Sidang HAM Berat Paniai, Sopir Wakapolres Ungkap Senpi Digunakan Menembak Jenis SS1

Rabu, 28 September 2022 20:30 Reporter : Ihwan Fajar
Sidang HAM Berat Paniai, Sopir Wakapolres Ungkap Senpi Digunakan Menembak Jenis SS1 Sidang Pelanggaran HAM Berat di Pengadilan Negeri Makassar. ©2022 Merdeka.com/Fajar Ihwan

Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Agung (Kejagung) menghadirkan empat saksi dari pihak kepolisian dalam sidang dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang menjerat eks perwira penghubung Komando Distrik Militer (Kodim) 1705/Paniai, Mayor Inf (purn) Isak Sattu.

Saat sidang, salah satu saksi yakni sopir Wakil Kepala Kepolisian Resor Paniai, Abner Onesimus Windesi memperkirakan suara letusan senjata api saat kerusuhan di Koramil 1705-02/Enarotali.

Abner menjelaskan saat kejadian bertugas sebagai sopir Wakapolres Paniai Komisaris Hanafiah. Saat itu, Abner mengaku mengantar Wakapolres ke Pondok Natal Tanah Merah.

"Kejadian itu diinformasikan Pak Waka. Saya driver dan tahu kejadian itu, karena saya mengantar Pak Waka dari Polres ke TKP karena mendengar ada pemalangan dilakukan warga," ujar Abner saat sidang di Ruang Sidang Bagir Manan Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (28/9).

Usai mengantar Wakapolres ke TKP, Abner mengaku langsung putar balik dan memarkirkan mobilnya di Mapolsek Paniai. Dia mengaku jarak antara Koramil 1705-02/Enarotali dengan Polsek Paniai tidak terlalu jauh, sekitar 150 meter.

"Saat tiba di Polsek Paniai, saya masuk dan situasi pelemparan batu oleh masyarakat. Saya langsung masuk dan langsung ke belakang," beber dia.

"Kondisi saat itu kacau, masing-masing berlindung, saya pun berlindung sendiri. Tidak mendengar perintah (mengamankan aksi pelemparan), saya tidak tahu karena (suara) bising," imbuhnya.

Saat kondisi semakin memanas, Abner mengaku mendengar suara letusan senjata api. Dia perkirakan suara tembakan itu dari arah Koramil 1705-02/Enarotali.

"Pos koramil dan polsek tidak begitu jauh, memang ada suara tembakan. Suaranya dari arah depan (koramil), sementara saya di belakang (Polsek Paniai)," sebutnya.

2 dari 3 halaman

Abner juga memperkirakan suara letusan dari senjata api jenis SS1. Meski demikian, ia tidak bisa memastikan apakah benar suara letusan senpi itu dari SS1 atau M16 karena saat kejadian sembunyi di Polsek Paniai.

"Sering mendengarkan suara (letusan) SS1 yang digunakan KKB. Saya sering kontak (tembak) dengan KKB," ungkapnya.

Abner mengaku awalnya tidak mengetahui adanya korban jiwa saat kerusuhan itu. Ia baru mengetahui adanya korban meninggal pada tanggal 9 Desember 2014.

"Saya tahu ada korban, cuma tidak tahu akibat apa. Kalau korban penembakan saya tidak tahu," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Sementara saksi lain, Brigadir Andy Richo Amir mengaku saat kejadian kerusuhan hingga terjadinya penembakan berada di Koramil 1705-02/Enarotali untuk mengambil mobil yang terparkir di sana. Penjelasan Richo tersebut sempat dipertanyakan oleh JPU, kenapa bisa berada di Koramil 1705-02/Enarotali, padahal dia bukan anggota TNI

"Saya berada di situ (Koramil) karena tugas luar dinas sebagai ajudan Asisten I Pemkab Paniai. Saya sebagai sopir, jadi saya punya mobil dinas diparkir di dalam halaman Koramil," ujarnya.

Sesaat sebelum kejadian, dirinya sedang memanaskan mesin mobil untuk persiapan ke kantor. Tetapi saat warga mendatangi Koramil, dirinya terjebak di dalam.

"Saya lihat warga berusaha masuk dan saat itu pagar Koramil yang masih terbuka langsung ditutup oleh anggota (TNI)," ungkapnya.

Richo mengungkapkan saat itu warga berteriak mencari orang yang memukul warga saat kejadian Minggu, 7 Desember 2014. Tak hanya berteriak, warga juga melempar batu ke arah Koramil.

Richo juga menjelaskan anggota TNI yang bertugas di Koramil sudah meminta warga untuk mundur. Tetapi, hal tersebut diabaikan warga.

"Ada warga yang memanjat pagar Koramil. Anggota TNI juga saya lihat meminta izin kepada terdakwa untuk mengusir warga yang mencoba masuk," kata dia.

Richo mengaku saat itu terdakwa meminta kepada anggotanya untuk menahan diri. Alasannya, terdakwa sudah meminta arahan ke Dandim Nabire

"Dia meminta anggotanya untuk tahan diri saat itu sambil menelepon (Dandim Nabire)," sebutnya.

Saat kondisi semakin memanas, Richo mengaku melihat anggota TNI yang bertugas di Koramil masuk ke dalam gudang untuk mengambil senjata. Richo juga mengaku saat itu mendengar terdakwa untuk meminta kepada anggotanya untuk tidak menembak.

"Dia bilang tidak usah dulu (menembak). Anggotanya sampaikan menunggu perintah," ungkapnya.

Richo menyebutkan anggota Koramil sempat mengeluarkan tembakan peringatan dengan menggunakan senjata laras panjang. Meski demikian, kondisi tersebut membuat suasana semakin memanas dan hingga terjadinya penembakan tersebut kepada warga.

Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU), Erryl Prima di awal persidangan menghadirkan dua saksi dari pihak polisi. Tetapi pada sore hari, dua saksi lainnya yang juga dari kepolisian dihadirkan.

Sekadar diketahui, kejadian bermula pada Minggu 7 Desember 2014, pukul 17.30 WIT, warga kampung Ipakiye Tanah Merah (dekat pegunungan) meminta sumbangan kepada pengguna jalan di Jalan Enarotali- Madi Kilometer untuk acara perlombaan Pondok Natal Desember 2014.

Namun, dari arah Enarotali menuju Madi, anggota TNI nyaris menabrak seorang warga bernama Benyamin Kudiai sehingga terjadi cekcok mulut. Anggota TNI itu kembali melanjutkan perjalanan.

Beberapa saat kemudian, sejumlah aparat TNI kembali datang dengan mobil ke Pondok Natal Gunung Merah dan membuat kericuhan serta pemukulan terhadap empat orang yang kini menjadi saksi. Saksi kemudian melaporkan kepada Kepala Distrik Paniai Timur dan ke Polsek Paniai untuk mencari pelaku, namun tidak ditemukan.

Pada 8 Desember 2014, sekira pukul 07.00 WIT, sekelompok orang memblokir jalan di depan Pondok Natal Gunung Merah Jalan Lintas Madi-Enarotali Kilometer 4 hingga menyebabkan akses jalan tertutup. Polisi berusaha melakukan pendekatan, namun tidak berhasil.

Hingga kemudian situasi semakin memanas, dengan massa menuju Lapangan Karel Gobay sambil melakukan tarian perang (Waita). Saat melewati Markas Koramil 1705-02/Enarotali, massa berusaha merangsek masuk meski sudah ditutup atas perintah terdakwa. Hingga terjadi insiden penembakan tersebut.

Dalam kasus ini, Mayor Inf (Purn) Isak Sattu didakwa kesatu Pasal 42 ayat 1 huruf a dan huruf b Jis Pasal 7 huruf b, Pasal 9 huruf a, Pasal 37 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Selanjutnya, dakwaan kedua Pasal 42 ayat 1 huruf a dan huruf b Jis Pasal 7 huruf b, Pasal 9 huruf h, Pasal 40 UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

[gil]

Baca juga:
Eks TNI Terdakwa Kasus Paniai Terancam 20 Tahun Bui, Dakwaan Dinilai Banyak Terputus
Terdakwa Pelanggaran HAM Berat Paniai Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara
Kerusuhan Paniai, Mantan Dandim Didakwa Pelanggaran HAM Berat
Prajurit TNI Terdakwa Kasus Pelanggaran HAM Berat Paniai Segera Disidang
Komnas HAM Minta LPSK Jemput Bola Beri Perlindungan Saksi Kasus Paniai
Mantan Dandim Paniai Papua Didakwa Pelanggaran HAM Berat
Dijaga Ketat Brimob, Sidang Pelanggaran HAM Berat Paniai Digelar PN Makassar

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini