Selama Ramadan, mualaf baru bertambah di Masjid Al Markaz Makassar

Sabtu, 4 Juli 2015 16:22 Reporter : Mappesona
Selama Ramadan, mualaf baru bertambah di Masjid Al Markaz Makassar Masjid Al Markaz Al Islami. ©dok foto mappesona

Merdeka.com - Tidak sedikit orang menyatakan diri memeluk Islam dalam tiap pekannya di Masjid Al Markaz Al Islami, di Jalan Masjid Raya, Makassar. Namun selama Ramadan, jumlah mualaf yakni mereka yang di-Islam-kan itu alami peningkatan.

H Abdul Karim Lawe, anggota badan Pengelola Harian Masjid Al Markaz Al Islami sekaligus pembimbing mualaf menyebutkan, biasanya pengIslaman di Masjid Al Markaz itu setiap pekan yakni sesaat sebelum sholat Jumat berlangsung. Di hari-hari biasa, setiap Jumat itu ada empat hingga lima orang yang di-Islam-kan. Tetapi selama Ramadan ini terjadi peningkatan, setiap Jumat yang di-Islam-kan sebanyak tujuh hingga delapan orang.

"Sudah tiga kali Jumat selama Ramadan. Masing-masing di-Islam-kan tujuh hingga delapan orang. Jadi total mualaf saat ini sudah ada 23 orang," tutur H Abdul Karim Lawe.

Sehingga total mualaf yang sebelumnya di-Islam-kan di Masjid Al Markaz ini sudah mencapai 3.297 orang terhitung sejak tahun 1996, awal Masjid ini beroperasi.

Para mualaf ini meninggalkan agama lamanya dengan berbagai alasan yang pada intinya mereka mengaku mendapat hidayah setelah sejumlah hal yang dilaluinya. Antara lain karena pergaulan di tengah umat Islam, kemudian melihat hal yang spesifik dari Islam itu seperti ajaran ketauhidan, keesaan Tuhan yang tiada menyerupai, yang tidak ada di agama mereka sebelumnya.

Mereka juga memilih masuk Islam setelah berpikir keistimewaan ajaran Islam yang mengajarkan semua manusia sama di hadapan Tuhan, di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah keikhlasan dan amal ibadah. Tidak ada kasta, tidak ada perbedaan kaya dan miskin. Sebagian juga masuk Islam karena ikut orang tua yang lebih dulu dapat hidayah.

"Bahkan ada seorang peneliti dari Prancis masuk Islam karena kagum dengan azan, lafadz panggilan sholat. Katanya sudah banyak negara didatangi dan azan itu tidak berubah, kumandangnya sama di negara manapun. Dari situ dia mempelajari makna azan hingga akhirnya menyatakan peluk Islam," jelas H Abdul Karim seraya menambahkan, rata-rata para mualaf ini orang-orang berpendidikan, sarjana dengan background pengusaha, karyawan dan peneliti. Juga ada dari kaum dhuafa.

Selain warga Makassar, di antara mereka ada juga yang pendatang dan yang tengah bertugas di Makassar. Antara lain ada yang dari Manado (Sulawesi Utara), Jawa, Timor Timur, Irian Jaya juga keturunan Tiong Hoa. Dan pendatang dari negara luar karena bertugas di Makassar baik sebagai peneliti maupun karyawan asing seperti Prancis, Australia, Jepang, Belanda.

Pengelola Al Markaz tidak semata-mata mengantarnya menyebut syahadat tetapi membimbingnya. Usai nyatakan Islam, para mualaf bisa ikuti pembinaan. Ada pesantren kilat selama tujuh hari antara lain materinya soal ketauhidan, tata cara sholat dan tata cara berniaga, bekerja serta bermuamalat dengan jujur dan amanah.

Mereka juga dibekali buku petunjuk sholat, kitab suci Alquran dan terjemah serta buka tuntunan mengaji metode Iqra. "Biasanya setelah masuk Islam mereka datang lagi konsultasi agama dan mengaku setelah masuk Islam, hidup mereka terasa lebih tenang," ujar H Abdul Karim Lawe [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini