'Seluruh Anak Bangsa Harus Saling Toleransi Antar-Umat Beragama'

Jumat, 17 September 2021 15:40 Reporter : Didi Syafirdi
'Seluruh Anak Bangsa Harus Saling Toleransi Antar-Umat Beragama' Demo toleransi agama. ©2013 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Serangan ideologi transnasional banyak menimbulkan kekisruhan. Banyak kelompok-kelompok membuat kegaduhan dengan tindakan tidak sesuai dengan norma dan budaya di Indonesia.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB Maman Imanulhaq mengungkapkan untuk membendung ideologi transnasional, bangsa Indonesia harus terus memperkuat komitmen beragama dan bernegara dalam satu napas yaitu NKRI.

"Beragama dan bernegara dalam konsep NKRI memang harus memiliki satu napas, bahwa orang yang memiliki komitmen keagamaan yang kuat pasti mencintai Indonesia," ujar Maman dalam keterangannya, Jumat (17/9).

Menurutnya, keberagaman dapat disatukan dalam sebuah ikatan bernama Indonesia. Dengan demikian, tidak ada orang atau kelompok yang disebut mayoritas atau minoritas.

"Tidak ada orang yang dianggap sebagai orang lain. Semuanya satu dengan jiwa Indonesia," tuturnya.

Menurut Maman, keragaman di Indonesia justru menjadi modal besar terbentuknya Indonesia. Itu menunjukkan bahwa Indonesia bukan untuk satu kelompok dan bukan untuk satu golongan.

"Seluruh anak bangsa harus saling toleransi antar-umat beragama. Artinya saling menghormati dan menghargai serta saling mencintai Indonesia akan menjadi lebih kuat," imbuh pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka ini.

Ia menilai rasa saling menghormati dan ikatan persaudaraan antar-anak bangsa justru akan membuat kehidupan beragama akan semakin indah.

"Kalau hari ini ada orang yang masih terganggu dengan keadaan orang lain, berarti dia terganggu akidahnya, terganggu keyakinannya. Dan kalau pun kita tidak satu agama, kita masih satu bangsa, bahkan kalau kita bukan satu bangsa, kita masih satu manusia," jelasnya.

Ia melihat saat ini ada dua kelompok yang bahaya bagi kedamaian dan keutuhan Indonesia. Pertama kelompok transnasional dan transaksional. Kelompok transnasional mencoba untuk membawa ideologi secara mendunia tapi melupakan aspek kearifan lokal nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.

Kedua, kata Kang Maman, kelompok transaksional adalah mereka yang dibayar untuk mengganggu kebersamaan bangsa. Kelompok ini juga mengganggu hubungan antar-umat yang selama teranjut dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

"Kita harus mengukuhkan kembali semangat nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia dan meyakini bahwa Indonesia akan maju dengan spirit agama-agama yang ada untuk dijadikan energi dalam menciptakan perdamaian dan persaudaraan yang abadai," tandasnya. [did]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Toleransi
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini