Sekolah tarik pungli ke siswa untuk bangun WC

Selasa, 8 Mei 2012 10:10 Reporter : Hery H Winarno
Sekolah tarik pungli ke siswa untuk bangun WC Sekolah SMP 63. merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Meski pembangunan fasilitas sekolah telah ditanggung Pemprov DKI, namun masih ada sekolah yang berani mengutip uang atau menarik pungutan liar (pungli) dari siswa.

Seperti yang dialami siswa SMPN 198 Klender, Durensawit, Jakarta Timur, yang mengaku dimintai pungli sebesar Rp 150 ribu untuk perbaikan WC di sekolah tersebut.

Dikutip dari situs resmi Pemprov DKI BeritaJakarta.com, Selasa (8/5), seorang siswi kelas 9 yang enggan disebut namanya mengatakan, setiap siswa dipungut uang sebesar Rp 150 ribu pada saat akan memasuki tahun ajaran baru.

Pihak sekolah berdalih, uang sebesar itu akan digunakan untuk perbaikan WC siswa yang kondisinya rusak. Namun anehnya, sudah hampir satu tahun WC masih dibiarkan rusak. Para siswa sendiri tak berani bertanya perihal uang tersebut, karena khawatir dimarahi atau berdampak pada nilai mereka.

"Katanya uang itu untuk perbaikan WC. Tapi nyatanya sudah hampir setahun WC masih dibiarkan rusak dan tak berpintu. Sebagai perempuan, jelas risih dan takut dong kalau mau buang air kecil atau besar. Baunya juga sangat menyengat," keluhnya.

Ia berharap pihak sekolah segera memperbaiki WC siswa yang terletak di sisi selatan ruang kelas. WC siswa ini terdapat dua kamar, tapi keduanya tak memiliki daun pintu. Setiap akan buang hajat, siswa terpaksa harus saling menjaga agar siswa lain jenis tak bisa masuk ke WC tersebut.

Kepala SMPN 198, Amer Manulang, mengakui adanya pungutan uang perbaikan WC terhadap siswanya. Namun, pungutan hanya dilakukan terhadap siswa kelas 9. Itu pun yang memungut adalah komite sekolah berdasarkan kesepakatan orangtua murid.

"Itu memang benar ada melalui komite. Karena WC murid berkurang, WC yang ada dulu sudah ditutup saat pembangunan kantin. Rencananya pembuatan dan perbaikan WC akan dikerjakan pada akhir bulan Mei. Upaya ini dilakukan guna mencari solusi mengatasi minimnya WC," jelasnya.

Amer membantah jika semua siswa membayar Rp 150 ribu per orang. Menurutnya besarannya iuran bervariasi sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu, bahkan ada siswa yang tidak memberikannya sama sekali. Amer mengaku dari pungutan tersebut uang yang terkumpul sudah sekitar Rp 17 juta. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Pemprov DKI
  2. Anak Sekolah
  3. Pungutan Liar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini