Sidang Kasus Kerumunan, Rizieq Singgung Mudik Dilarang Tapi WN India Masuk ke RI

Kamis, 29 April 2021 13:53 Reporter : Bachtiarudin Alam
Sidang Kasus Kerumunan, Rizieq Singgung Mudik Dilarang Tapi WN India Masuk ke RI Sidang Habib Rizieq. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Terdakwa kasus kerumunan Habib Rizieq Syihab menyinggung soal kebijakan larangan mudik pada Idul Fitri tahun ini. Dia menyayangkan saat mudik dilarang, pariwisata tetap buka di mana datang ratusan Warga Negera Asing (WNA) India ke Indonesia.

Hal itu disinggung Rizieq ketika bertanya kepada dua saksi ahli dari jaksa penuntut umum (JPU) dalam perkara kerumunan Petamburan dan Megamendung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (29/4).

Dua orang saksi ahli yang hadir yakni Hariadi Wibisono selaku Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia dan Panji Fortuna, Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.

"Ini kan mudik dilarang dalam rangka mencegah penyebaran covid, ini kan masuk langkah-langkah untuk penanganan wabah. Tapi sementara wisata dibiarkan orang asing yang datang dari negeri kena wabahnya paling parah saat ini di India itu dibiarkan masuk ke Indonesia," kata Rizieq saat sidang.

"Nah ini pertanyaan saya dalam ilmu epidemiologi apakah hal semacam ini efektif penanganan wabah? Silakan jelas pertanyaannya ya Prof," tambahnya.

Dr. Hariadi menilai jika seluruh macam kerumunan memiliki berpotensi meningkatkan kasus Covid-19, walaupun setiap kerumunan berbeda konteksnya.

"Setiap kerumunan memiliki risiko terjadinya penularan, dan yang saya tekanan di situ apakah selalu setiap kerumunan bisa mengalami peningkatan itu tidak ada yang pasti," kata Hariadi.

Sedangkan, Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Panji Fortuna menjelaskan, bahwa manusia bergerak secara mobile yang membuat itu bisa berpotensi menjadi sumber penularan di wilayah baru.

Menurutnya, hal itu juga sangat berkaitan dengan perjalanan domestik dan internasional. Soal orang yang melakukan perjalanan internasional, menurut Panji, tentu perlu menerapkan kebijakan tertentu. Misalnya pengetatan soal karantina dari mulai 5 hari sampai 14 hari setibanya di Indonesia.

"Jadi ada kewajiban untuk mengkarantina. Sebenarnya penanan di pintu masuk di karantina ini juga bisa diterapkan dalan perjalanan domestik tapi sulit karena volume sangat tinggi. Saya pikir ini mohon maaf jadi memang lebih baik untuk kita membatasi perjalanan atau perpindahan penduduk di dalam negeri," tutur Panji.

Dalam kasus kerumunan Petamburan, Rizieq didakwa telah melakukan penghasutan hingga ciptakan kerumunan di Petamburan dalam acara pernikahan putrinya dan maulid nabi Muhammad SAW.

Sementara dalam kasus kerumunan Megamendung, Rizieq didakwa telah melanggar aturan kekarantinaan kesehatan dengan menghadiri acara di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah, Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor 13 November 2020 lalu.

Oleh sebab itu, Rizieq berserta didakwa dengan lima dakwaan yakni Pasal 160 KUHP jo Pasal 99 Undang-undang nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau, Pasal 216 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, atau ketiga Pasal 93 UU nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Selanjutnya, pasal 14 ayat (1) UU nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau terakhir Pasal 82A ayat (1) jo 59 ayat (3) huruf c dan d UU nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU nomor 17 Tahun 2013 tenang Organisasi Kemasyarakatan menjadi UU jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 10 huruf b KUHP jo Pasal 35 ayat (1) KUHP.

Sementara dalam perkara nomor 226/Pid.B/2021/PN.Jkt Tim terkait kerumunan di Megamendung, Rizieq disangkakan dengan Pasal 93 UU nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan jo pasal 14 ayat (1) UU nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular jo 216 ayat 1 KUHP. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini