Hot Issue

Siasat Melawan Teror KKB Papua

Kamis, 29 April 2021 10:53 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Siasat Melawan Teror KKB Papua KKB Kembali Bunuh Guru di Beoga Papua. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kian hari semakin mengancam keamanan di Papua. Serangkaian teror mulai dari membunuh, menyandera, merampok hingga membakar fasilitas publik seperti sekolah dan rumah warga kerap dilakukan kelompok ini. Warga sipil dan aparat bahkan menjadi korban kekejaman kelompok ini.

Hingga kini, aparat Polri maupun TNI belum mampu menumpas gerakan separatis tersebut. Korban jiwa dari pihak aparat dan KKB pun terus berjatuhan setiap tahun.

Pengamat Intelijen dari intelligence Institute Ridlwan Habib menilai, ada sejumlah faktor melatarbelakangi operasi penangkapan KKB dilakukan Polri belum efektif. Faktor pertama terkait taktikal tempur.

Menurut Ridlwan, KKB sebetulnya tak mempunyai keterampilan bertempur khusus. Hanya saja kelompok ini didukung faktor geografis yang memang menjadi santapannya sejak lahir.

"Kalau mereka taktikal tempurnya tidak hebat-hebat amat. Tetapi mereka terbantu dengan satu pemahaman geografis dua adalah adaptasi fisik. Bayangkan mereka sejak lahir di situ jadi adaptasi suhu, adaptasi fisik, adaptasi nyamuk adaptasi ular mereka kan paham dilawan misalnya dari anggota luar Papua yang hidup di kota kan berat gitu," kata Ridlwan saat dihubungi merdeka.com, Rabu (28/4).

Faktor lainnya terkait perlindungan yang diberikan oleh oknum-oknum seperti tokoh adat, tokoh masyarakat maupun tokoh agama terhadap KKB. Tokoh yang dimaksud Ridlwan seperti kasus penangkapan tokoh agama bernama Paniel Kogoya. Dia sebelumnya ditangkap Satgas Nemangkawi karena menyuplai senjata untuk KKB.

Ridlwan mengatakan, faktor terakhir belum efektifnya teror KKB diredam karena koordinasi antara aparat di lapangan yang masih kurang. Menurut dia, aparat yang beroperasi untuk menumpas KKB berasal dari pelbagai level. Mulai dari anggota Polri dan TNI yang berasal dari Jakarta maupun BIN serta satgas lokas dari Kodam setempat.

Banyaknya satgas yang beroperasi membuat koordinasi di lapangan menjadi sulit. Sehingga dia menekankan, perlunya dibentuk satu payung operasi di bawah komando Satgas Nemangkawi. Ridlwan menilai cara itu lebih efektif dengan berkaca dari pembentukan Satgas Tinombala dipimpin polisi untuk menumpas kelompok Mujahid Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.

"Kalau memang Nemangkawi namanya ya sudah Satgas Nemangkawi saja. Jadi semua unsur apakah itu dari Kopassus, dari Kostrad, dari BIN dari apapun dalam satu payung. Artinya pergerakan pasukan pencarian itu satu kendali jangan sampai ada sesama tim tapi bergerak masing-masing," kata dia.

Korban jiwa teranyar Bharada (Anumerta) I Komang Wira Natha. Anggota Brimob Kelapa Dua yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi ini gugur setelah terlibat baku tembak dengan KKB pimpinan Lekagak Telenggen di Distrik Ilaga, Puncak, Papua, Selasa (27/4).

Dua rekan Bharada Komang bahkan harus menjalani perawatan di IRD RSUD Mimika setelah tertembak di perut dan punggung. Keduanya saat ini dalam kondisi stabil.

Gugurnya Bharada Komang menambah daftar aparat menjadi korban KKB. Dua hari sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Papua Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya meninggal dunia usai ditembak di Distrik Beoga, Puncak.

Sedangkan korban sipil sejak awal hingga pertengahan April tercatat sudah ada empat korban jiwa. Mereka adalah dua guru dan seorang pelajar serta satu tukang ojek.

Pemda Turun Tangan

Ridlwan menambahkan, selain operasi dilakukan aparat, keikutsertaan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Kabupaten Puncak Willem Wandik menjadi kunci utama agar aksi teror KKB dapat dibendung.

Sebab menurut Ridlwan, teror KKB yang rata-rata dikomandoi oleh anak-anak muda ini dilatarbelakangi faktor ekonomi.

Sedangkan selama ini dia melihat tak ada peran pro aktif dari pemerintah setempat terhadap warganya. Sehingga pendekatan dilakukan kepala daerah setempat dinilainya cukup efektif untuk meredam aksi teror tersebut.

"Ini adalah ketidakmerataan dana Otsus kalau saya melihatnya ya. Jadi kesejahteraan yang tidak merata membuat warga-warga di distrik-distrik yang terpencil ini merasa mereka tahu ada uang banyak dari Jakarta tapi mereka tidak merasakan apa-apa nah kemudian mereka dikomporilah oleh oknum-oknum dengan narasi separatis tapi kemudian condongnya ke arah kriminal, perampokan, pembunuhan kayak gitu secara acak," kata dia.

Oleh sebab itu, Ridlwan tak sepakat jika KKB ini disebut sebagai organisasi teroris. Dia mempertanyakan, jika KKB merupakan organisasi teroris namun tidak menyerang di pusat-pusat strategis di kota seperti di Jayapura. Padahal menurut dia, dengan meneror kantor-kantor di pusat kota lebih memiliki dampak lebih besar di dunia internasional.

Dia mengatakan, KKB lebih tepat disebut gerombolan kriminal yang mencari uang dengan cara-cara kekerasan seperti merampok dan menyandera. Kelompok ini berharap, ancaman teror dapat memperoleh uang lebih cepat dan mudah. Cara menembar teror seperti itu mirip dengan faksi Abu Sayyaf di Filipina Selatan.

Kendati begitu, Ridlwan tak menampik masih ada faksi separatis yang memang menginginkan Papua merdeka. Salah satunya dilakukan Benny Wenda. Namun dia melihat dari sisi jumlah mereka sangat kecil.

Keberadaan faksi separatis ini lebih pada ditopang dari sisi opini dunia internasional dan lobi-lobi negara lain yang memang menginginkan Papua lepas dari bumi pertiwi.

"Jadi ini sebenarnya lebih mirip faksi Abu Sayyaf di Filipina selatan. Abu Sayyaf itu dulu mereka ideologis tapi sekarang mereka lebih fragmatis. Apa yang mereka lakukan? Menyandera nelayan untuk mendapatkan uang tebusan cepat. Nah begitu ada satu kelompok berhasil yang lain melihat enak juga nih cari duitnya sandera nelayan diancam-ancam dibayar nelayan dilepas. Ini yang sama yang berlaku di KKB Papua itu. Jadi begitu melihat satu kelompk gampang cari duitnya yang lain terinspirasi," kata Akademisi asal Universitas Indonesia ini.

Polri menyatakan belum akan menambah jumlah personel di tengah intensitas kekerasan dilakukan KKB semakin meningkat selama dua pekan terakhir. Polri menegaskan bersama TNI dan instansi lainnya akan bekerja secara optimal untuk menyelesaikan masalah berhubungan dengan KKB di bumi cendrawasih.

Polri tetap mengedepankan Operasi Nemangkawi dalam penegakan hukum untuk menumpas KKB. Polri belum akan menerapkan operasi tempur untuk memberantas KKB.

Pendekatan Penanganan GAM

Sementara itu, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos meminta, pemerintah untuk mencontek cara menangani konflik di Papua dari pendekatan penyelesaian konflik terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurut Bonar, penyelesaian konflik di Papua harus mengedepankan pendekatan lembut bukan pendekatan yang bersifat militeristik.

Dia memaparkan bahwa melalui strategi ini kelompok mantan kombatan GAM yang dipimpin Din Minimi telah menyerahkan diri pada 2015 lalu. Penyerahan diri Din Minimi itu kemudian diikuti oleh 120 orang anak buahnya dan menyerahkan persenjataan yang mereka pegang.

Dia mengatakan, pemberian label teroris KKB di Papua tidak akan memutus mata rantai teror di bumi cendrawasih. Sebab menurut dia, tak berhasilnya aparat meredam teror di Papua lebih dikarenakan kurangnya dukungan dan kepercayaan rakyat setempat.

Oleh sebab itu, dia mendorong pendekatan humanis dengan merebut hati rakyat setempat dinilai Bonar lebih efektif. Hal ini juga diyakininya dapat memotong pasokan-pasokan amunisi sehingga membuat KKB terdesak.

"Ya makanya pendekatannya soft approach yang pertama dekati dulu rakyat di sana bangun kepercayaan dengan rakyat supaya rakyat tidak menjadi bemper bagi mereka. Bangun kepercayaan supaya rakyat berpihak kepada kita. Pendekatan kepada rakyat tentu selain psikologi tentu kesejahteraannya," ujar Bonar. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini