Semangat Penyandang Tuna Netra di Malang Baca dan Menghafal Alquran

Kamis, 22 April 2021 04:37 Reporter : Darmadi Sasongko
Semangat Penyandang Tuna Netra di Malang Baca dan Menghafal Alquran Tuna Netra Baca Alquran Braile. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Penyandang tuna netra di Kota Malang mengisi ibadah Ramadan dengan bertadarus Alquran. Tadarus dengan membaca Alquran braile berlangsung secara rutin setiap hari selama Ramadan.

Usai salat Zuhur berjemaah, sebanyak 25 penyandang tuna netra membaca ayat demi ayat Alquran secara bergantian. Sementara lainnya menyimak dengan meraba Alquran braile di pangkuan masing-masing.

Moch Hafidz AKS, Pendamping Sosial UPT Panti Rehabilitasi Cacat Netra Jawa Timur sesekali meluruskan bacaan jika kurang tepat atau terjadi kesalahan. Sambil menyimak bacaan anak-anak dampingannya, Hafidz juga membantu mengambil mikrofon dari satu orang kepada yang lain.

"Kegiatan selama Ramadan, pagi hari itu murotal (hafalan), dilanjutkan kultum (kuliah 7 menit), kemudian mengulang murotal untuk pemantapan menjelang berbuka puasa. Setelah salat tarawih juga tadarus," kata Moch Hafidz di Masjid An-Nur, Kompleks UPT Rehabilitasi Cacat Netra Jawa Timur di Kota Malang, Rabu (21/4).

Sebanyak 105 orang penyandang tuna netra tinggal di Panti Rehabilitasi Cacat Netra Jawa Timur di Kota Malang. Mereka mendapatkan pendampingan berupa bimbingan kebutuhan dasar yang berorientasi mobilitasi, activity daily living dan membaca braile, termasuk Alquran braile.

Selain itu juga diberikan ketrampilan pijat massase dan shiatsu, laundry sepatu, handycraft, home industri dan lain-lain. Sementara kegiatan keagamaan dipusatkan di Masjid An-Nur, Kompleks UPT Rehabilitasi Cacat Netra Jawa Timur di Kota Malang.

"Kalau yang Alquran braile dari mulai belajar mengenal huruf-huruf sampai lancar mengaji. Awalnya dari huruf-huruf itu dulu, kemudian sistem hafalan juga," katanya.

"Ramadan tahun ini setiap hari ada murottal. Kita coba mengembangkan meningkatkan mental spiritual dalam beribadah, salah satu konsentrasinya pada nada nahwan dan hayati. Diharapkan semakin meningkatkan kemampuan para disabilitas," tambahnya.

Terkait hafalan, para penyandang tuna netra biasanya menyetorkan hafalan dengan mengirimkan pesan voicenote di grup Whatapps (WA). Mereka terbiasa secara mandiri memanfaatkan setting talkback di handphone untuk kegiatan keseharian.

Halimah, salah satu penyandang tuna netra mengaku menambah hafalan dengan mendengarkan bacaan Alquran di YouTube. Lewat bacaan itu berusaha ditirukan dan dihafalkan, sehingga beberapa surat sudah berhasil dikuasainya dengan lancar.

"Waktu itu saya buka-buka di YouTube saya pelajari," katanya.

Sementara Ali Ridlo mengaku berlahan-lahan terus belajar Alquran braile, di samping mengisi waktu dengan hafalan. Kendati dapat membaca braille dalam bahasa Indonesia, namun harus menyesuaikan untuk tulisan Arab.

"Arab braile masih tahab belajar, belum lancar. Hampir sama sih dengan braile Indonesia, bedanya merabanya dari kanan, alhamdulillah sudah bisa," jelasnya.

Senada dengan Ali Ridlo, diungkapkan oleh Novitamila Suryani yang mengaku butuh beberapa waktu untuk penyesuaian. Novi mengaku lebih pelan dan kosentrasi saat membaca braile Indonesia.

"Membaca dengan pelan, hampir semua dengan Indonesia. Tanda bacanya lebih banyak saja dari indonesia," katanya.

Patut dibanggakan adalah Husnul Khotimah yang telah berhasil menghafalkan 15 juz. Ia memiliki kemampuan membaca Alquran braille sekaligus hafalan Alquran.

"Saya belajar mengaji mulai dari usia 8 tahun, alhamdulillah sekarang sudah 15 juz," tegas Husnul Khotimah. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini