampilan yang bisa diajarkan pada setiap orang," tegas praktisi media Sirikit Syah di Hall Hotel Elmi, Surabaya, Senin (11/06/2012).

Sirikit Syah yang mantan wartawan senior di Surabaya Post mendorong penyebaran 'virus' budaya menulis bahkan sampai akut. Bersama M. Qodari (Indobarometer), Ismail Nachu (Pengusaha), Samsul Hadi (Konsultan Bisnis), Abiratno (Bina Ilmu), Md Aminudin (novelis) membentuk sekolah menulis, Sirikit School of Writing (SSW).

Siapapun bisa menjadi penulis, kalaupun tidak bisa dimuat di media atau pun menjadi buku, tetap bisa ditampilkan di blog, menunjukkan ekspresi diri. Tidak sedikit naskah yang semula hanya berisi sesuatu yang sederhana dan ringan, namun kenyataannya dipilih oleh penerbit untuk dicetak. Para penulis juga dari banyak latar belakang profesi, ibu rumah tangga, mahasiswa, politikus, bahkan dokter juga menjadi penulis produktif, kata Sirikit.

Kalimat Sirikit tentang dokter yang pandai menulis sebenarnya juga diarahkan pada dr Ario Jatmiko, dokter ahli bedah yang juga direktur rumah sakit Onkologi Surabaya di Surabaya yang saat itu ikut hadir. Dia sebagai seorang kolumnis di sejumlah media cetak yang akan menjadi salah satu tim pengajar SSW.

Satria Darma, Sirikit Syah dan Suparto Broto


Sirikit School of Writing dalam konsepnya menawarkan teknis menulis karya jurnalistik, karya fiksi, karya kehumasan, proposal dan laporan bisnis, karya ilmiah, artikel populer, buku ajar, serta copy writing dan advetorial. Tim pengajar didukung oleh praktik pengalaman, serta didukung oleh teori yang selama ini terus dikembangkan.

Nama Sirikit School of Writing (SSW) sendiri memang diambil dari nama Sirikit Syah yang cukup populer di dunia jurnalis dan tulis menulis. Pengalamannya sebagai jurnalis, di Surabaya Post, SCTV, RCTI, The Jakarta Post, membuat para founder cukup beralasan mendorongnya untuk 'menjual' nama Sirikit sebagai brand untuk menarik peminat. Sirikit sendiri sejak awal memiliki cita-cita untuk membuat sekolah menulis, yang sudah puluhan tahun digelutinya.

"Akhirnya cita-cita saya tercapai, setelah berkelana menjadi freelance, 'pengamen' dan lain sebagainya di usia setengah abad lebih ini," ucapnya.

Acara peluncuran Sirikit School of Writing (SSW) ditandai dengan berbagi pengalaman menulis dari M. Qodari (Indobarometer) dan dr. Ario Jatmiko. Turut hadir di acara peluncuran tersebut para jurnalis dan penulis di Jawa Timur, Rukin Firda, Sinta Yudisia, Prof Budi Dharma, Daniel M Rosyid, Satria Darma, Suparto Broto, dan lain-lain. Para undangan yang datang juga berhak atas souvenir buku karya para tim pengajar Sirikit School of Writing (SSW), Rambu-Rambu Jurnalistik (Sirikit Syah), detikcom Legenda Media Online (Sapto Anggoro), Existere (Sinta Yudisia), Tembang Ilalang (Md Aminudin) dan lain-lain.

"Yang terucap akan lenyap, dan yang tertulis akan terus diingat," tegas Sirikit menutup pidatonya. [roc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini