Sidang Pelanggaran HAM Paniai, Eks Wakapolres Sebut Suara Tembakan dari Bukit

Kamis, 6 Oktober 2022 21:16 Reporter : Ihwan Fajar
Sidang Pelanggaran HAM Paniai, Eks Wakapolres Sebut Suara Tembakan dari Bukit Sidang kasus pelanggaran HAM berat Paniai dengan terdakwa mantan Dandim Paniai Mayor Inf (purn) Isak Sattu. ©2022 Merdeka.com/Ihwan Fajar

Merdeka.com - Sidang kasus dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang menjerat eks perwira penghubung Komando Distrik Militer (Kodim) 1705/Paniai, Mayor Inf (purn) Isak Sattu menghadirkan mantan Kapolres AKBP (Purn) Daniel T Prionggo, Wakapolres Kompol Hanafi, dan Kepala Distrik Paniai Pius Gobay. Dalam kesaksiannya, Hanafi mengaku sempat mendengar suara letusan senjata dari arah perbukitan.

Hanafi menceritakan sehari sebelum kerusuhan yang berakhir dengan penembakan, Pius Gobay mendatangi rumah dinasnya. Dia melaporkan kejadian adanya pemukulan yang dilakukan aparat terhadap anak-anak di Pondok Natal Gunung Merah.

"Sekitar salat Magrib, kepala distrik mendatangi rumah dinas saya bahwa terjadi pemukulan Pondok Natal Gunung Merah," ujarnya di Ruang Bagir Manan Pengadilan Negeri Makassar, Kamis (6/10).

Saat itu, Hanafi menanyakan di mana posisi korban pemukulan kepada Pius Gobay. Setelah diberi tahu, Hanafi langsung berangkat ke kantornya.

"Saya lihat ada 3-4 orang yang terluka. Setelah itu saya bawa anak itu bersama anggota ke rumah sakit untuk dirawat dan juga dilakukan visum," kata dia.

2 dari 4 halaman

Warga Lakukan Pemalangan

Saat dirawat itulah Hanafi mengaku pergi ke lokasi terjadinya pemukulan di Gunung Merah. Hanya saat itu dirinya tidak mendapatkan bukti apa-apa.

"Saya di sana tidak menemukan bukti-bukti atau jejak karena hari juga sudah malam. Berdasarkan saran dari anggota, karena di situ daerah rawan sehingga kita balik saja dulu," tuturnya.

Karena alasan tersebut, Hanafi bersama personelnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi korban pemukulan. Selain itu, dirinya juga ingin meminta hasil visum.

"Kita juga akan BAP (berita acara pemeriksaan) kepala distrik dan juga korban. Cuma waktu itu, bapak kepala distrik bilang anak-anak masih sakit, pusing sehingga tidak bisa di-BAP," kata dia.

Pada saat itu, Hanafi juga menyampaikan kepada Pius Gobay agar tidak ada gerakan lain yang bisa mengganggu keamanan. Pada tanggal 8 Desember 2014, Hanafi mengaku mendapatkan laporan dari Kapolsek Paniai Timur tentang adanya aksi pemalangan yang dilakukan warga.

"Saya datang dan coba berkomunikasi dengan mereka yang melakukan pemalangan jalan di Lapangan Karel Gobay. Saya berusaha untuk meredakan, dan meminta tenang massa. Saya tanya apa masalahnya, ternyata soal pemukulan tadi malam yang belum tertangani," kata dia.

Hanafi juga mengungkapkan saat kejadian kerusuhan tersebut, Kapolres Paniai AKBP (Purn) Daniel T Prionggo sedang ada tugas luar dari Polda Papua, sehingga dirinya menjadi pejabat tertinggi di Polres Paniai.

"Sewaktu saya mengumpulkan anggota ini, saya perintahkan Kabag Ops, Kasat Bhinmas, Kapolsek Pantim (Paniai Timur), Kasat Sabhara membawa beberapa anggota ke Gunung Merah untuk melakukan tindakan persuasif yang humanis dan tidak membawa senjata," ucap dia.

