Sekda Kalbar Dorong Efisiensi dan Pelayanan Komprehensif di RSUD Soedarso Pontianak
Sekda Kalbar Harisson mendesak RSUD dr. Soedarso tingkatkan efisiensi pengelolaan. Fokus pada mutu pelayanan, keuangan, dan SDM penting, memastikan investasi pemerintah berdampak nyata.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, menekankan pentingnya peningkatan efisiensi pengelolaan di RSUD dr. Soedarso Kota Pontianak. Permintaan ini disampaikan setelah menerima laporan program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) triwulan I tahun 2026.
Meskipun laporan PMKP menunjukkan kinerja yang baik dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien, Harisson mengingatkan perlunya gambaran menyeluruh. Hal ini termasuk kondisi keuangan, produktivitas sumber daya manusia, serta efisiensi pengelolaan layanan.
Pemerintah daerah sebagai pemilik rumah sakit membutuhkan informasi komprehensif terkait kinerja pelayanan dan pengelolaan. Tujuannya adalah memastikan pelayanan efektif juga efisien, sejalan investasi besar yang telah diberikan.
Apresiasi Kinerja dan Standar Kementerian Kesehatan
Harisson mengapresiasi kinerja RSUD dr. Soedarso yang dinilai sudah bekerja dengan baik berdasarkan laporan PMKP triwulan I/2026. Ia menyatakan, "Rumah sakit ini sebenarnya sudah bekerja dengan baik setelah saya menerima laporan program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) triwulan I/2026."
Direktur RSUD dr. Soedarso, Hary Agung Tjahyadi, menyerahkan laporan PMKP yang menunjukkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien terjaga. Berbagai indikator pelayanan yang dipaparkan telah mengacu pada standar nasional, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022.
Sekda Harisson mengibaratkan indikator pelayanan rumah sakit sebagai dasbor kendaraan yang mempermudah manajemen. "Indikator ini ibarat dasbor, sehingga kita bisa melihat mana pelayanan yang sudah baik dan mana yang masih perlu diperbaiki," katanya.
Ia juga memuji tenaga kesehatan dan para surveyor RSUD dr. Soedarso atas kemampuan serta pengalaman mereka. Mereka dinilai telah berhasil menjaga standar pelayanan rumah sakit dengan baik.
Dorongan Efisiensi Manajemen dan Keuangan
Meskipun mutu pelayanan diapresiasi, Harisson menekankan agar laporan kepada dewan pengawas dilengkapi indikator manajemen rumah sakit yang lebih komprehensif. Ini mencakup kondisi keuangan, produktivitas SDM, dan efisiensi pengelolaan layanan.
Pemerintah daerah perlu memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kinerja pelayanan dan pengelolaan rumah sakit. Harisson menegaskan, "Kalau tenaga medis orientasinya efektivitas pelayanan kepada pasien, maka manajemen rumah sakit harus memastikan pelayanan itu juga berjalan efisien. Dua-duanya harus berjalan beriringan."
Manajemen diminta mulai menampilkan indikator pelayanan rawat inap seperti Bed Occupancy Ratio (BOR), Length of Stay (LOS), Turn Over Interval (TOI), dan Bed Turn Over (BTO). Data ini penting untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kinerja layanan.
Selain itu, aspek keuangan juga menjadi sorotan penting, termasuk rasio biaya terhadap pendapatan, cost recovery rate, dan return of investment (ROI) pemerintah terhadap rumah sakit. Hal ini untuk mengukur efisiensi pengelolaan secara finansial.
Investasi Pemerintah untuk Peningkatan Pelayanan
Harisson menegaskan bahwa pemerintah telah berinvestasi besar pada RSUD dr. Soedarso. Oleh karena itu, dampak investasi ini harus terlihat jelas dalam peningkatan pelayanan masyarakat. Ia menyatakan, "Kami perlu mengetahui bagaimana efisiensi pengelolaan rumah sakit. Pemerintah sudah berinvestasi besar dan tentu harus terlihat dampaknya terhadap peningkatan pelayanan masyarakat."
Penting bagi pemerintah daerah untuk mengetahui efisiensi pengelolaan rumah sakit. Seluruh pendapatan rumah sakit pada akhirnya akan dikembalikan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Sekda memastikan bahwa dana rumah sakit tidak pernah digunakan untuk hal lain di luar peningkatan pelayanan. "Tidak pernah uang rumah sakit dipakai untuk hal lain. Semua dikembalikan lagi untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit," katanya.
Tugas bersama adalah memastikan indikator yang masih "merah" bisa menjadi "kuning", dan yang "kuning" menjadi "hijau". "Anda semua ahlinya. Tinggal bagaimana indikator yang masih merah bisa menjadi kuning, dan yang kuning menjadi hijau. Itu tugas bersama agar pelayanan semakin baik ke depannya," ujarnya.
Sumber: AntaraNews