3 dari 4 halaman

Massa Bawa Kapak dan Batu

Saat itu, Hanafi menceritakan melihat massa sedang menari Waita (tarian perang). Ia melihat sejumlah massa membawa kapak dan batu.

"Saya tetap melakukan persuasif terhadap mereka. Karena mengimbau baik dan sopan pada mereka, sebagian ada yang mengerti ada yang tidak," kata dia.

Selain itu, dirinya juga melaporkan kejadian tersebut ke Kapolres Paniai. Hanya kondisi jaringan seluler saat itu tidak bagus.

"Langkah saya melaporkan ke kapolres. Saya perintahkan Kabag Ops dan Kasat Intel membuat laporan tertulis," sebutnya.

Saat kondisi semakin memanas, ia memerintahkan kepada personelnya yang ada di Polsek Paniai Timur untuk mengambil senjata. Apalagi saat itu ada terdengar suara tembakan dari atas bukit

"Saya perintahkan ambil senjata, karena mendengar suara tembakan dari atas bukit," ungkapnya.

4 dari 4 halaman

Tidak Lihat Penembakan di Koramil

Terkait penembakan di Koramil 1705-02/Enarotali, Hanafi mengaku tidak melihat secara langsung. Ia mengaku hanya mendapatkan laporan jika ada penembakan di Koramil 1705-02/Enarotali saat massa tidak terkontrol.

"Tidak tahu siapa yang melakukan penembakan. Informasi dari anggota ada suara tembakan dari arah Koramil," sebutnya.

Saat persidangan, Hanafi sempat tersudut dengan pertanyaan anggota majelis hakim, Siti Noor Laila. Dia sering menjawab tidak tahu terkait kasus HAM berat yang diduga dilakukan oleh terdakwa.

"Rentetan kejadian sangat berdekatan sehingga sulit memprediksi yang mulia. Massa tidak bisa dikendalikan lagi karena situasi cepatnya itu," jawab Hanafi.

Sementara, eks Kapolres Paniai Ajun Komisaris Besar Daniel T Prionggo mengaku tidak mengetahui awal terjadinya kerusuhan di Lapangan Karel Gobay. Alasannya, saat kejadian itu dirinya mendapatkan tugas luar daerah dari Polda Papua.

Daniel mengaku mengetahui adanya kerusuhan di Lapangan Karel Gobay setelah mendapatkan laporan dari Kepala Staf Kodim (Kasdim) dan Wakapolres Paniai. Daniel menyebut dirinya baru turun melakukan penyelidikan setelah tanggal 8 Desember 2014.

"Saat tiba saya langsung ke rumah sakit dan lanjut ke TKP," kata dia.

Saat itu, kata Daniel kondisi Paniai Timur sudah berangsur kondusif. Ia mengaku saat itu belum mengetahui adanya korban meninggal dan luka.

"Saya tidak tahu (korban meninggal dan luka). Murni pencarian selongsong tadi," sebutnya.

Saat persidangan, Daniel sempat ditanya penasihat hukum terdakwa soal aturan menembak di saat kondisi genting. Untuk di kepolisian, kata Daniel penggunaan senjata api diatur di Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2019.

"Secara prosedural, ada tahapan apabila massa anarkis, anggota diserang (senjata) diarahkan pinggang ke bawah. Dilumpuhkan, bukan dimatikan," kata dia. [yan]

Baca juga:
Sidang HAM Berat Paniai, Sopir Wakapolres Ungkap Senpi Digunakan Menembak Jenis SS1
Eks TNI Terdakwa Kasus Paniai Terancam 20 Tahun Bui, Dakwaan Dinilai Banyak Terputus
Terdakwa Pelanggaran HAM Berat Paniai Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara
Dijaga Ketat Brimob, Sidang Pelanggaran HAM Berat Paniai Digelar PN Makassar
Mantan Dandim Paniai Papua Didakwa Pelanggaran HAM Berat
Komnas HAM Minta LPSK Jemput Bola Beri Perlindungan Saksi Kasus Paniai

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini